“Menjadi pintar dan cerdas tidak akan cukup jika kita mengabaikan kesehatan diri dan lingkungan. Langkah kaki kami mungkin berhenti hari ini, namun perjalanan panjang demi kesehatan masyarakat Papua sesungguhnya masih jauh dari kata selesai.”
Pagi itu Sabtu, 23 Mei 2026, kabut perlahan bergeser kembali ke muasalnya dan merelakan matahari menyapa bumi, saya telah berdiri di halaman Gereja Katolik Paroki St. Yohanes Pemandi, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIT. Hari ini adalah momen penting yang telah saya persiapkan beberapa waktu belakangan: Yapkema Papua menggelar penyuluhan Program Kesehatan *Owaadaa*, yang menyasar orang tua dan wali murid dari SD Negeri Watiyai serta TK/PAUD Komugai.
Di halaman gereja, Kakak Nikson, staf lapangan Yapkema di Deiyai, sudah bersiap dengan ponsel dan kunci aula di tangannya. Setelah saling menyapa hangat, kami bergegas membuka pintu aula dan bahu-membahu mempersiapkan ruangan.
Tidak berselang lama, halaman gereja mulai diwarnai kehadiran para Mama. Mereka berkumpul membentuk lingkaran kecil, sesekali melempar senyum gembira ke arah saya dari kejauhan. Didorong rasa penasaran sekaligus keinginan untuk membaur, saya melangkah mendekat.
Sebuah Jembatan Emosional
Binar wajah mereka terpancar nyata saat kami saling menjabat tangan. Di tengah keterbatasan bahasa—saya yang belum lancar berbahasa Mee dan sebagian mama yang hanya memahami Bahasa Indonesia secara pasif—sebuah percakapan yang menyentuh hati justru tercipta.
Saat saya memperkenalkan nama dan marga, seorang mama langsung menebak, *”Anak dari Apogo to?”* Saya mengangguk cepat. Mama yang lain menimpali dengan menebak kakek dari garis ayah saya, dan tebakan mereka kembali tepat. Ketika mereka menyadari saya adalah bagian dari keluarga besar Yapkema yang selama ini mendampingi warga Watiyai, rasa haru dan bangga seketika membuncah. Keasingan itu luruh, digantikan keakraban yang hangat.
Pelatihan PHBS, Pola Asuh dan Pola Konsumsi bersama Naomi Edowai
Sebagai Manager Kesehatan Yapkema Papua, saya berdiri di depan aula memberikan sambutan mewakili direktur yayasan. Memandangi wajah-wajah penuh harap di depan saya, yang mayoritas adalah perempuan, sebuah kutipan dari Kardinal Mermillod terngiang di kepala: *“Seorang ibu dapat menggantikan semua yang lain, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.”*
Dalam sambutan tersebut, saya menekankan betapa krusialnya peran orang tua dalam menyaring apa pun yang masuk ke dalam tubuh anak-anak demi mewujudkan tema besar kami: Membangun Keluarga Sehat.
Temuan Lapangan & Edukasi Interaktif
Kami membagikan secarik kertas berisi hasil pendataan Yapkema pada pertengahan Maret 2026 terkait PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), Pola Asuh, dan Pola Konsumsi di kedua sekolah. Data-data tersebut menunjukkan pola hidup sehat anak-anak mulai terbentuk, ditandai dengan kebiasaan makan teratur, sarapan, dan dukungan emosional orang tua yang kuat. Namun tantangan masih membentang seperti masih rendahnya kedisiplinan menjaga kebersihan diri, pengawasan konsumsi jajanan, serta kebiasaan menyediakan air minum yang matang.
Lihat Juga : Infografis Kesehatan Yapkema


Ibu Naomi Edowai, praktisi kesehatan masyarakat Deiyai sekaligus pembicara utama, menghidupkan suasana aula dengan penyampaiannya yang interaktif menggunakan dua bahasa: bahasa Mee dan Bahasa Indonesia. Beliau menegaskan bahwa *keluarga yang sehat adalah keluarga yang sehat secara fisik dan mental*.
Penyuluhan hari itu melahirkan komitmen kongkret bersama: *Orang tua sepakat untuk selalu mengonsumsi air masak dan mengawasi anak-anak agar tidak meminum air mentah*. Agenda ditutup dengan doa, foto bersama, dan kebersamaan di meja makan.
Menembus Dingin Menuju Paniai
Hari masih siang, baru pukul 14.00 WIT di 23 Mei, namun rintik hujan telah membasahi aspal di sekitar Terminal Waghete. Dinginnya Deiyai saat hujan begitu menggigit, membuat saya merindukan sengatan matahari Nabire yang biasanya saya keluhkan.
