Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Nabire, Kota yang Sepi Poster Edukasi di Tengah Ancaman HIV Semakin Tinggi

Nabire, Kota yang Sepi Poster Edukasi di Tengah Ancaman HIV Semakin Tinggi

Papan Poster HIV/AIDS
Papan reklame sosialisasi tentang bahaya HIV bagi eksistensi Orang Asli Papua, di trotoar dekat pertigaan Tugu Cendrawasih, Oyehe, Nabire. (Dok. Pribadi)

“Kini, seakan ruang publik kota ini hanya dihiasi poster-poster perayaan, pesta pora politik dan parade ucapan selamat. Kemana kepedulian dan edukasi di tengah angka HIV yang tinggi?”

Ada pemandangan yang khususnya dalam sebulan terakhir menarik perhatian saya ketika melewati jalan poros Bumiwonorejo, Nabire, tepat di sebelah pemakaman sebelum Hotel Adamant. Sebuah billboard potrait berukuran sekitar 5 x 3 meter masih menampilkan informasi Pelantikan dan Rakerda I KNPI Papua Tengah periode 2026–2029 yang berlangsung di Aula Pemda Paniai pada 26 Agustus 2026.

Di billboard itu terpampang foto Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, Ketua dan Sekjen KNPI Pusat, serta Ketua, Sekjen dan Bendahara KNPI Papua Tengah, lengkap dengan logo KNPI dan Provinsi Papua Tengah. Tidak ada yang salah dengan publikasi kegiatan organisasi. Tetapi sekarang sudah akhir September. Kegiatannya sudah selesai satu bulan lalu. “Trus, kenapa poster itu masih parkir di situ?” tanya saya dalam hati.

Poster kegiatan itu dipasang untuk kegiatan pada 26 Agustus. Persis satu bulan lalu, kegiatan sudah lewat, tetapi kenapa masih terpampang di situ? Saya juga kemudian membayangkan, poster dengan ukuran besar seperti itu berapa harga cetaknya, berapa ongkos pasang di billboard situ, yang sampai larut waktunya masih terpasang. Apalagi dari sisi tempat sangat strategis, tentu saja harganya tinggi.

Poster ini saya lihat juga di beberapa titik lainnya, dengan ukuran dan model yang sama dan agak lebih kecil lagi. Berapa keuntungan yang didapatkan oleh vendor periklanan yang punya space rent itu dan sebagainya. Ini juga bisa menjadi peluang bisnis, apalagi di kota yang baru menjadi ibu kota provinsi seperti di Nabire. Jantung kota dari delapan kabupaten yang ada di Provinsi Papua Tengah.

Baliho Pelantikan dan Rakerda Ke-1 KNPI Papua Tengah yang terpasang di papan billboard di Wonorejo, Nabire. (Dok. Pribadi)
Baliho Pelantikan dan Rakerda Ke-1 KNPI Papua Tengah yang terpasang di papan billboard di Wonorejo, Nabire. (Dok. Pribadi)

Sekarang Nabire bukan lagi sekadar kota kabupaten. Nabire sudah jadi ibu kota Provinsi Papua Tengah, kota gerbang dan pusat pergerakan dari delapan kabupaten di sekitarnya. Orang datang dan pergi, Nabire kota transit, urusan pemerintahan terpusat di sini, aktivitas ekonomi dan sosial makin ramai.

Harusnya wajah kota ini juga mencerminkan kota yang sadar, peduli, dan maju. Tapi kalau kita lihat ruang-ruang kota hari ini, yang lebih banyak terlihat justru iklan produk, baliho ucapan selamat dari kepala daerah, poster-poster iklan produk, spanduk kegiatan, baliho ucapan selamat dari kepala daerah, anggota dewan, tokoh partai, OKP, atau tokoh-tokoh publik yang menghiasi beberapa tempat yang bisa dijangkau mata, seperti mata-mata jalan, lampu merah, trotoar, di sekitar toko swalayan dan depan pasar-pasar.

