Kisah pendampingan Yapkema bersama Mama-mama Papua di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai mengolah ubi dan hasil kebun menjadi aneka makanan ringan bernilai jual.
Lebih dari sekadar ajang berkumpul, Muspas Mee VIII di Komopa menjadi ruang perjumpaan sakral bagi belasan ribu umat. Ini adalah momen untuk merekatkan kembali ikatan persaudaraan dan sebuah panggilan spiritual untuk kembali ke “Ani”
Kemeriahan MUSPAS MEE VIII di Komopa menyisakan tanya. Di balik pelayanan tuan rumah yang luar biasa dan 764 ekor babi yang disajikan, terselip fakta bahwa sebagian besar hewan ternak didatangkan dari luar, bukan hasil kerja keras umat sendiri. Mari kita merenung: Sudahkah kita berdaulat di tanah sendiri atau hanya menjadi konsumen konsumtif?
Seorang perempuan paruh baya berdiri tegak di acara wisuda, bukan membawa bunga, melainkan ‘Ebai” (jaring ikan tradisional). Bagi Mama ini, Ebai bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu bagaimana ia membiayai anaknya dari SD hingga sarjana tanpa bantuan beasiswa, hanya dari hasil danau. Ini adalah kisah tentang cinta keras kepala seorang ibu dan kritik bagi kita yang sering lupa kacang akan kulitnya.
Dalam rangka 16 HAKTP, Yapkema menggelar seminar di Nabire. Novita Opki ingatkan kekerasan fisik & non-fisik harus dicegah bersama oleh laki-laki & perempuan.
Seminar YAPKEMA di Paniai mengungkap bahaya makanan dan minuman instan. Dari sisi medis, ini “racun pelan-pelan”. Dari sisi politik, ini adalah “penjajahan lewat perut”.
Kasus IMS HIV/AIDS Papua Tengah mencapai 23.188 jiwa, Nabire tertinggi. YAPKEMA & STT Walterpost gelar seminar & edukasi untuk selamatkan generasi muda Papua.
Bahaya minuman serbuk instan & kental manis bagi masyarakat dan pelajar di Dogiyai, Deiyai, Paniai, yang terungkap oleh survei yang dilakukan Yapkema. Waspada risiko diabetes & obesitas.