Refreshing Pengetahuan Budidaya & Pasca Panen Kopi Arabika Bagi Masyarakat Adat Paniai

Pada hari Selasa, 14 Desember 2021, dari pukul 09:00 – 14:30 WIT, bertempat di Sekretariat kantor Yapkema, Enarotali, diselenggarakan kegiatan “Refreshing Pengetahuan Budidaya & Pasca Panen Kopi Arabika Bagi Masyarakat Adat Paniai”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 80 petani kopi, yaitu 40 petani dari sentra wilayah Paniai Barat, 40 petani dari sentra wilayah Aradide. Beberapa dinas terkait di kabupaten seperti Dinas …

Antisipasi Kematian Balita, Yapkema dan VA Siapkan Tenaga Pencegah KVA

Hanok Herison Pigai, direktur Yapkema, sedang menyampaikan gambaran umum dalam kegiatan pelatihan penyedia layanan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing, (2/12/2021) di aula kantor Yapkema, kampung Ugibutu, distrik Paniai Timur, kabupaten Paniai. (Dok. YAPKEMA)

Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua mengambil peran dalam upaya pencegahan terhadap angka kematian anak balita (bawah lima tahun). Caranya, melatih penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing (VAS+D).

Pelatihan diadakan Yapkema, Kamis (2/12/2021), yang diikuti para kader Posyandu, tenaga kesehatan Puskesmas, staf Dinas Kesehatan kabupaten Paniai, dan staf Yapkema. Total 12 orang.

Hanok Herison Pigai, direktur Yapkema, mengatakan, pelatihan diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan mengingat seringnya terjadi kasus kematian anak bayi dan balita.

“Nantinya kita akan memastikan bahwa layanan yang diberikan kepada penerima layanan sesuai dengan standar yang berlaku,” kata Hanok.

Vitamin Angels (VA), organisasi non pemerintah asal Amerika Serikat membimbing pelatihan bagi penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan obat cacing yang difasilitasi oleh Yapkema.

Narasumber dari Vitamin Angels, Yuliana Kristina Sitorus (berdiri) saat memberikan materi pelatihan. (Dok. YAPKEMA)

Hanok berharap, dengan pelatihan tersebut peserta menjadi kompeten dalam memberikan layanan suplementasi kapsul vitamin A dan obat cacing.

“Setelah itu para peserta bisa kasih pelatihan serupa kepada rekan lain di organisasinya masing-masing,” katanya sembari minta 12 peserta harus mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar kemudian bisa menjadi pemberi layanan VAS+D yang profesional.

Materi pelatihan diberikan oleh Yuliana Kristina Sitorus dari VA, narasumber yang didatangkan Yapkema.

Diawali dengan pemaparan secara garis besar pelatihan usai sambutan dari penyelenggara, adapun rangkaian yang kegiatan yang diikuti dalam kegiatan itu yakni demonstrasi peragaan pemberian layanan vitamin A dan obat cacing, penilaian pengetahuan VAS+D (pre test), praktik memberikan layanan VAS+D secara berpasangan, dan evaluasi kompetensi.

Evaluasi kompetisi dilanjutkan lagi usai makan siang. Kemudian, materi tentang suplementasi kapsul vitamin A, obat cacing, gizi dan sanitasi, serta dilakukan penilaian pengetahuan VAS+D (post test) sebelum pelatihan ditutup.

Penyakit Mematikan

Dalam pelatihan yang diadakan di ruang sekretariat Yapkema, kampung Ugibutu, Enarotali, Paniai, fasilitator menjelaskan pentingnya vitamin A.

Menurut Yuliana, vitamin A berperan dalam melindungi kesehatan bayi dan anak-anak, meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan angka kejadian dan keparahan dari diare dan campak, serta mencegah kebutaan.

“Vitamin A dapat disimpan di dalam tubuh selama 4-6 bulan, tetapi akan berkurang dengan cepat bila anak terkena infeksi,” jelasnya.

Yuliana menyebutkan vitamin A terdapat dalam makanan, seperti uji jalar, air susu ibu (ASI), pangan hewani seperti daging merah, ikan, dan produk susu, sayuran berwarna hijau, misalnya sayur bayam, juga buah-buahan berwarna merah dan orange kekuningan, serta wortel.

“Kurang vitamin A (KVA) disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang kaya vitamin A dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia yakni sekitar 190 juta anak-anak balita, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara,” bebernya.

