“Mereka menjual hasil kebun seperti ubi, keladi, sayur, buah-buahan, dan bumbu dapur ke pasar. Mereka menganyam dan menjual noken, menjual pinang, es sirup, bensin eceran, kue, ikut arisan, hingga menawarkan jasa membantu mengerjakan kebun orang lain. Semua dilakukan demi satu tujuan sederhana, agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Perempuan paruh baya kaki kosong itu berdiri tegak penuh kebanggaan di depan kamera. Wajahnya polos, senyumnya sederhana. Dari sorot matanya terpancar kebahagiaan yang tampak jujur dan utuh. Ia mengenakan noken bercorak rasta dengan lambang bendera Bintang Kejora di bagian tengah, lengkap dengan rumbai di sisi kanan-kiri dan bagian bawah. Bintang Kejora itu seringkali bukan sekadar hiasan visual; ia adalah simbol identitas, luka sejarah, sekaligus harapan tentang kebebasan, perlawanan, dan perjuangan panjang masyarakat Papua. Selebihnya, warna dan motif, sepertinya soal kesukaan pribadi.
Di belakangnya, tampak beberapa orang tua wisudawan dan wisudawati lain mengenakan seragam kemeja batik kuning bergambar burung cendrawasih yang sama dengannya. Di tangannya, mama menggenggam kayu ebai, yaitu jaring tradisional untuk menangkap ikan, udang, dan berudu, yang ditegakkan dari tanah. Pada anyaman nilon jaring itu tergantung beberapa ekor ikan. Saya yakin mama ini mau kasih tahu sesuatu melalui ebai itu.
“Anak, hasil dari cari ikan di danau pakai ebai ini, saya pakai biaya dua anak dari SD sampai kuliah. Sekarang ini anak kedua. Dari hasil keringat sendiri, tanpa biaya beasiswa.”
Begitulah pengakuan mama, sambil menunjuk ebai, ketika ditanya mengapa ia membawanya ke acara wisuda oleh teman saya yang memotretnya. Kalimatnya sederhana, tetapi sarat makna. Di sana tersimpan rasa bangga, puas, sekaligus “kemenangan sunyi” atas jerih payah bertahun-tahun. Hari itu, salah satu anaknya diwisuda bersama 401 mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Selasa, 18 November 2025.
Saya berusaha mencari tahu siapa sebenarnya mama ini: nama dan marganya, dari kampung mana ia berasal, siapa anak yang ia dampingi hari itu, dan kisah lengkap di balik momen yang begitu mengharukan tersebut. Namun hingga kini, jejaknya belum juga saya temukan.
Pernah suatu waktu, foto seorang wisudawan laki-laki memegang ebai milik mama itu muncul di beranda Facebook saya, disertai caption penuh pujian tentang perjuangan orang tua. Saya berniat menyimpannya dan menelusuri kisahnya lebih jauh. Namun sebelum sempat saya lakukan, foto itu menghilang begitu saja.
Yang pasti, cinta seorang mama kepada anak-anaknya tidak pernah bisa ditukar dengan apa pun. Ia mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan membesarkan anak sejak hari pertama kehidupan. Ia mendidik dan mendampingi setiap langkah kecil pertumbuhan anaknya. Ia membiayai pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga akhirnya menyaksikan anak keduanya mengenakan toga dan diwisuda. Dalam perjalanan panjang itu, tak terhitung perhatian, kasih sayang, dan pengorbanan yang ia curahkan tanpa pernah meminta imbalan.
Kini, ketika anaknya resmi menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, pasti terselip rasa haru sekaligus lega. Satu tanggung jawab besar sebagai orang tua telah ia tunaikan. Entah dijalani seorang diri atau dibagi bersama suami, yang pasti hari itu ia berdiri sebagai seorang mama yang berhasil mengantarkan buah hatinya mencapai salah satu puncak penting dalam pertandingan panjang bernama kehidupan.
