“Tak ada seorang Mama pun yang menunda bergabung dalam kegiatan. Sepertinya ada kerinduan menanti kabar seperti ini yang mendorong mereka. Kerinduan akan suatu aktivitas baru yang memecah kesunyian rutinitas mereka.”
Cahaya mulai tembus dinding-dinding rumah. “Bergegas, sebelum waktunya berangkat. Harus selesaikan satu pekerjaan yang menuntut dan penting.” Itu bukan bisikan manusia yang biasa menegur, tapi hentakan alarm yang ingatkan sa pada rekaman semalam. Pekerjaan yang belum sa tuntaskan tadi malam, langsung teringat ketika menatap laptop yang terduduk di samping tempat tidur.
“Oh iya harus selesaikan penulisan dan print panduan pelatihan produksi kue dan keripik“. Kalimat ini justru mendesak saya keluar dari lingkaran selimut. Dalam satu jam berjalan sisa pekerjaan itu harus selesai. Selanjutnya harus bersiap melangkah ke lokasi kegiatan. Toples dan spanduk su diantar dari Nabire untuk dipajang di kegiatan pelatihan.
Nogei Stefanus su parkir motor Verza. Dia akan siap eksekusi dokumentasi kegiatan di Pugo 1 Distrik Pugodagi pada 14 September 2026. Perjalanan yang baru kita lewati, diiringi kabut asap hasil bakar-bakaran manusia menutupi langit bumi leluhur di Paniai sejauh mata memandang.
Setibanya di sebuah Bukit Ekaugida, area perbatasan antara Madi dan Pugo. Boba bago sudah tak ada lagi embun merayap seperti seringkali terjadi sebelumnya. Iya kini tampak jelas tapak-tapak bumi Papua sedang dilanda anomali El Nino, kemarau panjang yang belum kunjung selesai.
Situasi ini layaknya ekspresi alam yang sedang bercerita sendu: tak ada tarian dan nyanyian akan datangnya hujan. Kebun sudah terlihat kehabisan daya tahan. Maki pataga (tanah terbelah) menjadi fenomena umum ditemui, sementara suplai nutrisi tanaman nota dan kawan-kawannya nyaris tipis bahkan tiada. Keadaan ini akan menyerang Mama-mama yang hari-harinya hidup dari sana.
Baca Juga : Advokasi Ekonomi Owadaa: Rakyat di Antara Sistem yang Mengatur
Rencana kegiatan jalan biasa, melatih Mama-mama mengolah hasil kebunnya jadi makanan ringan yang bisa dijual untuk menambah asap dapur. Tetapi kegiatan kali ini akan berlangsung di Pugo, kawasan baru yang juga tak luput dari fenomena alam yang sedang sakit itu.
Meski dalam situasi demikian tak ada seorang Mama pun yang menunda bergabung dalam kegiatan. Selama dua hari sebelumnya tak ada kalimat yang muncul untuk tidak bergabung. Antusiasme yang dijawab dengan senyum menyambut. Sepertinya ada kerinduan menanti kabar seperti ini yang mendorong mereka. Kerinduan akan suatu aktivitas baru yang memecah kesunyian rutinitas mereka.
Mama-mama dari sekitar kampung yang berlokasi (kebanyakan) dari lingkaran Pugodagi datang bersekutu, memperbesar lingkaran produksi hasil kebun. Mereka tidak datang dengan tangan hampa. Meski El Nino menyerbu, nota-nota segar masih saja bisa tersedia, sudah dibawa dalam noken yang digenggam erat. Garis-garis tangan penuh berkat dari tanah leluhur sudah siap di meja.
Hasil tanaman nota-nota itu akan dipadukan dengan bahan tambahan lainnya dan diolah dengan materi dan pengetahuan dari seorang guru sederhana yang sabar mendampingi kami dalam proses ini. Beti Tekege, adalah seorang sarjana Gizi, juga sebagai praktisi dan juga produsen makanan ringan sederhana, bagaimana olah nota menjadi produk-produk sehat yang biasa dipasarkan.
Ini latihan pertama Yapkema bagi 10 orang Mama-mama Pugodadi. Hans Bunai, rekan staf lapangan di Paniai yang juga pemuda setempat, sudah sedia sejak pagi. Kegiatan pelatihan akan segera dimulai setelah sejenak berteduh menanti kesediaan ruang kegiatan di sebuah rumah kelas belajar.
Pugo yang terisolasi di antara bukit dan tebing gunung Boba dan sekawannya. Kegiatan kali ini seperti mau bertamu di arena yang asing dari kegiatan-kegiatan sebelumnya, seperti aroma segar yang baru menebarkan semangat ekonomi Owadaa. Tak ada wajah Mama-mama yang bertanya-tanya atau curiga. Mereka bercanda tawa berhias dalam hawa gembira.
Mama-mama sudah siap menabur benih-benih pengetahuan: “Pelatihan pengolahan hasil kebun menjadi produk sehat siap jual“. Dalam kemasan metode pelatihan dengan bahan sederhana dan tentu dengan bahasa Mee sebagai syarat untuk libatkan langsung mama-mama ini. Karena mereka jauh dari memahami dunia Bahasa Indonesia.
Delapan jam berjalan. Mama-mama menyajikan rasa yang bertemu seperti bertemunya harapan dan rindu yang sebelumnya terkubur dalam-dalam. Sepertinya ada sesuatu yang bangkit, atau datang dan menghidupkan harapan untuk bertahan dari kebun-kebun mereka. Bukan lagi sekadar nota yang hanya dibawa dari kebun untuk dijual atau dimakan, tetapi mulai mampir ke dapur-dapur untuk diolah menjadi sajian lainnya.
Karena itulah Mama-mama ini menyerukan. “Keidani keina ena. Keidani keike ewo kodoka.” Kata Tiana Bunai. Artinya ini ‘juga bagus, ini tidak tahu jadi.’ Kalimat ini disampaikan seketika menyaksikan proses dan menjadikan produk yang awalnya hanya dari nota. Bukan saja karena perubahan bentuk tapi juga ketika ada bandingannya dengan produk lain dan lazim dijumpai biasanya.
Sebelumnya mereka mengaku belum pernah lihat dan dilatih. Baru kali ini dapat pelatihan. Kata Paskalina Pigai dalam pelatihan itu, seperti bahasa yang serupa diutarakan Mama Ice Mote, “Bulat keike keiteige kidiya keika keike ewo, ito epi kega“. Artinya ‘kue bulat biasa, biasa buat, tapi yang ini tidak tahu. Ini baru tahu.‘ Salah satu Mama lainnya juga dengan heran berujar: “Wedanu tota, kue kodo kue komugadoke kega“. ‘Menakutkan heran, benar-benar kue jadi kue yang tercipta ini.‘
Seruan-seruan ini justru membakar semangat, untuk langkah kerja berlanjut, sambut-menyambut. Entah iya ataupun bukan, Mama telah memberikan ungkapan agar harus dikerjakan lebih lanjut sesuai pelatihan ini. “Yamo bokaita, tamu taii meii etita. Yoo maki yake“. Kata seorang peserta bahwa ‘ia akan melakukan, akan mengajak tamu datang, setelah masak.‘
Senyum ceria berdatangan. Melagukan ayat-ayat doa ketika merespons pelatih datang ke wilayah Pugodagi. Berkali-kali ekspresi menunjukka kegiatan demikian adalah hal baru di sana. Sehingga semua ini menjadi semacam bertemunya berkah dan memang itulah yang terjadi. “Nitopete bagena ugatame pa petege motitai“, kata mama Ice Mote pada ujung kegiatan tersebut. ‘Yang melatih kita ini akan mendapatkan pahala dari Tuhan.‘
Catatan Wegobi Pigai, pertengahan Sept 2026.
Oleh : Pigai Wegobi/Yapkema
