Banjir luapan Danau Paniai telah mengubah kehidupan warga di kampung-kampung pinggiran danau. Koma, perahu tradisional, menjadi penolong di daratan yang terendam air berminggu-minggu. Tak saja merendam rumah dan kebun, juga mencemari lingkungan dengan kotoran. Manusia dan ternak babi terpaksa berbagi ruang pengungsian. Fenomena berulang ini membutuhkan solusi mitigasi permanen dari pemerintah, bukan sekadar bantuan darurat.
Kisah Besina Telenggen, seorang ibu pengungsi dari Pogoma. Terjebak kelaparan bersama 4 anaknya di Sinak, mereka kehilangan akses pendidikan dan masa depan.
Potret nasib ekonomi Papua terungkap bermula dari sekarung beras di Aimas. Pangan lokal tergeser dan pasar dikuasai oleh pendatang. Apa akar masalahnya?
Kisah perjuangan anak muda di Samabusa, Nabire, memberantas judi togel yang merusak generasi Papua di tengah lemahnya penegakan hukum. Aksi langsung mereka hadapi intimidasi hingga berujung pada penutupan agen togel.
Sebuah catatan dari Gome, Puncak, yang melukiskan potret buram anak-anak pengungsian yang kehilangan masa depan. Akibat operasi militer, sekolah mereka dibakar, dan mereka terpaksa tumbuh di tenda-tenda darurat tanpa harapan, hanya ditemani mi instan mentah dan kepulan asap rokok.
Minuman keras (miras) sudah menjadi masalah serius yang mengganggu aktivitas sosial di Enarotali, Paniai. Konsumsi miras berlebihan sudah menimbulkan berbagai masalah sosial dan mengganggu kehidupan masyarakat.
Perjalanan pulang seorang guru dan anaknya berubah mencekam saat terjebak di tengah kerusuhan Dogiyai. Kisah bertahan di antara gas air mata dan palang jalan demi mencapai rumah.
Sebuah kisah seorang warga sipil penyandang difabilitas yang mengalami banyak persoalan hidup, ditambah lagi mengalami pengungsian dari tempat asalnya akibat operasi militer oleh TNI-POLRI. Khalayak masyarakat mungkin saja belum mengetahui kondisi ekstrim dalam kehidupannya. Waganak menyimpan semua luka itu dan mencoba berusaha hidup seperti tak ada masalah.
Tradisi sumbangan sukarela telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat kampung-kampung di Papua, termasuk di Kampung Bomou, Kabupaten Deiyai. Tradisi ini mencerminkan semangat solidaritas dan gotong royong yang tinggi di tengah masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan besar atau mendukung kegiatan-kegiatan penting yang membutuhkan dana dalam jumlah besar.