Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Tertahan di KM 100: Merawat Asa Kesehatan Keluarga Dalam Kerentanan Konflik di Dogiyai

Tertahan di KM 100: Merawat Asa Kesehatan Keluarga Dalam Kerentanan Konflik di Dogiyai

Sebuah Catatan Perjalanan Implementasi Program Kesehatan Keluarga Yapkema

Suster Lidia Adii sedang mengajarkan praktek cuci tangan kepada anak-anak (Dok. Yapkema)
Suster Lidia Adii sedang mengajarkan praktek cuci tangan kepada anak-anak (Dok. Yapkema)

​“Sekilas kegiatan seperti ini terkesan tidak istimewa, remeh, dan pesan-pesan yang disampaikan tidak menyentuh hal-hal yang besar. Tetapi kita sering lupa, kesehatan justru berawal dari bagaimana cara hidup dan apa yang masuk ke dalam tubuh kita.”

Pagi itu, mentari mulai menyembul perlahan dari balik gunung di ufuk timur, menghapus sisa dingin yang menggelayut. Dengan sepeda motor bebek bermerek Revo—sebuah kendaraan penuh kenangan pemberian ayah sebelas tahun lalu—saya bergegas membelah jalanan. Setelah mengantar adik-adik ke gereja, saya menyempatkan diri mampir ke Terminal Pasar Karang Tumaritis untuk mengecek mobil angkutan lintas kabupaten yang menuju Kabupaten Dogiyai. Di sana, dalam riuhnya pagi yang tak biasa, saya berpapasan dengan Ibu Rut yang baru saja turun dari ojek.

Ibu Rut adalah seorang guru di TK Anugerah Ekamanida sekaligus staf lapangan Yapkema Papua untuk Program Owadaa, sementara saya memegang tanggung jawab sebagai Manajer Kesehatan dalam program ini. Dua hari sebelumnya, kami telah merancang agenda penting: melaksanakan *Penyuluhan Membangun Keluarga Sehat* pada hari Senin, 11 Mei 2026, dengan sasaran orang tua, wali murid, dan siswa di tempat Ibu Rut mengajar. Setelah menyepakati ongkos Rp250.000 dengan seorang sopir, saya dan Ibu Rut—yang saat itu ditemani suami dan anaknya—bersiap memulai perjalanan menuju Dogiyai menggunakan mobil Hilux oranye-hitam.

Sepeda motor Revo, sebuah kendaraan penuh kenangan pemberian Ayah sebelas tahun lalu (Dok. Pribadi Agustina Doo)
Sepeda motor Revo, sebuah kendaraan penuh kenangan pemberian Ayah sebelas tahun lalu (Dok. Pribadi Agustina Doo)

Seperti biasa, perjalanan menaiki kaki Dogiyai selalu menyuguhkan bentangan alam yang tenang nan indah. Hutan yang sunyi dipecah raungan mobil dan nyanyian burung nyaris tak berkesudahan. Pepohonan yang diam membiarkan gesekan ranting seakan berbisik rahasia-rahasia tak tampak di balik rimbunnya dedaunan, seperti memperingatkan bahaya sentuhan kuasa rakus di balik keindahan semesta alam ini. Udara yang kami hirup, terasa sejuk seperti habis minum air es setelah lari satu putaran di lapangan bandara lama Nabire. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Perasaan nyaman ini juga membawa ingatan saya melayang ke masa kecil, saat Ayah sering membawa kami sekeluarga pulang berlibur ke kampung halaman. 

Namun, kedamaian itu mendadak luruh saat mobil kami tiba di depan deretan ruko dan warung makan di KM 100. Di titik ini, sinyal internet kembali tertangkap, dan gawai kami langsung dibanjiri notifikasi berita duka: seorang pemuda asli Dogiyai berinisial NT dikabarkan tewas tertembak oleh pihak kepolisian di Kampung Idadagi, Dogiyai, 10 Mei 2026.

Kabar angin dan video yang beredar seketika memicu ketegangan di antara para sopir dan penumpang yang sedang beristirahat. Trauma kolektif kembali membayang; belum hilang dari ingatan peristiwa pada 31 Maret 2026, ketika seorang polisi asli Orang Asli Papua (OAP) berinisial BJE ditemukan tewas, yang kemudian berbuntut pada penembakan brutal hingga merenggut banyak nyawa warga sipil Dogiyai. 

Situasi yang mencekam ini dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan penumpang. Dengan berat hati, sopir kami memutuskan memutar balik kemudi kembali ke Kota Nabire demi keamanan bersama. Kegiatan yang sudah dirancang matang pun terpaksa ditunda.

Ditengah Kerentanan, Giat Penyuluhan Kesehatan Mesti Tetap Diupayakan

Akibat situasi keamanan yang belum kondusif, saya terpaksa tertahan selama beberapa hari di Nabire, sementara Ibu Rut dan keluarganya berhasil berangkat lebih dahulu. Penundaan ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan molornya tanggung jawab saya sebagai Manajer Kesehatan.

Titik terang muncul pada hari Kamis (14/5), saat Ibu Rut memberi kabar bahwa kondisi di Dogiyai berangsur-angsur membaik. Saya memanfaatkan sisa hari di Nabire untuk memeriksa kembali seluruh logistik penyuluhan dengan teliti. Setelah memastikan semuanya siap, saya mengabari Ibu Rut bahwa saya akan menyusul berangkat pada hari Minggu, dan kegiatan penyuluhan dijadwal ulang pada Senin, 18 Mei 2026.