Akan lebih banyak lagi kalau menjelang musim Pilkada atau musim Pileg. Semua poster dan iklan-iklan ini seperti berebut ruang untuk menampilkan diri. Siapa di posisi strategis, dan siapa yang paling mencolok dan berukuran besar. Padahal, dari sisi estetika dan substansi, itu justru kadang menjadi sampah visual yang membosankan. Hampir setiap sudut diisi wajah dan slogan seremonial.

Padahal ruang kota itu bisa dihidupkan dengan cara yang saya pikir lebih bermakna. Poster-poster edukasi perlu dimasifkan lagi. Soal HIV/AIDS, lingkungan, budaya, pendidikan, literasi, hak asasi manusia, kesehatan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, sampai soal kebersihan kota.

Baliho Pelantikan Cabor dari KONI Papua Tengah, yang besar,  terpasang di papan Billboard dekat perempatan Pasar Karang Tumaritis, Nabire. (Dok. Pribadi)
Baliho Pelantikan Cabor dari KONI Papua Tengah, yang besar, terpasang di papan Billboard dekat perempatan Pasar Karang Tumaritis, Nabire. (Dok. Pribadi)

Sebagai anak yang hanya numpang lahir saja di kabupaten asal saya di Dogiyai, tetapi bertumbuh dan menjadi besar di Nabire, saya ingat dulu waktu kami SD, masuk SMP, sekitar tahun-tahun itu (2011 ke bawah), kalau ikut orang tua ke kota, di sepanjang jalan Merdeka, saya paling sering lihat poster-poster edukasi berukuran berkisar 50 cm x 100 sampai 200 cm.

Poster-poster itu dipasang sebagai upaya membangun kesadaran warga tentang HIV/AIDS. Banyak sekali dipajang dengan cara ditanam pakai tiang kayu dan kerangka besi berpapan plat di sepanjang Jalan Yos Sudarso, di sekitar Terminal Pasar Oyehe, di depan beberapa toko swalayan, dan juga di median jalan atau trotoar sepanjang Jalan Merdeka.

Pesan-pesan tentang edukasi HIV itu dilengkapi ilustrasi lukisan dan teks-teks berdialek Melayu-Papua, sehingga terdengar lebih akrab di telinga orang Papua atau yang tinggal lama di Papua. Bahasanya sederhana. Pesannya kuat dan menggugah, mengingatkan warga tentang “tidak baku naik sembarang”, tentang pentingnya setia pada pasangan, bagaimana kita bersimpati dengan para ODHA atau ODHIV tanpa mengucilkan mereka, dan supaya tidak melakukan tindakan-tindakan berisiko yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Poster-poster itu, gambar dan isi teks pesan di depan belakang berbeda, sehingga di sisi depan dan belakang sama-sama memuat pesan. Jadi mau orang datang dari arah mana pun, tetap bisa baca dan tetap diingatkan. Seolah-olah kota ini sedang terus berbicara kepada warganya.

Lalu pernah ada juga satu poster yang ukurannya lebih besar dan sangat mencolok mata. Letaknya di tikungan sebelum Pelabuhan Samabusa, tepat di jalan masuk ke lokalisasi “Belok Kanan”, kompleks prostitusi yang berlokasi di area Samabusa, Distrik Teluk Kimi. Siapa pun yang lewat di situ pasti langsung lihat.

Tulisannya besar dan tegas: “Sedia payung sebelum hujan. Sedia kondom sebelum belok kanan.” Begitu bunyinya. Disertai gambar seorang lelaki berambut keriting dan berjambang lebat, dengan latar payung yang bergambar atau bercorak kondom.[1] Saya pernah beberapa kali melihat poster itu ketika ikut orang tua antar keluarga yang naik kapal dari Pelabuhan Samabusa Nabire.

Setiap kali mobil melambat di tikungan itu, mata saya pasti tertuju ke papan besar itu. Waktu itu sempat terbesit di pikiran saya, “Wah, pesan ini tajam sekali.” Rasanya seperti teguran langsung, tanpa basa-basi. Bisa jadi orang yang tadinya mau datang “main” di lokalisasi, jadi berpikir dua kali dan balik arah pulang. Entah benar-benar pulang, atau mungkin putar balik untuk beli kondom dulu.