Saya ditemani kakak perempuan saya, Mabi. Sudah 30 menit kami berteduh di emperan kios pasar, menanti angkutan menuju Kabupaten Enarotali. Berkat pengalaman Kakak Mabi yang sudah dua tahun mengabdi sebagai guru honorer di sini, kami berhasil mendapatkan mobil Avanza hitam yang menuju Paniai. Dalam perjalanan yang tertutup rapat karena hujan deras, rasa lelah membuat saya tertidur pulas hingga tiba di tujuan.
Baca juga : Tertahan di KM 100: Merawat Asa Kesehatan Keluarga Dalam Kerentanan Konflik di Dogiyai
Menentukan Masa Depan Melalui Pola Didik
Pada Senin, 25 Mei 2026, pelatihan kesehatan berlanjut di Paniai. Pagi yang cerah di Eropa (istilah untuk Enarotali Paniai) membakar semangat kami. Para guru TK/PAUD Yegeka menyambut kami dengan antusiasme tinggi, mempersiapkan ruang kelas besar yang akan menjadi saksi penyuluhan kesehatan bagi 20 keluarga dampingan (10 dari TK Yegeka dan 10 dari SD Yegeka).
Tepat pukul 09.30 WIT, ruangan telah padat. Setelah doa pembuka, saya menyampaikan tujuan Yapkema: membawa perubahan baik yang sinkron dengan kehidupan masyarakat, persis seperti yang telah kami lakukan di Dogiyai dan Deiyai.
Edukasi bersama dr. Hermalina Sabu, S.Ked
Untuk mengupas data PHBS di Paniai—yang menunjukkan pentingnya penguatan kebersihan diri dan konsumsi air matang—kami menghadirkan *dr. Hermalina Sabu, S.Ked*, seorang dokter umum dari Puskesmas Enarotali sekaligus anggota Serikat Kedokteran Papua (SKP).
Ia memaparkan beberapa aspek dasar yang penting dalam edukasi kesehatan & parenting:
PHBS dimulai dengan kebiasaan cuci tangan dan menjaga kebersihan gigi. Pola Asuh ditandai dengan kasih sayang yang ditunjukkan, komunikasi disiplin, dan kontrol tumbuh-kembang. Pola konsumsi sehat dapat dimulai dengan mengurangi makanan instan/manisan buatan, serta wajib mengonsumsi air bersih yang dimasak.
Anak-anak kemudian diajak mempraktikkan cara menyikat gigi dan mencuci tangan di halaman sekolah. Meski gerimis mulai turun, tawa riang mereka saat menerima paket sikat gigi baru tidak surut sedikit pun.
Sebuah Dialog Kepedulian
Saat kembali ke kelas, sebuah pertanyaan reflektif lahir dari seorang ayah bernama Stefanus Degei: *”Anak-anak kita lebih suka makan makanan instan ketimbang makanan lokal di rumah. Bagaimana kita mengatasi hal itu?”* Pertanyaan ini adalah wujud kecemasan seorang ayah yang peduli pada masa depan anaknya.
dr. Hermalina menjawab: *”Kuncinya ada pada pola didik kita sebagai orang tua. Ketika kita memberi mereka uang, mereka akan membeli makanan instan. Kita tidak bisa menyalahkan penjual saja. Mendidik anak sejak usia dini adalah tanggung jawab mutlak kita di rumah.”*
Jawaban itu menambah pemahaman seluruh orang tua. Sebagai rencana tindak lanjut (monitoring tahap I), disepakati komitmen bersama untuk *mengurangi konsumsi makanan/minuman instan serta memperketat penyediaan air masak di rumah*. Pukul 12.30 WIT, kegiatan diakhiri dengan hangat melalui doa, foto bersama, dan makan siang.
Refleksi: Perjalanan yang Belum Usai
Sebelum kegelapan benar-benar menyelimuti langit Paniai, saya berdiri di halaman sekolah dan menarik napas dalam-dalam. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam dada—sebuah persilangan antara rasa puas dan cemas.
Puas karena telah ikut menabur benih baik bagi masa depan anak-anak Papua. Namun ada pula rasa cemas, jika pengetahuan yang dibagikan hari ini menguap begitu saja tanpa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi pintar dan cerdas tidak akan cukup jika kita mengabaikan kesehatan diri dan lingkungan. Langkah kaki kami mungkin berhenti hari ini, namun perjalanan panjang demi kesehatan masyarakat Papua sesungguhnya masih jauh dari kata selesai.***
Oleh : Agustina Doo/Yapkema
