Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Sudahkah Kita Menjadi Tuan Rumah di Tanah Sendiri? Sebuah Refleksi Pribadi Atas Muspas Mee VIII

Sudahkah Kita Menjadi Tuan Rumah di Tanah Sendiri? Sebuah Refleksi Pribadi Atas Muspas Mee VIII

Muspas Mee VII
Suasana saat akan diadakan misa pembukaan kegiatan Muspasmee VIII di halaman Gereja Paroki Kristus Jaya Komopa. (Dok. Yapkema)

Sebanyak 3.268 delegasi manusia Mee, serta perwakilan Suku Moni dan Ause, berkumpul dengan khidmat di Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. 764 ekor babi, ditambah ayam, kelinci, bebek, dan ikan, disiapkan sebagai bahan makanan bagi ribuan peserta selama acara berlangsung.

Kegiatan Musyawarah Pastoral (Muspas) Mee VIII di Paroki Kristus Jaya Komopa resmi dimulai pada 1 Februari 2026 dengan berkumpulnya para delegasi dari berbagai paroki, termasuk perwakilan Suku Moni dan Ause. Pembukaan dilaksanakan pada 2 Februari 2026, dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., yang menandai dimulainya seluruh rangkaian kegiatan pastoral.

Saya amati suasana kegiatan pertemuan akbar ini memperlihatkan semangat persaudaraan dan kebersamaan umat yang datang dari berbagai wilayah.

Para pewarta (kiri-kanan) berdiri berjajar menyambut rombongan Uskup Keuskupan Timika. (Dok. Yapkema)
Para pewarta (kiri-kanan) berdiri berjajar menyambut rombongan Uskup Keuskupan Timika. (Dok. Yapkema)

Muspas Mee merupakan agenda tiga tahunan yang telah berlangsung sejak tahun 2005 dan menjadi wadah refleksi serta evaluasi pelayanan Gereja. Rangkaian Muspas sebelumnya menunjukkan kesinambungan pelayanan Gereja di wilayah Mee.

Muspas I (2005) digelar di Paroki St. Yusuf Enagotadi; Muspas II (2008) digelar di Paroki Yohanes Pemandi Wakeitei; Muspas III (2011) digelar di Paroki Segala Orang Kudus Diyai; Muspas IV (2014) digelar di Paroki St. Fransiskus Obano; Muspas V (2017) digelar di Paroki Salib Suci Madi; Muspas VI (2020) digelar di Paroki Damabagata; Muspas VII (2023) digelar di Epouto; dan kini Muspas VIII (2026) kembali mempertemukan umat di Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah.

Kerja Keras Tuan Rumah Siapkan Segala Sesuatu

Saya adalah satu dari sekitar 3.268 peserta yang hadir pada Muspas Mee VIII dari Kombas Maria Magdalena Buwoba, Stase Timida, Paroki Salib Suci Madi. Panitia tuan rumah telah menyiapkan segala kebutuhan peserta dengan sangat baik, mulai dari lokasi kegiatan, fasilitas umum, tempat menginap (kewitaa) bagi delegasi luar daerah, ketersediaan air bersih, hingga konsumsi selama delapan hari pelaksanaan, 1–8 Februari 2026.

Kompleks dibangunnya rumah nginap (kewitaa) bagi perwakilan delegasi dari setiap paroki, diambil dari atas bukit. (Dok. Yapkema)
Kompleks dibangunnya rumah nginap (kewitaa) bagi perwakilan delegasi dari setiap paroki, diambil dari atas bukit. (Dok. Yapkema)

Sebagai bentuk tanggung jawab, panitia bersama tim petugas keamanan kegiatan melakukan pemeriksaan bekal yang dibawa peserta di pintu masuk. Ubi, keladi, buah-buahan, serta makanan dan minuman yang dibawa peserta diambil dan tidak diperbolehkan bawa masuk. Menurut panitia, langkah ini adalah tanda bahwa tuan rumah siap menjamin sepenuhnya makan dan minum seluruh delegasi.