Poster kampanye tentang lingkungan di perempatan Kusuma, Karang Mulia, Nabire, yang sudah lama terpasang, tampak dicoret-coret dan tersisih di antara baliho-baliho besar lainnya. (Dok. Pribadi)
Poster kampanye tentang lingkungan di perempatan Kusuma, Karang Mulia, Nabire, yang sudah lama terpasang, tampak dicoret-coret dan tersisih di antara baliho-baliho besar lainnya. (Dok. Pribadi)

Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Nabire waktu itu bersama LSM seperti Youth Specialist HIV and AIDS Project Concern International dan Yayasan PRIMARI bergerak gencar melakukan sosialisasi, lokakarya, penjangkauan, lomba melukis dan menulis bertema HIV/AIDS, serta kampanye terbuka di ruang-ruang publik, sehingga isu ini benar-benar terasa hadir dan tidak dibiarkan tenggelam[2].

Pada saat itu juga kegiatan sosialisasi tentang HIV gencar dilakukan dengan berbagai format dan medium. KPA, Dinas Kesehatan juga melalui puskesmas aktif sosialisasi tentang HIV di sekolah-sekolah. Pada saat kami SD dan SMP di SPC Kampung Bumi Mulia, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, pernah sekolah kedatangan tim dari Puskesmas Wanggar yang memberikan sosialisasi tentang HIV, narkoba, juga tentang penyakit menular seksual dan pergaulan bebas.

Dari banyaknya kegiatan itu, salah satunya pada peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2011, KPA Kabupaten pernah bekerja sama dengan beberapa yayasan dan komunitas yang fokus pada isu kesehatan HIV mengadakan seminar sosialisasi dan diskusi, sekaligus lomba membuat poster sosialisasi HIV/AIDS untuk tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Nabire.

Kegiatannya dibagi dalam beberapa sesi. Mulai dari pengenalan tentang HIV/AIDS secara keilmuan oleh narasumber yang memang berkompeten di bidangnya, lalu dilanjutkan dengan materi tentang bagaimana cara menyebarluaskan edukasi HIV ke masyarakat. Salah satu cara yang ditekankan waktu itu adalah lewat poster-poster edukasi yang dipasang di ruang-ruang publik.

“Saat itu yang pergi mewakili sekolah SMA YPPK Adhi Luhur Nabire itu saya dengan salah satu kawan saya. Di tempat kegiatan itu kami tidak hanya dapat materi sosialisasi tentang HIV/AIDS secara keilmuan, tetapi diperkenalkan juga poster-poster sebagai sarana edukasi masyarakat luas, lintas gender, lintas umur, lintas suku, ras, dan lintas sektoral yang berisi pesan-pesan tentang pentingnya menjaga diri dan juga pasangan, keluarga, teman, dari HIV/AIDS,” kata Topilus Bastian Tebai, salah satu peserta dalam kegiatan itu.

Ia mengungkapkan, di akhir kegiatan itu setelah diperkenalkan berbagai contoh poster, para peserta diminta membuat poster-poster baru untuk kampanye tentang HIV, lengkap dengan ilustrasi gambar dan gaya bahasa Melayu-Papua supaya terasa lebih akrab dengan audiens atau penikmat poster, terutama orang Papua.

Ia juga mengaku, pada kegiatan itulah ia pertama kali berjumpa dengan almarhum Ellya Alexander Tebai, salah satu seniman lukis Papua, yang saat itu menjadi juri lomba tersebut. Para peserta kemudian dibagikan papan plat besi sebagai kanvas untuk melukis poster kampanye HIV, juga peralatan seperti cat dan kuas. Mereka diberi waktu sekitar 3 sampai 5 hari untuk melukis di rumah, lalu hasilnya dikumpulkan ke panitia.

Karya-karya dengan pesan yang kuat, lukisan yang sesuai dengan maksud teks, dan mudah dipahami masyarakat umum, akan dipasang di sepanjang Jalan Yos Sudarso Nabire dan sekitar Terminal Pasar Oyehe.