Kegiatan Penyuluhan Membangun Keluarga Sehat sedang berlangsung di Dogiyai (Dok. Yapkema)
Kegiatan Penyuluhan Membangun Keluarga Sehat sedang berlangsung di Dogiyai (Dok. Yapkema)

Senin siang, di bawah terik matahari Dogiyai, saya akhirnya tiba di pos koordinasi Yapkema Papua di Idakotu, Dogiyai. Di dalam aula, Ibu Rut bersama keluarganya sedang sibuk menata meja dan bangku. Kami segera memajang spanduk utama bertajuk *“Membangun Keluarga Sehat: Penguatan PHBS, Pola Asuh, dan Pola Konsumsi”* sebelum ruangan dipenuhi oleh para orang tua, wali murid, dan anak-anak yang antusias. Tepat pukul 11.00 WIT, acara resmi dimulai.

Setelah sapaan hangat “Koyaoo” oleh Rita Tigi dan doa pembuka dari Ibu Guru Yulita, saya berdiri memberikan sambutan mewakili Direktur Yapkema Papua. Saya menegaskan bahwa penyuluhan ini adalah bentuk kepedulian—tindak lanjut dari survei kesehatan bulan Februari—untuk membersamai masyarakat mengubah kebiasaan hidup menjadi lebih bersih dan sehat.

Agustina Doo sedang membagikan hasil survey kesehatan Yapkema kepada peserta (Dok. Yapkema)
Agustina Doo sedang membagikan hasil survey kesehatan Yapkema kepada peserta (Dok. Yapkema)

Saya kemudian membagikan selembar kertas hasil survei dari 11 responden. Secara umum, warga sudah mulai menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Namun, masih ada catatan kritis yang perlu dibenahi, seperti kebiasaan menggosok gigi, mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah pada tempatnya, serta menghindari konsumsi makanan instan dan air mentah. Para orang tua tampak mengangguk-anggukkan kepala; wajah mereka merefleksikan kesadaran sekaligus tantangan nyata untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Teladan Orang Tua dan Catatan Penting Suster Lidia

Suster Lidia Adii dari Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai hadir sebagai pembicara utama. Beliau sangat mengapresiasi kerja Yapkema Papua yang fokus pada kemanusiaan dan pangan lokal di Meewodidee. Dalam pemaparannya, Suster Lidia menekankan bahwa anak adalah peniru orang tua sehingga perubahan harus dimulai dari rumah: jika orang tua disiplin menyikat gigi, mencuci tangan, mandi, dan tidak buang air sembarangan, anak-anak akan punya teladan dan akan menirunya.

Suster Lidia Adii sedang menyampaikan materi penyuluhan kesehatan (Dok. Yapkema)
Suster Lidia Adii sedang menyampaikan materi penyuluhan kesehatan (Dok. Yapkema)

Beliau juga mengangkat 3 poin penting terkait konsumsi keluarga, yaitu:

Pertama, pengawasan air minum: Orang tua harus tegas menyediakan dan mengawasi agar anak hanya minum air yang sudah dimasak. Kedua, sarapan di rumah: Memastikan anak sarapan sebelum sekolah agar tidak jajan sembarangan di luar. Ketigapenyediaan pangan lokal: “Usahakan makanan itu harus ada di rumah. Kalau tidak ada beras, masak ubi,” tegasnya.

Ketika Ibu Agustina Tigi bertanya cara mengatasi anak yang kecanduan minuman serbuk instan, Suster Lidia menjawab dengan lugas bahwa orang tua harus menjadi contoh nyata. Jika ingin anak berhenti, maka orang tua pun harus berkomitmen total untuk tidak mengkonsumsinya.

Lihat Juga : Infografis Kesehatan Yapkema

Aksi dan Komitmen Bersama

Edukasi langsung berlanjut ke aksi praktek di halaman aula. Anak-anak dengan cermat belajar cara menyikat gigi dan mencuci tangan menggunakan sabun dibimbing langsung oleh Suster Lidia. Mereka juga membawa pulang paket sikat gigi gratis agar bisa langsung mempraktekkannya di rumah.

Suster Lidia Adii mengajarkan anak-anak praktek gosok gigi sesuai anjuran kesehatan (Dok. Yapkema)
Suster Lidia Adii mengajarkan anak-anak praktek gosok gigi sesuai anjuran kesehatan (Dok. Yapkema)

Sebagai penutup, Yapkema Papua, perwakilan TK Anugerah, dan para orang tua duduk bersama menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL). Lahirlah komitmen bersama untuk mengurangi makanan instan, membatasi minuman serbuk, dan berhenti mengkonsumsi air mentah di lingkungan keluarga.

Sekilas kegiatan seperti ini terkesan tidak istimewa, remeh, dan pesan-pesan yang disampaikan Suster Lidia tidak menyentuh hal-hal yang besar terkait kesehatan. Tetapi kita sering lupa, kesehatan justru berawal dari bagaimana cara hidup dan apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Dua hal yang pokok ini dimulai dari tindakan yang sederhana yaitu: membiasakan pola makan sehat, air minum bersih yang telah dimasak, serta kebersihan tubuh.

Foto bersama setelah selesai kegiatan penyuluhan (Dok. Yapkema)
Foto bersama setelah selesai kegiatan penyuluhan (Dok. Yapkema)

Lewat tengah hari, rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Yohanes Tebai. Setelah sesi foto bersama dan makan siang hangat, para apeserta pulang dengan membawa pesan bahwa keluarga yang sehat dimulai dari pembiasaan hidup sehat di rumah oleh seluruh anggota keluarga, khususnya orang tua dan anak-anaknya.***

Oleh : Agustina Doo/Yapkema

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *