“Ketakutan tidak menyelamatkan seseorang. Stigmatisasi juga tidak menyelamatkan siapa pun. Karena itu, kita harus berani dan membiasakan diri untuk melakukan pemeriksaan.”
Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua kembali menggelar Pelatihan Tematik II dengan tema “Pengenalan PMS dan HIV/AIDS: Mengapa Kita Semua Perlu Ikut Serta Mencegah?”
Sebelumnya, YAPKEMA Papua telah menggelar Pelatihan Tematik I di dua tempat pada 22 Juni 2026, yakni Asrama Puncak dan Asrama Putri Paniai, dengan tema “Pengenalan Alat-Alat Reproduksi Kita dan Fungsinya.” Dalam pelatihan tersebut, peserta diarahkan untuk mengenal organ-organ reproduksi dan memahami fungsinya serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi agar tidak digunakan untuk aktivitas seksual yang dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan.
Pada Pelatihan Tematik II (29 Agustus 2026), YAPKEMA Papua menghadirkan dr. Daniel Wakai sebagai narasumber. Daniel merupakan dokter umum yang bertugas di Puskesmas Samabusa. Selain menjalankan tugas pelayanan kesehatan, ia juga aktif dalam sosialisasi HIV/AIDS melalui Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP).
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Asrama Putri Paniai, tetapi juga dari Asrama Putra Deiyai, Asrama Putra Paniai, kalangan jurnalis, dan pemuda.
Pelatihan diawali dengan kegiatan refleksi. Peserta diminta menuliskan perasaan dan pengalaman mereka setelah mengikuti Pelatihan Tematik I. Kegiatan tersebut dipandu oleh Yosinta Douw selaku pembawa acara (MC).
“Teman-teman, silakan tuliskan perasaan kalian ketika mengikuti Tematik I,” ujar Yosinta.
Kertas sticky note dan pena kemudian dibagikan kepada peserta. Suasana ruangan seketika menjadi hening. Hanya terdengar suara pena yang bergerak di atas kertas ketika para peserta menuangkan pengalaman mereka.
Sejumlah peserta menuliskan kesan, antara lain, “Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang pencegahan HIV/AIDS,” “Pelatihannya sangat bagus, anak-anak muda perlu terus mengikuti,” “Materinya sederhana dan mudah dipahami,” serta “Setelah mengikuti pelatihan, perasaan saya lega. Ternyata HIV/AIDS bisa diobati.”
Ada pula peserta yang menulis, “Stigmatisasi bahwa HIV/AIDS selalu berbahaya adalah pemahaman yang keliru. Kita hanya perlu mencegah dan melakukan pemeriksaan.”
Berbagai tulisan tersebut kemudian ditempelkan pada kertas manila yang dipasang di dinding. Peserta yang sebelumnya duduk berderet di bagian tengah ruangan kembali berinteraksi. Ada yang tersenyum, ada pula yang terlihat antusias menunggu materi pelatihan dimulai.
Yosinta kemudian membuka kegiatan dan menjelaskan bahwa Pelatihan Tematik II akan berfokus pada pengenalan penyakit menular seksual (PMS), infeksi menular seksual (IMS), serta HIV/AIDS.
“Pelatihan kali ini merupakan Tematik II. Fokus kita adalah membicarakan pengenalan PMS dan HIV/AIDS,” kata Yosinta sebelum menyerahkan kegiatan kepada moderator dan narasumber.
Moderator, Mis Murib, kemudian menjelaskan alasan YAPKEMA Papua melakukan intervensi pada isu HIV/AIDS. Menurutnya, persoalan HIV/AIDS perlu mendapatkan perhatian serius karena jumlah kasus yang terdeteksi di Papua Tengah telah mencapai lebih dari 24 ribu kasus.
“YAPKEMA Papua merasa isu HIV/AIDS merupakan persoalan yang genting dan membutuhkan intervensi segera. Kita melihat angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Papua Tengah telah mencapai lebih dari 24 ribu. Di tingkat kabupaten, Nabire dan Mimika menempati urutan teratas, disusul Puncak,” kata Mis Murib.
Menurut Murib, kondisi tersebut mendorong YAPKEMA Papua mulai melakukan intervensi sejak 2025 melalui kegiatan di sekolah, kampus, dan komunitas pemuda.
“Dalam konteks penyakit menular seksual, kelompok yang rentan adalah anak muda. Oleh karena itu, YAPKEMA Papua menyasar kelompok-kelompok pemuda untuk membangun kesadaran secara masif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pelatihan Tematik I dimulai dengan pengenalan alat-alat reproduksi dan fungsinya. Sementara pada Tematik II, peserta mulai diarahkan untuk memahami penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Murib kemudian mengajukan pertanyaan mendasar kepada peserta, “Mengapa kita semua perlu ikut mencegah?” Menurutnya, pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran anak-anak muda agar tidak bersikap acuh terhadap persoalan HIV/AIDS.
Selanjutnya, dr. Daniel Wakai memulai pemaparan materi melalui presentasi yang telah disiapkan. Ia menjelaskan bahwa istilah penyakit menular seksual (PMS), infeksi menular seksual (IMS), dan penyakit infeksi menular seksual (PIMS) sering digunakan untuk menggambarkan penyakit atau infeksi yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual.
“Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang timbul akibat infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Penularannya dapat terjadi melalui cairan tubuh tertentu, seperti darah, cairan vagina, dan sperma,” jelas Daniel.
Ia mengatakan bahwa penularan penyakit menular seksual tidak selalu terjadi hanya melalui aktivitas seksual. Dalam kondisi tertentu, infeksi juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayi selama kehamilan atau persalinan, maupun melalui penggunaan jarum suntik yang tidak aman.
Baca Juga : Andai Euforia Piala Dunia Menular pada Kampanye Cegah HIV/AIDS
Menurut Daniel, risiko penularan dapat meningkat ketika seseorang melakukan hubungan seksual yang tidak aman. Persoalan tersebut juga menjadi lebih sulit dideteksi karena sejumlah penyakit menular seksual tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas.
Daniel kemudian menjelaskan bahwa HIV/AIDS bukan satu-satunya penyakit menular seksual. Beberapa penyakit lainnya antara lain sifilis, herpes genitalis, kutu kemaluan, infeksi HPV, klamidia, gonore, trikomoniasis, hepatitis, chancroid, limfogranuloma venereum, dan HIV/AIDS.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit menular seksual dapat ditangani atau disembuhkan melalui pengobatan. Sementara HIV hingga saat ini belum dapat disembuhkan, tetapi perkembangannya dapat ditekan melalui terapi antiretroviral (ARV).
“Pasien yang mengonsumsi ARV secara teratur dapat tetap sehat karena obat tersebut menekan jumlah virus sehingga perkembangan penyakit dapat dikendalikan,” jelasnya.
Daniel juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan status HIV sejak dini. Menurutnya, angka lebih dari 24 ribu kasus yang telah terdeteksi belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi di lapangan karena masih ada kemungkinan orang yang hidup dengan HIV belum mengetahui statusnya.
“Angka saat ini lebih dari 24 ribu, tetapi itu merupakan kasus yang sudah terdeteksi. Sebagian besar tentu belum melakukan pemeriksaan. Ini seperti gunung es; yang terlihat di atas kecil, tetapi bagian di bawahnya bisa jauh lebih besar,” katanya.
Karena itu, Daniel mendorong pemerintah memperkuat kebijakan penanganan HIV/AIDS di Papua Tengah. Ia mengusulkan adanya regulasi daerah yang dapat mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan status HIV secara lebih luas.
Menurutnya, pemeriksaan secara masif akan membantu pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan, memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi HIV/AIDS sehingga program pencegahan, pengobatan, dan pendampingan dapat dirancang secara berkelanjutan.
Namun, upaya pemeriksaan HIV, menurut Daniel, harus tetap memperhatikan pendekatan yang tidak diskriminatif serta menjaga kerahasiaan dan hak orang yang diperiksa. Pemeriksaan HIV seharusnya menjadi bagian dari pelayanan kesehatan, bukan alat untuk menghukum atau mengucilkan seseorang.
Ia juga mengusulkan pembelajaran dari pengalaman penanganan COVID-19 dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, pemeriksaan harus dibuat mudah diakses sehingga masyarakat terbiasa mengetahui status kesehatannya.
Daniel menegaskan bahwa mengetahui status HIV sejak dini bukan berarti memvonis seseorang dengan kematian. Sebaliknya, pemeriksaan memungkinkan seseorang mendapatkan penanganan lebih cepat dan memperoleh akses terhadap terapi ARV.
“Stigmatisasi bahwa HIV/AIDS berarti kematian harus dihentikan. Pemeriksaan HIV harus dipandang seperti pemeriksaan kesehatan lainnya. Jika seseorang terbukti hidup dengan HIV, ia perlu didampingi dan diarahkan untuk mendapatkan pengobatan sejak dini,” ujarnya.
Menurut Daniel, ketakutan dan stigma justru dapat memperburuk persoalan HIV/AIDS karena membuat seseorang enggan melakukan pemeriksaan.
“Ketakutan tidak menyelamatkan seseorang. Stigmatisasi juga tidak menyelamatkan siapa pun. Karena itu, kita harus berani dan membiasakan diri untuk melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.
Pertanyaan awal kemudian kembali ditegaskan: mengapa kita semua perlu ikut mencegah? Bagi YAPKEMA Papua, mengetahui status HIV sejak dini merupakan salah satu langkah untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial di sekitarnya.
Selain kegiatan Tematik II tersebut, YAPKEMA Papua berencana menggelar pelatihan dengan tema serupa di Asrama Puncak pada awal September 2026.
“Kami akan terus melakukan pelatihan di berbagai tempat, terutama di wilayah yang menjadi sasaran YAPKEMA Papua. Dengan demikian, kesadaran kolektif dapat dibangun agar masyarakat sadar dan berani mengecek status HIV/AIDS. Selain itu, menghentikan stigma buruk terhadap ODHA selama ini juga menjadi tujuan kami,” kata Mis Murib saat menutup Pelatihan Tematik II.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyajian makanan asli Papua kepada peserta, antara lain pisang, keladi, jagung, serta kopi Arabika Meeuwoodide.
Oleh : Mis Murib/Yapkema