“Sampai sekarang saya masih ingat, bagus sekali konsep kegiatan dengan cara seperti itu. Selain siswa memperoleh pengetahuan tentang HIV/AIDS lewat seminar dan materi tertulis yang bisa dibawa pulang untuk dipelajari lagi, siswa juga dilibatkan langsung untuk menyebarluaskan pesan-pesan itu. Jadi ada rasa memiliki, kami menjadi subjek. Kegiatan itu juga mengasah dan meningkatkan keterampilan siswa dalam mengekspresikan isu lewat bahasa visual. Siswa tidak hanya jadi penikmat poster atau pamflet yang sudah jadi, tapi ikut menciptakan pesan itu sendiri,” kata penulis kumpulan cerpen Nemangkawi ini.

Karya dari Bastian kemudian menjadi salah satu yang dipilih dan dipasang di trotoar jalan tengah, tepat di depan SMA Negeri 1 Nabire.

“Jadi waktu itu, setiap kali lewat depan SMA Negeri 1, saya selalu sampaikan ke keluarga bahwa karya itu saya yang buat. Ada rasa bangga, dan juga sekaligus saya sampaikan dari mulut ke mulut bahwa kita perlu lindungi diri dan keluarga dari bahaya HIV/AIDS,” katanya penuh semangat saat mengingat kembali pengalamannya.

Lukisan karya Topilus Bastian Tebai di dinding dapur Asrama Pelajar Mahasiswa Dogiyai di Yogyakarta. (Dok. Pribadi)
Lukisan karya Topilus Bastian Tebai di dinding dapur Asrama Pelajar Mahasiswa Dogiyai di Yogyakarta. (Dok. Pribadi)

Pemasangan poster-poster edukasi tentang HIV/AIDS, mulai dari pengenalan dasar, cara penularan, larangan, sampai ajakan untuk melindungi diri, itu sangat penting, apalagi kalau dipasang di ruang-ruang publik. Poster yang dikemas dengan ilustrasi yang kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan bahasanya menyentuh, bisa langsung kena di hati orang yang melihatnya.

Coba bayangkan, kalau poster seperti itu dipasang di trotoar jalan, dekat lampu merah, di pasar, di terminal, atau di depan sekolah. Orang lewat, berhenti sebentar, baca. Besok lewat lagi, baca lagi. Lama-lama pesannya melekat. Tertanam dalam alam bawah sadar dan mempengaruhi laku hidup.

Kalau kita bikin seminar di dalam ruangan, misalnya, memang bagus. Tapi yang dapat informasi hanya orang-orang yang datang di hari itu saja. Kesempatannya cuma sekali. Setelah itu selesai. Beda dengan poster di pinggir jalan atau ruang publik yang mudah dijangkau. Dia seperti berbicara 24 jam. Tidak kenal waktu dan suasana.

Selama bahan posternya kuat, pesannya jelas, desainnya menarik dan gampang dipahami, maka setiap hari orang bisa lihat dan baca. Pesan itu terus ada, tidak hilang. Dan dari situ orang yang sering melihat dan membaca bisa mulai berubah cara pikir dan perilaku. Dalam teori behavior pun didalilkan demikian. Poster bisa jadi pintu masuk percakapan, sekaligus pengingat.

Dalam buku Health Promotion Planning: An Educational and Environmental Approach oleh Lawrence W. Green dan Marshall W. Kreuter, disebutkan bahwa: “Health communication is most effective when messages are visible, repeated, and embedded in everyday environments.” Artinya, komunikasi kesehatan paling efektif ketika pesannya terlihat, diulang, dan hadir dalam lingkungan sehari-hari.

Dalam bukunya yang lain, Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach, Lawrence W. Green juga bilang, media komunikasi kesehatan di ruang publik itu berfungsi sebagai “reinforcing factors”, yaitu penguat perilaku sehat. Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan pengetahuan sekali waktu, tetapi perlu pengingat yang terus-menerus di lingkungan sehari-hari. Dan dalam hal ini, poster-poster di ruang publik, saya pikir adalah termasuk bentuk penguat itu.