Mama ini hanyalah satu dari sekian banyak orang tua, terutama mama-mama Papua, yang bekerja keras menyekolahkan anak-anak mereka. Mereka menjual hasil kebun seperti ubi, keladi, sayur, buah-buahan, dan bumbu dapur ke pasar. Mereka menganyam dan menjual noken, menjual pinang, es sirup, bensin eceran, kue, ikut arisan, hingga menawarkan jasa membantu mengerjakan kebun orang lain. Semua dilakukan demi satu tujuan sederhana namun mendasar: agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Saya teringat mama saya sendiri. Sejak kami kecil hingga hari ini, ritme hidupnya nyaris tak berubah. Pagi ke kebun, siang pulang, sore berjualan hasil kebun. Kadang dari kebun langsung ke pasar, baru pulang ketika hari su mulai gelap. Mama sering bilang, “pasar itu kami punya kantor.” Dari kebun dan pasar itulah, mama selalu punya uang di dompet. Setiap pagi, anak-anak yang bersekolah pasti dikasih uang jajan. Tetapi jangan berharap mendapatkannya tanpa usaha.
Saya masih ingat satu peristiwa yang paling membekas. Suatu sore di pertengahan 2006, mama pergi menjual keladi, buah jantung pisang, dan rica ke pasar sore SP 1 Nabire. Siangnya, saya bantu memetik beberapa jantung pisang di kebun. Seperti anak-anak pada umumnya, membantu mama tentu ada maunya: berharap esok hari dikasih uang jajan kalau jualan laku. Mama punya prinsip tegas, “kalau mau uang jajan, harus bantu dulu.” Sebuah pendidikan nilai yang menyentak kesadaran bahwa uang tidak datang dengan mudah: harus diperjuangkan; dicari.
Baca Juga : Mama-Mama Kelola Kebun: Tradisi Yang Melekat Hidup
Seperti mama pemilik ebai itu, banyak perempuan Papua memanfaatkan sumber daya alam yang Ugatame (Tuhan) sudah sediakan. Mereka mencari ikan dan udang di danau untuk dijual dan dikonsumsi bersama keluarga. Tapi pekerjaan mereka tidak berhenti di situ. Mereka juga memasak, ke kebun, mengurus ternak, berjualan ke pasar, mengikuti kegiatan gereja, sampai mencari kayu bakar. Pekerjaan yang dalam pembagian peran orang Mee seharusnya dilakukan suami atau anak laki-laki, tetapi kini sering harus mereka pikul sendiri karena ditinggal mati atau terpisah jarak.
Beginilah potret perempuan serba bisa. Mereka mengerjakan hampir semua pekerjaan karena tuntutan hidup, dan karena sering kali tidak lagi dikerjakan oleh anak atau suami.
Bagi perempuan Mee yang menjadikan danau sebagai ruang penghidupan, hari dimulai sejak subuh. Bangun, berdoa, menyiapkan makanan keluarga, memberi makan ternak, lalu berangkat menantang dinginnya angin pagi untuk mengecek pukat yang ditebar sejak sore kemarin. Kaki telanjang menginjak lumpur dan air danau yang dingin, sesuatu yang sudah menjadi bagian dari keseharian bagi mereka.
Suatu hari, seorang mama penjual ikan dari Danau Tigi bagian utara bercerita kepada saya. Hasil tangkapan dari Danau Tigi biasanya dijual di sepanjang Gakokebo, Momaikago, hingga Pasar Wakeitei (Ibu kota kabupaten Deiyai). Dari Danau Tage dan Paniai, ikan dijual di Pasar Enarotali. Sementara mama-mama dari Obano ada yang berjualan di samping Kantor Distrik Paniai Barat.
“Kalau ikan banyak, kami bagi. Untuk makan keluarga, sisanya dijual. Ada juga yang kami kasih ke orang tua di kampung, pendeta, pastor, dan hamba Tuhan. Itu amal kasih, tidak perlu dibayar,” kata Mama Pekei.
Tak jarang, hasil tangkapan juga diberikan kepada guru, mantri, kepala kampung, pegawai, atau anggota DPR, dengan harapan kelak ada bantuan atau balasan dalam bentuk lain. Begitulah kerja keras dan perjuangan mama-mama. Mereka mencari ikan dengan alat tradisional yang ramah lingkungan, bahkan ada yang bermalam di atas danau demi hasil tangkapan lebih banyak. Karena malam hari adalah waktu terbaik mendapatkan ikan.
Baca Juga : Sekarung Beras di Aimas dan Nasib Ekonomi Papua
Uang hasil jerih payah itu dipakai untuk membeli beras, minyak, garam, pakaian, biaya sekolah anak, dan disisihkan untuk kebutuhan mendesak seperti berobat. Mereka mungkin tidak mengenal teori manajemen keuangan, tetapi dalam praktik, tanpa sadar mama-mama telah mengatur keuangan dengan disiplin. Setiap rupiah memiliki tujuan dan prioritas.
Namun ironisnya, mama-mama ini juga yang kerap ditinggalkan dan dibuat semakin menderita bahkan oleh anak-anaknya sendiri, oleh pasangan, dan oleh sistem. Ketika seorang mahasiswa membiarkan orang tua bekerja sendirian, hanya menunggu kiriman bulanan, biaya semester, dan kebutuhan lain tanpa usaha meringankan beban orang tua, maka cinta kepada orang tua sekadar romantisasi kosong.
Saya teringat Mama Goo dari Dogiyai, usianya hampir 60 tahun. Ia datang membawa biji kopi ke UPH Enauto untuk dijual. Biji kopi berupa green bean itu belum disortir dan belum cukup kering. Ia bercerita, kebun kopinya di kampung luas dan berbuah lebat, tetapi anak-anaknya tidak pernah membantu. Anak terakhirnya kuliah di Semarang. Ia mengatakan, pulang kampung pun anaknya tidak pernah menyentuh parang, kampak atau sekop.
“Padahal dari kopi itu mereka disekolahkan. Mereka punya bapa sudah lama meninggal. Saya kewalahan sendiri,” katanya dalam bahasa Mee yang coba saya terjemahkan.
Cerita Mama Goo di atas tentu tidak mewakili semua anak. Tapi kenyataannya, banyak anak muda yang sering lupa pada keringat orang tua. Hidup konsumtif di kota, berfoya-foya, bahkan menambah masalah baru, sementara orang tua di kampung terus bekerja hingga rambut memutih.
Beban berat orang tua Papua dalam menyekolahkan anak tidak hanya karena kemiskinan, tetapi juga persoalan struktural. Pemerintah dan oknum pejabat belum sungguh-sungguh mendemokratisasi program pendidikan, termasuk dana Otsus yang mencapai sekitar Rp1,2 triliun. Program afirmasi pendidikan bagi anak-anak Papua memang ada, tetapi penyalurannya masih sering diwarnai praktik kolusi dan nepotisme.
Pada 2016, saya menulis artikel berjudul “Ko Lulus Tes Karena Ko Pu Bapa Banting Uang” di Koran Harian Pagi Papuapos Nabire. Tulisan tersebut lahir dari pengamatan dan pengalaman pribadi tentang tidak adilnya seleksi beasiswa afirmasi, di mana anak-anak dari keluarga kurang mampu dan berprestasi justru tersingkir, sementara mereka yang memiliki relasi dan uang dinyatakan lolos seleksi tes afirmasi.
Saya sendiri mengalaminya. Lulus dari SMK Negeri 2 Nabire pada 2015, saya mengikuti seleksi beasiswa ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi) namun tidak lolos. Pada 2016, meski sudah kuliah di Yogyakarta dengan biaya mandiri orang tua, saya kembali mencoba seleksi yang sama untuk meringankan beban keluarga, tetapi kembali gagal. Dari hasil seleksi, terlihat peserta dengan nilai lebih rendah justru lolos karena relasi dan uang. Bahkan ada peserta yang mengikuti seleksi melalui kabupaten lain meski tidak memenuhi syarat akademik, namun tetap dinyatakan lolos.
Di titik inilah, ebai mama itu berdiri sebagai simbol perlawanan paling sunyi: kerja keras, kejujuran, dan cinta tanpa pamrih. Ia berdiri di depan kamera bukan hanya sebagai ibu dari seorang sarjana, tetapi sebagai representasi mama-mama Papua yang tetap bertahan. Meski sering ditinggalkan oleh anak-anaknya, oleh sistem, dan oleh negara.
Sehat selalu Mama-mama hebat, di mana pun kalian berada. Ugatame berkati selalu.
Oleh : Herman Degei/Yapkema
