“Wajah kehidupan ini digerakkan oleh hubungan yang sakral antara manusia Papua dan tanahnya, yang diikat oleh etos kerja warisan leluhur. Mereka adalah masyarakat adat yang menjaga budayanya. Bagi mereka, napas kehidupan itu bersemayam dalam setiap butir buah nota yang mereka tanam.”
Matahari siang itu masih bersinar cerah. Awan-awan tebal belum tampak menggantung, menyelimuti puncak Gunung Ogiyai dengan partikel saljunya seperti yang biasa terjadi. Saya baru saja menyelesaikan urusan di Obano—tanah warisan leluhur saya—dan bersiap melintasi jalur tersebut. Menatap langit Papua yang begitu bersih, rasanya detak nadi ini ikut tersenyum optimis.
Namun, perjalanan ini punya tantangannya sendiri. Sudah lebih dari sepuluh tahun, tiga titik perlintasan yang akan saya lewati belum juga disentuh pembangunan jembatan. Jalur ini berada di ujung Kampung Kotomoma (Distrik Paniai Barat) dan ujung Kampung Edegepo/Pugatadi II (Distrik Kamu Utara). Bagi para pengendara motor, melintasi aliran sungai di sini selalu memacu adrenalin. Apalagi kalau hujan deras turun; air sungai langsung meluap menjadi banjir, dan bongkahan batu besar berhamburan di tengah arus.
Sekitar pukul setengah dua siang, saya mulai memacu kendaraan. Saya harus singgah dulu di Kimupugi dan Idakotu Dogiyai karena ingin menagih kelanjutan obrolan kami sehari sebelumnya di Ekemanida tentang jenis tanaman apa saja yang akan kita tanam di kebun.
Kemarin, saya dan seorang teman staf lapangan Yapkema di Dogiyai sempat berdiskusi panjang. Kami berencana mendatangi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Dogiyai. Tujuannya jelas: menagih kewajiban negara dalam memenuhi hak-hak ekonomi Orang Asli Papua (OAP) sebagaimana amanat Undang-Undang Otonomi Khusus. Kami tidak ingin aturan itu hanya berakhir sebagai kertas kosong atau pemanis retorika, sementara Mama-mama Papua di lapangan sama sekali tidak tersentuh bantuan nyata.
Yapkema, Obrolan Bibit Nota, dan Rayuan Modernisasi
Pada kesempatan lain, di sela-sela sebuah diskusi persiapan sebuah agenda kolaborasi Yapkema, ada agenda tambahan yang justru terasa sangat hangat untuk diobrolkan. Secara antropologi, kami yang sedang berkumpul itu lahir dan dibesarkan dalam rahim tradisi suku Mee di Papua Melanesia. Maka, obrolan kami pun mengalir natural seputar bertahan hidup lewat cara-cara tradisional: mengelola tanah warisan menjadi lahan produktif, alias berkebun.
Melalui wadah yang dijembatani oleh Yapkema, kami disatukan untuk duduk bersama, bercerita, dan merefleksikan diri. Kami mencoba mengangkat kembali kisah-kisah lokal yang seringkali tenggelam oleh arus modernisasi yang begitu deras. Zaman sekarang, ritme hidup kita dari bangun tidur sampai kembali terpejam seolah disetir oleh gaya hidup modern. Memang tidak ada paksaan fisik, tapi rayuannya yang halus pelan-pelan membuat banyak orang lupa cara berkebun dan menjauh dari akar adat mereka sendiri.
Baca Juga : “Nanti datang foto ka”: Potret Eksistensi Perjuangan Ekonomi Mama Papua
Dari ruang diskusi yang dibuka Yapkema ini, kemudian di lapangan muncul sebuah teka-teki menarik tentang mana lahan yang sudah diolah dan mana yang belum. “Aniko tota Iyo kodoto ewa“* (Saya hanya punya bibit nota yang sudah ada sejak dulu), tutur Mama Regina Goo.
Istilah “Tota Iyo” ini digunakan untuk menegaskan bahwa nota (ubi jalar) tersebut adalah jenis asli turunan dari leluhur suku Mee. Ini berbeda dengan jenis nota baru yang muncul belakangan setelah adanya interaksi dengan dunia luar.
Tak lama, Mama Maria Gane menyahut dengan penuh semangat, “Topaika motite, menoka motine!” Seruan ini menjadi lampu hijau bagi kami untuk saling berbagi bibit. Kebetulan, saya memang sedang mencari bibit nota jenis Yepo dan Woyaiyo. Dua minggu lalu, saya dan teman-teman sudah membuka lahan di Nabire bagian Kaladiri dalam. Lahan itu kini sudah siap, tinggal menunggu bibit nota tertanam di sana. Bagi saya, menyatukan tanah dan bibit ini ibarat menyatukan jasmani dan rohani—sebuah kekuatan yang utuh.
Dari pekarangan rumah warga, saya berhasil mengumpulkan beberapa varietas nota lokal seperti Obo Pini, Woya Yepo, dan Kuning Telur. Selain itu, saya juga membawa jenis lain seperti Kapoubo dan Nota Ungu pemberian dari istri Kepala Suku Paniai Barat di Obano. Jenis-jenis ini merupakan varietas yang lahir setelah adanya kontak dengan dunia luar. Tidak lupa, saya juga membawa Nota Kadaga (atau Kadakaga dalam sebutan suku Mee) langsung dari kebun pribadi saya di Obano.
Perempuan Papua: Pembawa Bibit Kehidupan
Dalam perjalanan menuju Nabire, pandangan saya disuguhi oleh pemandangan yang sudah karib di sepanjang jalan. Saya berpapasan dengan sekitar 20 orang perempuan yang sedang memikul nota. Fenomena ini memperkuat pengamatan saya selama ini bahwa perempuan adalah motor utama dalam aktivitas berkebun. Alasan ini pula yang membuat saya bersikeras dalam diskusi program agar keterwakilan gender menjadi indikator penting dalam kegiatan kolaborasi yang akan dilaksanakan mendatang.
Salah satu staf Yapkema, mengusulkan kuota minimal 20% untuk keterwakilan perempuan. Angka ini tentu tidak kaku, bisa bertambah sesuai kondisi, yang penting keterlibatan mereka nyata. Sebab, merekalah yang paling setia menjaga tradisi ini. Sepanjang jalur Mapia-Siriwo saja, saya menghitung ada 13 perempuan yang berjalan kaki memikul noken berlapis berisi nota. Sisanya saya temui di sepanjang jalan antara ujung Kampung Kotomoma, Wiyogei, hingga Moanemani Dogiyai.
Tentu saja ini tidak mengecilkan peran kaum laki-laki. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak perempuan, saya juga melihat empat orang paitua (bapak-bapak) berjalan pulang dari hutan dan kebun. Dua di antaranya memikul noken besar berisi nota yang digantungkan di leher belakang mereka, sementara dua lainnya membawa anak panah dan menggenggam parang.
Potret ini bukanlah pemandangan tanpa makna. Ini juga bukan sekadar hobi pengisi waktu luang bagi pegawai negeri atau pekerja swasta di kala senggang. Ini adalah potret jujur dari ‘wajah kehidupan’ yang asli. Sebuah realitas yang bertahan di tengah gempuran zaman modern, sebuah pilihan hidup yang berjarak dari hiruk-pikuk dunia instan yang seringkali memanjakan tapi melenakan.
Wajah kehidupan ini digerakkan oleh hubungan yang sakral antara manusia Papua dan tanahnya, yang diikat oleh etos kerja warisan leluhur. Mereka adalah masyarakat adat yang menjaga budayanya. Bagi mereka, napas kehidupan itu bersemayam dalam setiap butir buah nota yang mereka tanam. Nota yang nantinya akan dimasak di atas tungku api menggunakan serpihan kayu kering dari hutan mereka sendiri.
Menjaga Asa
Meski terlihat tangguh, bukan berarti kehidupan ini bebas dari ancaman. Tantangan terbesar justru datang dari generasi muda saat ini. Mereka yang seharusnya menerima estafet tanggung jawab ini pelan-pelan mulai cuci tangan. Tanpa sadar, hubungan mereka dengan tanah adat mulai membeku dan berjarak. Situasi kritis inilah yang harus direspons dengan aksi yang nyata. Melalui program Owadaa, Yapkema mencoba membangun jembatan tersebut.
Tujuannya adalah merajut kembali kedekatan mereka agar mau kembali ke akar kehidupan: memeluk tradisi, mengelola tanah, dan menyelamatkan hutan mereka.
Lewat ruang ini pula arapannya muncul ‘bibit-bibit kehidupan’ baru yang bersinar dalam diri anak-anak muda Papua. Semoga mereka kembali mencintai warisan leluhur, cerdas menyikapi modernisasi, dan yang paling penting: mampu menentukan nasib masa depan mereka sendiri di atas tanahnya.
Oleh : Pigai Wegobi/Yapkema