Sikap ini saya pikir sejalan dengan falsafah orang Mee: “Yuwo ipuwemee, edi uwo beuga eba teeki teeki tiya,” yang berarti tuan pesta harus menyiapkan segala sesuatu sebelum pesta dimulai demi memenuhi kebutuhan para tamu. Dan, dalam hal ini benar. Segala persiapan telah dilakukan. Meski bagi sebagian orang, tindakan tersebut terasa kurang etis, tetapi dalam konteks adat Mee, hal itu justru menunjukkan tanggung jawab dan harga diri tuan rumah.

Bagian luar pintu masuk ke Gereja Paroki Kristus Jaya Komopa, banyak hilir mudik peserta dan panitia dengan mayoritas memakai pakaian adat. (Dok. Yapkema)
Bagian luar pintu masuk ke Gereja Paroki Kristus Jaya Komopa, banyak hilir mudik peserta dan panitia dengan mayoritas memakai pakaian adat. (Dok. Yapkema)

Paroki Kristus Jaya Komopa sendiri memiliki empat wilayah pelayanan, yakni Wilayah Piyaiye, Agapo, Komopa, dan Tuguwai, dengan total 13 stase. Seluruh wilayah dan stase dilibatkan dalam pembagian tugas, terutama dalam pelayanan konsumsi. Setiap paroki peserta dibantu oleh satu stase. Setelah pembukaan, umat dari empat wilayah juga menyumbangkan ratusan ekor ayam kampung, kelinci, bebek, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama kegiatan berlangsung.

Umat secara sukarela menyumbangkan ternak bebek, ayam kampung, kelinci, dan ikan untuk konsumsi selama kegiatan. (Dok. Yapkema)
Umat secara sukarela menyumbangkan ternak bebek, ayam kampung, kelinci, dan ikan untuk konsumsi selama kegiatan. (Dok. Yapkema)

Materi kegiatan disusun secara bertahap selama enam hari inti. Hari pertama dan kedua membahas tema besar “Hak Hidup,” terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kaitannya dengan konteks internasional. Hari ketiga memaparkan perkembangan Sekolah Tinggi Katolik Touyepapa di Damabagata serta data umat Katolik di Keuskupan Timika. Hari keempat difokuskan pada rekonsiliasi sebagai bagian dari pembaruan iman dan persaudaraan. Hari kelima dan keenam diisi dengan kisah-kisah gembira serta pengalaman pastoral dari masing-masing paroki.

Suasana di halaman Gereja Paroki Kristus Jaya Komopa. (Dok. Yapkema)
Suasana di halaman Gereja Paroki Kristus Jaya Komopa. (Dok. Yapkema)

Saya menyaksikan langsung pelayanan dapur umum yang dipimpin oleh Mama Ibu Guru Pekei, Mama Maria Degei, dan mama-mama lainnya. Mereka melayani dengan cepat, cermat, tulus, memastikan kebutuhan makan dan minum bagi tim pastoral dan seluruh peserta terpenuhi dengan baik. Tim medis juga tersedia. Selama kegiatan, tidak ada kendala berarti dalam hal konsumsi karena persiapan telah dilakukan jauh hari sebelumnya.

Baca Juga : Wujud Kebersamaan Membangun Gereja Kingmi Kalvari

Pada hari ketujuh, dilaksanakan gladi resik untuk barapen (bakar batu) sebagai persiapan penutupan. Sesuai kesepakatan, setiap stase menanggung 20 ekor babi untuk dibagikan kepada paroki yang dibantu. Setelah gladi resik, panitia memberi kesempatan kepada perwakilan paroki dan stase untuk menyampaikan kesan dan pesan. Hampir semua menyampaikan rasa terima kasih atas pelayanan tuan rumah serta memohon maaf jika selama pelayanan terdapat kekurangan.

Saat akan menggelar acara barapen (bakar batu). (Dok. Yapkema)
Saat akan menggelar acara barapen (bakar batu). (Dok. Yapkema)

Puncak kegiatan Muspas pada 7 Februari ditandai dengan bakar batu (barapen) sebagai ungkapan syukur atas seluruh rangkaian acara yang sudah dilalui. Sebanyak 764 ekor babi (ekina) dimasak. Jumlah yang luar biasa besar dan tentu membanggakan.

Tetapi, apakah ekina itu hasil dari kerja kita?

Di balik semua itu, ada hal yang mengusik hati saya. Ternyata sebagian besar ekina didatangkan dari luar Paniai, utamanya Nabire, lalu Dogiyai dan Deiyai. Sementara babi lokal yang dipelihara masyarakat (inikoda, inikeda munitaa ekina) jumlahnya jauh lebih sedikit.

Keadaan ini sangat berbeda dengan kebiasaan orang tua kita dulu. Saat mau mengadakan acara tertentu atau pesta (yuwoo), setiap keluarga pasti sudah memelihara babi sejak jauh hari. Tidak perlu disuruh. Semua orang tahu tanggung jawabnya. Orang tua kita dulu hidup dengan kesadaran bahwa acara besar harus dipersiapkan dengan kerja keras. Mereka berkebun, beternak, berburu, dan bekerja dengan tekun karena tahu suatu saat akan ada kebutuhan bersama. Itu bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal harga diri dan tanggung jawab sebagai tuan rumah.

Kita lebih sering jadi pembeli daripada penghasil

Saat melihat ratusan babi didatangkan dengan mobil-mobil Hilux menjelang hari raya Muspas, saya bertanya dalam hati: siapa yang sebenarnya mendapat keuntungan dari semua ini? Siapa yang menjadi penjual dan siapa yang menjadi pembeli? Kalau untuk acara sebesar ini saja kita harus membeli dari orang luar, lalu kita orang Mee selama ini buat apa?

Suasana saat bapak-bapak memotong babi (ekina). (Dok. Yapkema)
Suasana saat bapak-bapak memotong babi (ekina). (Dok. Yapkema)

Di mana peran kita sebagai tuan rumah di tanah sendiri? Hal ini terasa kontras: panitia begitu tegas memeriksa bahkan membuang makanan dan minuman bawaan setiap delegasi demi menunjukkan kesiapan dan jaminan sebagai tuan rumah. Tetapi untuk kebutuhan utama seperti babi dalam jumlah besar, kita justru masih bergantung pada pasokan dari luar.

Saya pikir kita harus mulai jujur melihat kedalam diri sendiri: diri kita. Budaya kerja keras dan persiapan itu mulai berkurang. Kita semakin terbiasa membeli dari luar. Kita semakin cepat bergantung pada pasokan orang lain dan bantuan instan.

Laki-laki dan perempuan suku Mee dengan pakaian adat koteka mogee. (Dok. Yapkema)
Laki-laki dan perempuan suku Mee dengan pakaian adat koteka mogee. (Dok. Yapkema)

Tanpa sadar, kita lebih sering menjadi pembeli daripada penghasil. Semangat untuk memelihara dan menyiapkan dari jauh hari tidak lagi sekuat dulu.

Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun. Ini lebih sebagai teguran untuk diri kita sendiri. Di mana kemandirian kita? Di mana kedaulatan ekonomi kita? Kalau terus begini, kita akan selalu bergantung. Mungkin sudah saatnya kita kembali menghidupkan semangat orang tua dulu. Mulai bekerja, memelihara, dan menyiapkan dari sekarang. Ini untuk hal lainnya juga.

Saya pikir, ini salah satu refleksi penting dari Muspas kali ini. Bahwa kita perlu kembali menghidupi nilai-nilai kerja, kemandirian, ambil kendali kehidupan. Mulai dari diri sendiri dan keluarga di rumah (emaawaa), hidupkan pekarangan rumah (owaadaa), dan nyalakan tungku api kehidupan di kampung-kampung kita berasal.

Foto rumah adat suku Mee (Emaawaa). (Dok. Yapkema)
Foto rumah adat suku Mee (Emaawaa). (Dok. Yapkema)

Akhirnya, pada Minggu, 8 Februari 2026, seluruh peserta delegasi kembali ke paroki masing-masing dengan aman dan damai. Saya juga kembali ke Madi bersama rombongan dengan membawa banyak pelajaran berharga. Muspas Mee VIII bertema “Saling Menghidupkan” dengan subtema “Aku Menjaga dan Mengelola Damai” ini juga menjadi cermin bahwa kita masih memiliki banyak pekerjaan rumah.

Oleh : Jhon Degei/Yapkema

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *