Tematik II YAPKEMA bukan hanya berbicara tentang HIV/AIDS sebagai penyakit. melainkan sebagai pengetahuan, keberanian untuk memeriksakan diri, akses terhadap layanan kesehatan, dan tanggung jawab bersama untuk mencegah penularan. Sebab, melawan HIV/AIDS tidak cukup dengan rasa takut, Yang kita butuhkan adalah pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kepedulian.
YAPKEMA menggelar kembali edukasi kesehatan anak muda untuk mencegah PMS dan penularan HIV/AIDS. Edukasi dalam bentuk pelatihan tematik berjenjang ini dilakukan untuk tahap ke-2 di Asrama Puncak, Nabire pada Jumat 11 September 2026. Tematik II telah dilakukan dengan membahas pengenalan alat-alat reproduksi, dan Tematik II mengajak peserta untuk mengenal lebih jauh tentang Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS, cara penularan, dampaknya bagi tubuh, serta langkah-langkah pencegahannya.
Acara dibuka dengan doa pembukaan oleh Stevanus Murib. Setelah itu, pembawa acara, Mis Murib, menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat datang kepada narasumber serta seluruh penghuni Asrama Puncak.
Dalam pembukaan, Mis menjelaskan tema Tematik II, yaitu “Cegah dan Tangani HIV/AIDS: Pengenalan PMS dan HIV/AIDS.” Pada saat yang sama, tim membagikan lembar kuesioner yang telah disiapkan YAPKEMA. Peserta diminta mengisinya dan mengumpulkannya setelah selesai.
Moderator Maria I. Douw kemudian menyapa peserta lalu mengenalkan diri dan deskripsi singkat mengenai narasumber. Dr. Daniel, yang menjadi narasumber tetap, menjelaskan bahwa Tematik II merupakan kelanjutan dari Tematik I yang dilaksanakan pada Juli 2026.
“Pelatihan Tematik I kita fokus membahas pengenalan alat-alat reproduksi dan fungsinya. Tematik II akan lebih mengerucut pada pengenalan jenis-jenis PMS dan HIV/AIDS,” jelas dr. Daniel saat membuka materi. Ia mengawali pembahasan dengan pertanyaan sederhana: Apa itu PMS dan apa saja jenisnya?
“Infeksi Menular Seksual atau IMS, yang sering disebut penyakit menular seksual, merupakan infeksi yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual. Contohnya antara lain sifilis, gonore, herpes genital, dan infeksi HPV,” paparnya.
Dr. Daniel kemudian menjelaskan bahwa dalam dunia kesehatan, penyakit secara umum dapat dibedakan menjadi penyakit menular dan penyakit tidak menular.
“Penyakit menular adalah penyakit yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, sedangkan penyakit tidak menular merupakan kondisi yang tidak menyebar secara langsung dari satu individu kepada individu lainnya,” jelasnya.
Suasana ruangan semakin serius. Peserta menatap narasumber sambil mengisi kuesioner. Tampak beberapa wajah mulai menyimpan pertanyaan.
Ketika pembahasan menyentuh persoalan HIV, dr. Daniel menjelaskan kondisi HIV di Papua Tengah dan pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat. Menurutnya, angka orang dengan HIV di Papua Tengah telah mencapai lebih dari 24 ribu orang. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa HIV bukan persoalan yang bisa dianggap sepele.
Baca Juga : YAPKEMA Papua Dorong Tes HIV/AIDS Sejak Dini, Stigma dan Ketakutan Dinilai Hambat Pencegahan
Selanjutnya, dr. Daniel memperkenalkan beberapa jenis PMS yang umum ditemukan, di antaranya gonore, sifilis, klamidia, herpes genital, serta kutil kelamin yang dapat disebabkan oleh infeksi HPV. HIV juga menjadi bagian penting dalam pembahasan karena menyerang sistem kekebalan tubuh.
Di dalam kelas, dr. Daniel menampilkan gambar organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Ia menjelaskan fungsi organ tersebut sekaligus menerangkan bagaimana infeksi dapat menyerang tubuh.
Ia mengambil contoh gonore. “Gonore merupakan penyakit akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae yang dapat menyebabkan nyeri ketika buang air kecil dan keluarnya cairan bernanah dari alat kelamin,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan sifilis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Pada tahap awal, sifilis dapat ditandai dengan luka pada area genital atau mulut yang sering kali tidak terasa nyeri sehingga seseorang dapat tidak menyadari dirinya terinfeksi.
Pembahasan kemudian beralih kepada HIV/AIDS dan bagaimana virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh.
“Ketika virus HIV masuk ke dalam tubuh, virus tersebut tidak sekadar merusak sel secara acak, tetapi melakukan proses sistematis yang perlahan-lahan melemahkan pertahanan tubuh,” katanya.
Untuk memudahkan peserta memahami cara kerja sistem imun, dr. Daniel menggunakan perumpamaan sebuah negara.
“Sistem pertahanan tubuh itu ibarat sebuah negara yang memiliki polisi dan tentara untuk menjaga keamanan agar tidak ada gangguan dari teroris, kartel, maupun penjahat. Ketika sistem keamanan lemah, negara akan lebih mudah diserang. Begitu juga tubuh. Ketika sistem kekebalan tubuh melemah, berbagai penyakit akan lebih mudah menyerang,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa HIV yang tidak mendapatkan pengobatan dapat berkembang hingga menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh yang berat dan memasuki tahap AIDS.
Karena itu, pemeriksaan dan pengobatan sejak dini menjadi sangat penting. Dengan terapi antiretroviral (ARV) yang diminum secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus HIV dalam tubuh dapat ditekan dan sistem kekebalan tubuh dapat dipertahankan.
Dr. Daniel juga menjelaskan beberapa gejala yang dapat muncul, seperti demam dan menggigil, sakit kepala dan kelelahan, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan dan sariawan, pembengkakan kelenjar getah bening, serta ruam kulit.
Setelah itu, ia menjelaskan mengenai cara penularan HIV. HIV dapat menular melalui hubungan seksual berisiko, termasuk hubungan seksual tanpa perlindungan; dari ibu yang memiliki HIV kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui dalam kondisi tertentu; serta melalui darah yang terkontaminasi, misalnya penggunaan jarum suntik secara bersama-sama atau transfusi darah yang tidak aman.
Namun, HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari, seperti makan dan minum bersama, menggunakan toilet umum, berenang bersama, menggunakan telepon genggam secara bergantian, berjabat tangan, berpelukan, mencium pipi, maupun melalui gigitan nyamuk.
Pesan tersebut penting karena ketakutan terhadap HIV sering kali lahir bukan dari pengetahuan, melainkan dari informasi yang keliru.
Untuk mencegah HIV dan PMS, dr. Daniel mengingatkan anak muda agar memiliki pengetahuan yang cukup, menghindari perilaku seksual berisiko, setia pada pasangan, serta menggunakan kondom dengan benar sebagai salah satu bentuk perlindungan dalam hubungan seksual.
Jika seseorang memiliki risiko terpapar HIV, pemeriksaan menjadi langkah penting. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan HIV positif, pasien perlu mendapatkan terapi ARV dan mengonsumsinya secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Setelah diperiksa dan hasilnya positif, dokter akan memberikan obat. Obat tersebut harus diminum secara rutin dan sesuai anjuran,” pesannya.
Dr. Daniel juga menegaskan bahwa HIV bukan akhir dari kehidupan: “Walaupun terkena HIV, kalau kita minum obat ARV secara teratur, kita bisa tetap sehat, menjalani kehidupan secara normal, dan memiliki keluarga. Setiap orang tidak boleh takut. Anggap HIV sebagai penyakit yang harus ditangani dan diobati,” katanya.
Ia menyoroti persoalan akses terhadap kondom dan pengetahuan mengenai kesehatan seksual di masyarakat. Menurutnya, masih ada anggapan bahwa membeli kondom merupakan sesuatu yang memalukan atau tabu.
“Orang mau membeli kondom di apotek, toko, dan tempat lainnya kadang merasa takut. Pikiran yang muncul adalah, ‘Kalau saya membeli kondom, nanti penjual berpikir apa tentang saya?’” katanya.
Menurut dr. Daniel, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan HIV tidak cukup hanya dengan memberikan ceramah. Akses terhadap alat pencegahan juga harus dipikirkan secara serius.
“Kalau bisa, tempat penyediaan kondom dibuat seperti mesin ATM atau disediakan di tempat-tempat yang mudah diakses, seperti hotel dan penginapan. Kalau perlu, tempat penyediaannya dibuat khusus agar masyarakat lebih mudah mengaksesnya. Selain itu, perlu ada kebijakan daerah yang serius tentang penanganan HIV,” ungkapnya.
Dalam sesi tanya jawab, Stevanus Murib bertanya apakah orang dengan HIV yang rutin mengonsumsi ARV masih dapat berhubungan seksual, apakah ibu dengan HIV dapat menyusui anaknya, dan berapa lama ARV harus dikonsumsi. Ia juga menanyakan kondisi seseorang yang telah memasuki tahap AIDS setelah mendapatkan pengobatan.
Sementara itu, Triganus Kulua bertanya, “Sifilis dan gonore disebabkan oleh apa?”
Dr. Daniel menjelaskan bahwa terapi ARV harus dikonsumsi secara rutin dan berkelanjutan. Dengan pengobatan yang tepat, jumlah virus dapat ditekan hingga tidak terdeteksi sehingga risiko penularan seksual dapat dicegah secara efektif. Untuk persoalan kehamilan dan menyusui pada ibu dengan HIV, keputusan perlu mengikuti pendampingan serta rekomendasi tenaga kesehatan karena terdapat pertimbangan medis yang harus diperhatikan.
Ia juga menegaskan bahwa seseorang yang telah mencapai tahap AIDS tetap dapat mengalami pemulihan fungsi kekebalan tubuh dengan pengobatan yang tepat. Karena itu, pengobatan harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh dihentikan sendiri.
Menjawab pertanyaan tentang sifilis dan gonore, dr. Daniel menjelaskan bahwa sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sedangkan gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Jika seseorang mengalami gejala atau merasa memiliki risiko terpapar, pemeriksaan di fasilitas kesehatan menjadi langkah yang penting.
Pertanyaan kemudian semakin berkembang. Peserta mulai aktif mengangkat tangan. Diskusi menjadi semakin hidup, ditemani kopi Meeuwodide dan makanan khas Papua seperti singkong, ubi, keladi, serta sambal.
Di tengah suasana santai itu, percakapan tetap berlanjut. Peserta tidak hanya bertanya mengenai penyakit, tetapi juga mulai membicarakan bagaimana pencegahan HIV dapat dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan.
Dari diskusi tersebut muncul harapan agar penanganan HIV tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Dibutuhkan kerja sama lintas lembaga, termasuk dengan lembaga yang bergerak dalam penanggulangan HIV, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Peserta juga mendorong agar pemerintah daerah memiliki kebijakan yang lebih jelas dalam pencegahan dan penanganan HIV/AIDS, memperluas akses terhadap alat pencegahan, memperkuat edukasi kesehatan reproduksi, serta melakukan pendekatan yang tepat terhadap tempat-tempat yang berpotensi menjadi ruang penularan.
Penggunaan aplikasi perkenalan seperti MiChat juga menjadi salah satu topik yang perlu dibahas secara terbuka, bukan untuk menghakimi penggunanya, tetapi untuk membangun kesadaran mengenai risiko perilaku seksual yang tidak aman dan pentingnya perlindungan diri.
Pada akhirnya, Tematik II YAPKEMA bukan hanya berbicara tentang HIV/AIDS sebagai penyakit. Ia berbicara tentang pengetahuan, keberanian untuk memeriksakan diri, akses terhadap layanan kesehatan, dan tanggung jawab bersama untuk mencegah penularan.
Sebab, melawan HIV/AIDS tidak cukup dengan rasa takut.
Yang dibutuhkan adalah pengetahuan, pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kepedulian.
Dan dari sebuah ruang sederhana di Asrama Mahasiswa Puncak, pesan itu kembali ditegaskan: mengenal HIV/AIDS adalah langkah awal; mencegah penularannya adalah tanggung jawab bersama.
Oleh : Mis Murib/Yapkema