Baca Juga : Andai Euforia Piala Dunia Menular pada Kampanye Cegah HIV/AIDS

Poster-poster menarik yang dulu tersusun rapi di sepanjang Jalan Merdeka, Jalan Yos Sudarso, sampai di tikungan masuk lokalisasi Belok Kanan Samabusa, sekarang sudah tidak kelihatan lagi. Seolah-olah mereka hilang bersama waktu. Yang tersisa hanya beberapa. Ada tersisa satu papan reklame di sebelum pertigaan Tugu Cenderawasih Oyehe, yaitu ular naga sedang menelan bola bumi Papua, yang kerangka dan lembaran besi reklame sudah mengalami korosi berat hingga berlubang di berbagai sisi. Gambar dan tulisan tentang edukasi dan peringatan soal bahaya HIV juga sudah usang, hampir tidak terbaca dan kehilangan warna asli.

Saya sudah akrab dengan papan reklame sejak masih SD di tahun-tahun 2004–2005, karena sering lewat di situ bersama Bapak. Saya paling sering bac aitu. Ada beberapa kata-kata di situ yang sangat mengena, apalagi dikombinasikan dengan gambar di bagian kiri, ular naga sedang menelan bola bumi Papua.

“Waspada terhadap AIDS.”

“Oh, tanahku Papua, surgaku, tempat matahari terbit. Siapa pewarismu nanti? Jika manusia Papua layu dan berguguran karena AIDS.”

“Hari ini, tanpa kita sadari, AIDS mulai menyebar mengancam di sekitar kita. Dan hari ini, jika kita tidak cegah, 5–10 tahun mendatang, maka banyak korban terbaring tak berdaya di tanah ini.”

“Mari kitong selamatkan tanah Papua (Kabupaten Nabire) dari ancaman AIDS.”

Gambarnya juga menarik untuk disimak. Ular naga yang menelan bola bumi Papua menandakan secara lugas bahwa HIV/AIDS merupakan ancaman yang sangat besar, agresif, mematikan, dan bergerak cepat dalam sunyi. Virus ini siap menghancurkan serta melenyapkan generasi masyarakat di Tanah Papua.

Kalau pihak-pihak terkait dan kita semua tetap tidak peduli serta mengabaikan langkah-langkah pencegahan dan penyembuhan, maka epidemi ini akan semakin cepat merenggut nyawa masyarakat Papua hingga mengancam kelangsungan hidup kita yang “tersisa” ini di masa depan.

Salah satu poster kampanye HIV yang sudah lama terpasang tampak usang, tertutup daun pohon, dan tidak terawat di trotoar Jalan Merdeka, Nabire. (Dok. Pribadi)
Salah satu poster kampanye HIV yang sudah lama terpasang tampak usang, tertutup daun pohon, dan tidak terawat di trotoar Jalan Merdeka, Nabire. (Dok. Pribadi)

Ada dua buah poster lainnya yaitu di Jalan Merdeka, tepat di depan Masjid Besar. Itu pun berdiri dengan gambar yang sudah pudar, warna yang hampir habis dimakan panas dan hujan, dan tulisan yang tidak lagi jelas terbaca.

Yang lebih ramai di Nabire justru wajah-wajah pejabat di baliho besar, ucapan selamat yang diganti tiap momen, iklan produk, sementara pesan penyelamatan nyawa malah hilang pelan-pelan. Padahal angka kasus terus naik. Ini ironi. Kita hidup di kota dengan ribuan kasus, tapi ruang publiknya sepi dari poster-poster pengingat dan pembuka percakapan.

Nabire ini menjadi salah satu wilayah dengan angka kasus HIV/AIDS paling tinggi di Provinsi Papua Tengah. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Papua Tengah sampai Desember 2025 mencapai 24.777 kasus. Sementara itu, Nabire tetap menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Data semester I 2025 mencatat kasus HIV/AIDS di Nabire mencapai 10.824 kasus.

Angka ini menunjukkan bahwa HIV bukan isu kecil di sini, tapi masalah besar yang menyentuh banyak keluarga dan generasi muda. Tapi kalau saya lihat, upaya yang dilakukan oleh pihak terkait seperti Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di tingkat kabupaten maupun provinsi rasanya masih itu-itu saja. Kadang terkendala anggaran. Trus, yang atur anggaran dalam siapa? Ini kita dalam kerangka Otonomi Khusus.