Peserta pelatihan saat praktik memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing. (Dok. YAPKEMA)

Data dari WHO tahun 2009, Indonesia masih tergolong negara dengan masalah KVA dengan kategori sedang.

KVA dapat dicegah dengan mendapatkan asupan yang cukup dari makanan yang kaya vitamin A dan suplementasi vitamin A.

“Suplementasi vitamin A merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam menanggulangi KVA. Dua strategi lainnya adalah sosialisasi atau promosi vitamin A dan fortifikasi makanan,” jelas Sitorus.

Mengutip data WHO tahun 2011, satu kapsul vitamin A yang diberikan setidaknya dua kali setahun kepada bayi berusia 6-59 bulan dapat mengurangi angka kematian anak balita sebesar 24%.

“Program suplementasi kapsul Vitamin A pada bayi dan balita sudah diimplementasikan pemerintah sejak tahun 1970-an,” katanya.

Data dari Pusdatin Kemenkes, tahun 2015 suplementasi baru menjangkau 83.5%  anak balita. Itu artinya, masih ada sekitar 6 juta bayi dan balita yang tak terlayani.

Banyak negara yang mengalami KVA, juga terjangkiti kecacingan yang ditularkan melalui tanah.  Kecacingan dapat meningkatkan penyakit infeksi dan menurunkan penyerapan zat gizi pada bayi berusia 12-59 bulan.

“Kecacingan juga berkontribusi terhadap terjadinya KVA dan anemia pada bayi dan balita,” ujarnya.

Upaya untuk mengatasi kecacingan, imbuh Sitorus, adalah dengan cara meningkatkan sanitasi dan kebersihan  lingkungan, serta dengan pemberian tablet obat cacing Albendazole.

“Memberikan tablet obat cacing bersamaan dengan vitamin A kepada anak merupakan salah satu cara paling mudah dan sederhana meningkatkan status vitamin A dan memperbaiki kesehatan anak secara menyeluruh,” tandasnya.

Saat simulasi pemberian layanan VAS+D. (Dok. YAPKEMA)

Menyiapkan Kader

VA selama ini bermitra dengan LSM atau organisasi berbasis masyarakat yang ada di daerah-daerah dengan menyediakan produk dan bantuan teknis.

“VA biasanya menyumbangkan suplemen vitamin A dan tablet obat cacing untuk anak balita, dan suplemen multivitamin untuk ibu hamil. VA hanya menyumbang dalam bentuk barang, tenaga penyuluh, seperti saya fasilitator, dan tidak dalam bentuk uang atau bantuan keuangan,” jelas Yuliana kepada peserta pelatihan.

Saat pelatihan, fasilitator membagikan map berisi alat tulis dan pedoman bergambar yang bertujuan membantu para peserta ketika memberikan layanan VAS+D dan ketika membina orang lain untuk memberikan layanan VAS+D.

Disediakan juga fasilitas untuk praktek pemberian layanan VAS+D, seperti kapsul biru vitamin A 100.000 SI, kapsul merah vitamin A 200.000 SI, tablet obat cacing, cairan pembersih tangan beralkohol, gunting bersih, tisu bersih, kertas putih yang kecil dan bersih, botol kaca untuk menghaluskan tablet, kantong plastik untuk sampah, alat tulis, lembar perhitungan harian, dan buku pendaftaran pemberian VAS+D.

“Ini disediakan bagi para peserta pelatihan untuk bisa memperagakan pemberian layanan VAS+D oleh tenaga kesehatan,” jelas Sitorus.

Kepada para peserta, fasilitator menjelaskan isi pedoman bergambar untuk pemberian kapsul vitamin A dan obat cacing secara bersamaan. Juga membagikan lembaran berisi informasi tentang VAS+D, terdapat pertanyaan sekaligus jawaban.

Misalnya, mengapa harus memberikan suplementasi vitamin A kepada bayi berusia 6 sampai 59 bulan? Mengapa harus memberikan tablet obat cacing kepada bayi berumur 12-59 bulan? Bagaimana cara pemberian vitamin A pada bayi 6-59 bulan? Bagaimana cara pemberian tablet obat cacing kepada bayi 12-59 bulan, sebagai bagian dari proyek distribusi vitamin A secara universal?.

Selanjutnya para peserta dibentuk berpasangan. Satu orang sebagai orang yang kompeten yakni memberikan layanan VAS+D, dan yang satu sebagai orang tua dari anak yang mendapatkan layanan. Kemudian bertukaran, maju ke depan. Semua mendapat bagian.

