“Kalau tra (tidak) cegah dini baru jatuh sakit, lalu berusaha berobat dengan berbagai cara, itu sudah terlambat. Minum obat sebanyak apa pun, ujungnya tetap kematian jika imun sudah habis. Makanya, pencegahan dini adalah kunci gembok terakhir.”
Subuh baru saja pecah di Nabire, tetapi hiruk-pikuk kota sudah menyerupai dentang lonceng gereja dengan ketukan tinggi. Bukan suara alam yang menyambut pagi, melainkan lengkingan klakson kendaraan dan teriakan lantang para pendukung tim sepak bola dunia. Di sepanjang Pantai MAF, kota Nabire, Papua Tengah, cahaya lampu memantulkan wajah-wajah yang penuh hiasan bendera, mulai dari kening hingga seluruh tubuh. Spion motor dan spakbor mobil mengibar-ngibarkan bendera Spanyol, Argentina, Brasil, hingga Senegal. “Spanyol menang! Messi terbaik! Ronaldo trada lawan!” seru mereka dalam pawai keliling kota.
Di tengah euforia ini, seorang penggemar berat Messi mengaku rela begadang hingga subuh demi pawai. Ketika ditanya soal keselamatan, ia menjawab spontan, “Soal kesehatan dan keselamatan jarang saya pikirkan.”
Bagi saya, kebanggaan saat tim kesayangan menang terasa berlebihan, apalagi jika kepedulian terhadap kondisi kesehatan sendiri nyaris nihil. Dalam hati saya bergumam: “Tahukah mereka ada ancaman nyata membayangi seperti HIV/AIDS yang sedang mengepung di sekeliling generasi muda Nabire saat ini?”
Realitas Angka di Papua Tengah
Kebanggaan sepak bola hanyalah sensasi sesaat, namun urusan kesehatan adalah tentang keberlangsungan hidup.
Berdasarkan data, kasus HIV/AIDS di Provinsi Papua Tengah telah melonjak hingga 23.000 kasus, dengan wilayah Nabire dan Mimika menyumbang sekitar 10.000 kasus. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan harapan hidup manusia yang didominasi oleh generasi muda.
Baca Juga : Dua Provinsi Darurat HIV/AIDS, Papua Tembus 23.500, Papua Tengah 22.868 Kasus
Bergerak dari urgensi tersebut, Yayasan Pemberdayaan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua mengambil tanggung jawab melalui Program Kepemudaan sejak awal 2025. Yapkema secara berusaha ambil bagian untuk melakukan penyadaran menyasar tiga basis utama yang rentan: sekolah dan kampus, serta komunitas dan asrama-asrama mahasiswa, seperti Asrama Puncak, Asrama Putri Paniai, Asrama Intan Jaya, dan STT Walter Post II Nabire.
Ditempat-tempat itu, Yapkema menyelenggarakan pelatihan edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS.
Saya ingin membayangkan andai energi, atribut, dan koordinasi massa yang luar biasa pada pawai Piala Dunia itu digunakan untuk mengkampanyekan pencegahan HIV/AIDS. Jika masyarakat bersatu menyerukan tes kesehatan massal dan membuang stigma negatif, dampaknya akan jauh lebih nyata. Sebab, yang dipertaruhkan hari ini bukan lagi trofi emas, melainkan masa depan dan keberlangsungan generasi Papua.
Mengunci Celah HIV/AIDS Lewat Edukasi Reproduksi di Asrama Putri Paniai
Suasana di Asrama Putri Paniai, Kalibobo, Nabire, pada Senin, 22 Juni 2026, jauh dari keriuhan piala dunia. Sore itu ruang aula terasa khidmat, dipenuhi suara berat dialek Melayu-Papua dari dr. Daniel Wakei, salah satu dokter umum asli Papua yang menaruh perhatian terhadap penanganan HIV/AIDS.
Di bawah panduan MC Yosinta Doo (Staf Yapkema) dan moderator Agustina Doo (Manajer Kesehatan), pelatihan bertema “Cegah dan Tangani HIV/AIDS: Pengenalan Alat-Alat Reproduksi dan Memahami Fungsinya” ini berjalan interaktif. Untuk mencairkan suasana, panitia menyajikan kopi arabika Modio, jagung dan kacang rebus.