Seminar dan sosialisasi yang menyasar siswa atau masyarakat luas masih cukup sedikit, sementara poster-poster edukatif tentang HIV/AIDS yang dulu banyak menghiasi ruang publik benar-benar sudah tidak terlihat lagi.

Salah satu poster kampanye HIV yang sudah lama terpasang tampak usang, terkelupas, dan tidak terawat di trotoar Jalan Merdeka, Nabire. (Dok. Pribadi)
Salah satu poster kampanye HIV yang sudah lama terpasang tampak usang, terkelupas, dan tidak terawat di trotoar Jalan Merdeka, Nabire. (Dok. Pribadi)

Sementara itu, kita lihat di Nabire ini, penjualan dan peredaran minuman keras masif. Hampir sepanjang jalan ada toko minuman yang buka 24 jam. Tidak ada Perda yang secara ketat mengatur soal itu. Padahal banyak kasus membuktikan bahwa sebagian masyarakat, anak-anak muda terutama, melakukan seks bebas secara tidak aman dalam kondisi miras, akhirnya terjangkit penyakit ini. Akibatnya penyebaran virus menjadi makin cepat.

Di sisi lain juga, Nabire ini mulai banyak prostitusi online melalui MiChat misalnya. Yang menjadi basis lokasi operasi mereka adalah di hotel-hotel dan penginapan atau homestay. Kita tidak tahu mereka, para ladies ini, apakah positif HIV atau tidak. Karena mereka tidak terkonsentrasikan dan tidak terkontrol secara kesehatan.

Kecuali para PSK di Belok Kanan di Samabusa Nabire, menurut informasi pemberitaan, mereka melakukan pemeriksaan medis seperti tes HIV atau infeksi menular seksual (IMS). Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nabire dan Dinas Kesehatan Nabire secara berkala melakukan sosialisasi, pengawasan serta pemeriksaan medis. Tetapi itu pun bukannya tanpa celah.

Homestay, hotel, bahkan beberapa kos-kosan di Nabire 24 jam terbuka. Di sana ada mobil-mobil yang kita kenal kadang diparkir, tidak tahu sedang bikin apa. Ada orang keluar masuk setelah sebelumnya chattingan di MiChat, lalu berlanjut ke hotel, penginapan, homestay, dan lain-lain. Ini adalah fakta yang sedang terjadi di Nabire.

Salah satu Homestay di Nabire. (Dok. Pribadi)
Salah satu Homestay di Nabire. (Dok. Pribadi)

Di tengah situasi itu, upaya pencegahan yang bisa dilakukan, salah satunya adalah melalui memanfaatkan tempat periklanan, papan billboard, dan membuat papan-papan poster edukasi di beberapa titik yang bisa dijangkau, tidak dilakukan.

Jika demikian, ini bisa disimpulkan bahwa ada pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah dan oknum-oknum tertentu, padahal ada sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Misalnya pasang poster-poster edukasi dan kampanye soal HIV di beberapa titik. Contohnya di Pelabuhan Samabusa Nabire, tempat yang bisa dijangkau oleh mereka yang masuk ke Nabire atau pergi dari Nabire keluar kota.

Atau misalnya di Uwadio Nabire, perempatan dekat Hotel Adamant. Di bagian kiri dan kanan. Sehingga orang yang turun dari pedalaman seperti Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya bisa lihat dan baca. Atau orang dari bagian SP, Wanggar ke sana bisa lihat. Bisa juga dipasang dekat Bandara Nabire, sehingga itu bisa dilihat. Itu adalah langkah mitigasi nyata, salah satunya.

Orang yang melintas, keluar masuk wilayah kota bisa lihat dan baca, dan itu menjadi semacam pengingat visual dan penuntun laku hidup. Contoh seperti yang dilakukan di beberapa kota dan negara Papua Nugini. Ada baliho AIDS yang menyambut para pendatang di garis perbatasan negara Papua Nugini dengan Kabupaten Jayapura, Papua. Seakan hendak mengingatkan kepada para pendatang untuk memakai pelindung agar tidak tertular virus mematikan ini. Persebaran HIV/AIDS di perbatasan kedua negara masih tergolong tinggi.