Kompetensi pemberian layanan VAS+D yang mereka peragakan dinilai dan dievaluasi sesuai tahapan-tahapan. Misal untuk tahapan sambutan selamat datang kepada anak dan pengasuh, cara jelaskan jadwal pemberian, cara sampaikan manfaat pemberian, bahasanya jelas atau tidak, apakah bahasanya bisa disesuaikan dengan konteks setempat? Sudah menguasai materi atau tidak, dan seterusnya.

Saat simulasi pemberian layanan VAS+D. (Dok. YAPKEMA)

Setelah itu, Sitorus memberi umpan balik kepada penyedia layanan tentang setiap tahapan yang sudah mereka lakukan dengan baik dan yang masih perlu dilatih.

Usai uji kompetensi, ada penilaian pengetahuan (post test) bagi para peserta, untuk menguji apakah sudah paham bukan saja teorinya, tetapi prakteknya lagi atau tidak.

Beberapa hal penting disampaikan narasumber di akhir sesi.

Pertama, jangan berikan kepada anak yang sedang menangis. Harus tenangkan anak terlebih dahulu.

Kedua, jangan memaksa anak meminum VAS+D.

Ketiga, jangan menekan hidung anak untuk memaksanya menelan obat.

Keempat, jangan menyentuh anak ketika memberikan VAS+D.

Kelima, kapsul vitamin A dan tablet obat cacing tidak boleh dititipkan kepada pengasuh untuk diberikan dari rumah.

Solusi Atasi Masalah

Yapkema mendapatkan sumbangan vitamin A dan obat cacing. Menurut Hanok, dalam waktu dekat akan diberikan kepada anak-anak PAUD/TK Yegeka dan beberapa TK lainnya di Enarotali.

“Peserta yang sudah mengikuti pelatihan pada hari ini yang akan memberikan layanan VAS+D. Itu sekaligus praktek bagi mereka,” kata Hanok.

Yapkema menurutnya akan terus bekerjasama dengan pihak VA untuk pengadaan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing (VAS+D).

“Ke depannya, bukan saja anak-anak di sekitar Enarotali yang kami upayakan mendapatkan layanan ini, tetapi juga di daerah lainnya, seperti Deiyai dan Dogiyai. Karena banyak anak yang selama ini mengalami kurang vitamin A (KVA) dan kecacingan. Itu masalah. Sebagai LSM, kami akan berupaya untuk membawa solusi atas masalah ini.”

Foto bareng usai pelatihan penyedia layanan dan tenaga kesehatan dalam memberikan suplementasi kapsul vitamin A dan tablet obat cacing di aula Yapkema, Kamis (2/12/2021). (Dok YAPKEMA)

Hanok juga menguraikan sejumlah kasus kematian anak dalam jumlah banyak dan secara beruntun, yang diakibatkan beberapa faktor penyebab.

“Misalnya, kasus gizi buruk dan campak di Asmat tahun 2018 yang menelan 72 korban anak-anak. Terus, 40 bayi dan anak-anak di beberapa kampung di kabupaten Deiyai tahun 2017. Kasus meninggal karena terserang penyakit campak. 27 anak di kabupaten Pegunungan Bintang meninggal dunia akibat wabah diare dan gizi buruk tahun 2018. Juga, masih banyak kasus lain yang tidak terekspos di media,” bebernya.

Fakta selama ini, kata Hanok, banyak anak Papua rentan terhadap serangan gizi buruk, campak, kekurangan vitamin A, cacingan, dan lainnya. Banyak yang tak tertolong lantaran kekurangan obat-obatan di tempat pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan minim, atau bahkan tak ada tenaga kesehatan.

“Hidup sehat adalah hak asasi manusia dan dijamin Undang-undang. Saya lihat ini masalah serius. Dan karena salah satu fokus Yapkema selama ini adalah kesehatan, maka kami bekerja sama dengan Vitamin Angels. Sebagai LSM, kami ingin menjadi perantara antara Vitamin Angels dengan tenaga kesehatan dan anak-anak sebagai penerima manfaat,” tuturnya. (Suarapapua.com)

Tingkatkan Kapasitas Petani, YAPKEMA Latih Sepuluh Kader Petani Kopi di UPH Enauto

Hanok Herison Pigai saat memandu peserta pelatihan di kebun kopi percontohan Yapkema di Idakotu, Mowanemani, distrik Kamuu, kabupaten Dogiyai, Rabu (29/9/2021) lalu. (Dok. Yapkema) Sepuluh kader petani kopi dari sentra wilayah Paniai Barat dan Agadide mengikuti pelatihan penguatan kapasitas yang diadakan Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Enauto Coffee, Idakotu, Mowanemani, kabupaten Dogiyai, Papua, Rabu (29/9/2021). …

Pembagian Bantuan Sepatu untuk 89 Peserta Didik SD Yegeka Paniai

Penyerahan sepatu secara simbolis oleh Sem Pekei, selaku ketua komite sekolah dan Hanok Herison Pigai, selaku direktur Yapkema kepada orang tua/wali (28/8/2021) DOK – Yapkema Sebanyak 89 peserta didik dari kelas II hingga V SD Yegeka Enarotali, Paniai mendapatkan bantuan berupa sepatu dari pihak sekolah pada Sabtu (28/08) di gedung Aula SD Yegeka. Kegiatan pembagian sepatu tersebut dihadiri peserta didik, …

Jadi Petani Mandiri, Petani Kopi Arabika Paniai Butuh Pelatihan, Peralatan Kerja dan Kepastian Pasar

Hanok Herison Pigai, direktur Yapkema saat memaparkan materi Sosialisasi Program di sentra wilayah Paniai Barat (7/8/2021) – Dok: YAPKEMA Wilayah adat Meepago, Papua, dikenal sebagai salah satu penghasil kopi arabika terbaik. Kabupaten Paniai adalah salah satunya. Didukung faktor geografis, iklim, dan luasan areal perkebunan, kopi di wilayah ini pernah menjadi produk unggulan dan terkenal sampai ke Eropa. Sayangnya, produk ini …

Angkatan Kelima, PAUD/TK Yegeka Paniai Wisudakan 32 Anak

Wisudawan-wisudawati PAUD/TK Yegeka berpose bersama kepala dinas Pendidikan kabupaten Paniai, anggota DPRD Paniai, an. Yapkema Papua, dan dewan guru usai acara wisuda, Jumat (11/6/2021) lalu. (Dok: Yapkema) PAUD/TK Yegeka Paniai yang dikelola Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua mewisudakan 32 anak pada tahun ajaran 2020/2021, Jumat (11/6/2021). Kegiatan wisuda dan pelepasan peserta didik angkatan kelima itu tertuang dalam surat keputusan …

Potensi Komoditas Kopi Dapat Bantu Menjaga Alam Papua

Tangkapan layar–Hanok Herison Pigai, Direktur Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) di Papua dalam acara Mari Cerita Papua dan Maluku oleh Yayasan EcoNusa, Rabu (31/3/2021) (ANTARA/Prisca Triferna) Jakarta (ANTARA) – Direktur Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua, Hanok Herison Pigai mengatakan terdapat potensi luar biasa akan kopi Papua yang diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menjadi modal menjaga alam Papua. “Kopi Robusta …

Yapkema Jajaki Pengembangan Kopi Rakyat di Dogiyai

Yapkema Jejaki Kopi

Nabire, Jubi – Komoditas kopi asli Papua memiliki prospek pemasaran cukup menjanjikan. Peluang pasar semakin terbuka seiring perkembangan zaman yang menjadikan budaya minum kopi sebagai gaya hidup pada masyarakat urban. “Saya ingin budi daya kopi rakyat terus berkembang di Papua. Sebab, pemasaran (di tingkat) lokal maupun nasional terus meningkat dengan menjamurnya Kafe,” kata Direktur Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Hanok Herison Pigai, …

Kunjungan EcoNusa untuk Memulai Program Pengembangan Kopi di Paniai

Logo Yayasan EcoNusa/Ist Pada awal pertengahan Februari 2021, dua orang dari Yayasan EcoNusa bersama satu orang peracik kopi (barista) dari Bogor, Septian Mega Prasetya, datang ke Paniai, Papua untuk melakukan asesmen guna memulai program pengembangan kopi bagi masyarakat adat di Paniai. Di Paniai, selama tiga hari (09 – 11 Februari), tim dari EcoNusa ditemani YAPKEMA menemui beberapa Organisasi Perangkat Daerah …

Pendidikan Warga

Pada tahun 1998, Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia merintis dan menyosialisasikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Indonesia yang menyasar desa-desa dan lingkungan masyarakat yang dipandang cukup relevan. Menyadari pentingnya PKBM untuk penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat, pada tanggal 8 April 2014 di Enarotali, Kabupaten Paniai kami membentuk PK3M EPI …