“Kita semua adalah pemenang karena berhasil lolos dari jutaan sperma di rahim ibu. Namun, kita akan jauh lebih menjadi pemenang jika mampu membentengi diri, keluarga, dan sesama melalui pencegahan HIV/AIDS sejak dini.” — demikian ujar Herman Degei, Koordinator Program Yapkema pada kesempatan itu.
Baca Juga : Seminar Kesehatan “Cegah IMS di Kalangan Muda”, YAPKEMA Papua dan STT Walter Post Perkuat Kolaborasi
Memahami Tubuh Sendiri Sebagai Kunci Pencegahan
Edukasi diawali dengan pengondisian peserta—yang didominasi perempuan—untuk menuliskan pemahaman awal mereka mengenai organ reproduksi pada sticky notes. dr. Daniel kemudian membedah proses biologis manusia dari masa pubertas, pengaruh hormon testosteron pada pria, hingga mekanisme alami seperti menstruasi dan mimpi
basah.
“Ketika seseorang telah mengalami menstruasi atau mimpi basah, secara biologis organ reproduksinya telah matang. Di sinilah pentingnya kemampuan berpikir dan fungsi otak untuk mengendalikan emosi serta dorongan seksual agar tidak terjerumus pada perilaku berisiko,” jelas dr. Daniel.
Ia juga memaparkan berbagai Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sering kali tidak memicu rasa sakit pada awalnya namun mematikan, seperti Sifilis, Gonore, Herpes Genitalis, dan HIV. dr. Daniel juga menegaskan pentingnya mendeteksi kesehatan sejak dini:
“Kalau tra (tidak) cegah dini baru jatuh sakit, lalu berusaha berobat dengan berbagai cara, itu sudah terlambat. Minum obat sebanyak apa pun, ujungnya tetap kematian jika imun sudah habis. Makanya, pencegahan dini adalah kunci gembok terakhir.”
Diskusi Interaktif: Mitos dan Fakta HIV/AIDS
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung lebih dari tiga jam, para peserta aktif melayangkan pertanyaan kritis. Beberapa topik pertanyaan yang diajukan adalah:
- Cara Penularan: dr. Daniel menjelaskan bahwa HIV hanya menular melalui cairan tubuh tertentu—seperti darah, sperma, cairan vagina, dan ASI—serta penggunaan jarum suntik atau silet secara bergantian.
- Metode ABCD: Penanganan utama ditekankan melalui prinsip A (Abstinence – tidak seks bebas), B (Be Faithful – setia pada pasangan), C (Condom – penggunaan kondom pada hubungan berisiko), dan D (Drugs – jauhi narkoba/jarum suntik bergantian).
- Stigma Kemandulan & Gender: Menjawab kekhawatiran tentang perempuan di wilayah Meepago yang kerap disalahkan jika pasangan tidak memiliki anak, dr. Daniel meluruskan bahwa ketidaksuburan bisa terjadi pada pria maupun perempuan, dan jenis kelamin anak ditentukan oleh sperma laki-laki, bukan sel telur perempuan.
- Kontak Sosial Berbagi Rumah: Dokter menegaskan bahwa tinggal serumah, berjabat tangan, atau berbagi alat makan dengan Orang Dengan HIV (ODHIV) tidak akan menularkan virus tersebut.
- Ketersediaan Obat: Hingga kini belum ada obat yang menyembuhkan HIV secara total. Namun, konsumsi Antiretroviral (ARV) secara rutin seumur hidup sangat efektif menekan aktivitas virus hingga “tertidur”, menjaga daya tahan tubuh, dan mencegah penularan ke orang lain.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WIT, pelatihan ditutup dengan deklarasi komitmen bersama pada kertas manila di dinding aula. Pesan-pesan yang tertulis merefleksikan kesadaran baru: pentingnya kejujuran, kesetiaan kepada pasangan, serta keberanian untuk memeriksakan status kesehatan di puskesmas atau rumah sakit terdekat tanpa rasa takut dihakimi.***
Oleh : Mis Murib/Yapkema