Baliho AIDS menyambut para pendatang di garis perbatasan negara Papua Nugini dengan Kabupaten Jayapura, Papua. Seakan hendak mengingatkan kepada pendatang untuk memakai pelindung agar tidak tertular virus mematikan ini. Persebaran HIV/AIDS di perbatasan kedua negara masih tergolong tinggi, (Dok. Kompas, 12/08/2007).
Baliho AIDS menyambut para pendatang di garis perbatasan negara Papua Nugini dengan Kabupaten Jayapura, Papua. Seakan hendak mengingatkan kepada pendatang untuk memakai pelindung agar tidak tertular virus mematikan ini. Persebaran HIV/AIDS di perbatasan kedua negara masih tergolong tinggi, (Dok. Kompas, 12/08/2007).

Contoh gambar di atas memperlihatkan sebuah papan reklame besar berwarna hitam dengan tulisan mencolok berbunyi “Lukautim yu yet long AIDS” yang artinya Lindungi dirimu dari AIDS (atau jagalah dirimu dari AIDS). “Noken koap, stap wantaim wanpela tasol o usim kondom.” Artinya, “Jangan berganti-ganti pasangan, setialah pada satu orang saja atau gunakan kondom.”

Masalah yang sedang terjadi di Papua Tengah, khususnya di Nabire, bukan hanya soal angka kasus HIV/AIDS yang masih tinggi. Di satu sisi, penjualan dan peredaran minuman keras semakin terbuka. Di sisi lain, prostitusi online melalui aplikasi seperti MiChat juga mulai banyak dan tempat operasinya berpindah-pindah, mulai dari hotel, penginapan sampai homestay.

Orang bisa janjian lewat aplikasi, kemudian bertemu di tempat-tempat tersebut. Ini yang membuatnya sulit dipantau, termasuk dari sisi kesehatan. Kita tidak tahu apakah mereka pernah melakukan pemeriksaan HIV atau infeksi menular seksual.

Sementara itu, poster-poster edukasi HIV/AIDS yang dulu banyak kita lihat di jalan, terminal, pasar, trotoar dan sekitar sekolah, sekarang hampir tidak kelihatan lagi. Kalau pun masih ada, sebagian sudah rusak, pudar dan tulisannya hampir tidak bisa dibaca.

Yang lebih ramai justru baliho iklan, poster kegiatan, ucapan selamat dari kepala daerah, anggota dewan, tokoh publik dan berbagai macam kegiatan seremonial. Di jalan-jalan, persimpangan, dekat pasar dan tempat-tempat strategis lainnya, wajah dan ucapan seperti itu mudah sekali ditemukan.

Salah satu Billboard iklan di Auri, Nabire Papua Tengah. (Dok. Pribadi)
Salah satu Billboard iklan di Auri, Nabire Papua Tengah. (Dok. Pribadi)

Tetapi poster yang mengingatkan orang tentang HIV/AIDS, kesehatan, lingkungan, pendidikan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, atau persoalan sosial lainnya malah semakin jarang. Padahal, ruang-ruang itu bisa dipakai untuk hal yang lebih penting.

Kalau kasus HIV masih tinggi, kenapa pesan untuk mencegahnya justru hampir tidak kelihatan? Menurut saya, pemerintah dan pihak-pihak yang punya kepedulian terhadap persoalan ini perlu kembali memasang poster-poster edukasi di tempat yang mudah dilihat orang. Di pelabuhan, bandara, pasar, persimpangan jalan, terminal, bahkan di jalur orang keluar masuk Nabire.

Jangan sampai ruang publik kita hanya penuh dengan wajah pejabat dan iklan, sementara pesan yang bisa mengingatkan dan menyelamatkan orang justru hilang. Ruang publik harus kembali berbicara kepada masyarakat.

Oleh : Herman Degei/Yapkema

 

Catatan Kaki :

[1] Johanes Supriono, Memoar dari Tanah Papua, (Sulawesi Utara: BULANDU, 2025), hlm. 28.
[2] Samuel Oktora, https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-tanah-papua-2007/baca/kesehatan-aids-awas-daerah-pedalaman/, diakses pada Sabtu, 26 September 2026, 14:30 WP.

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *