Nabire, NADIPAPUA.COM—Pemilik Enauto Coffee Papua, Hanok Herison Pigai, menilai kopi Papua Tengah memiliki peluang besar untuk berkembang dan menembus pasar nasional maupun internasional. Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama rendahnya produksi, keterbatasan pasokan biji kopi, kualitas hasil panen, serta minimnya keterlibatan generasi muda dalam perkebunan kopi.
Hal itu disampaikan Hanok dalam dialog siaran berjaringan Gerakan Membangun Papua yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) dengan tema Potensi dan Pengembangan Kopi Khas Papua Tengah Menuju Pasar Global yang diselenggarakan pada Kamis, 5 November 2026 pukul 10 Waktu Papua.
Menurut Hanok, peluang pasar kopi sebenarnya sangat menjanjikan. Permintaan kopi, khususnya Arabika, masih terbuka luas, baik di dalam maupun luar negeri. Akan tetapi, produksi kopi di Papua Tengah belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang tersedia.
Ia menjelaskan bahwa produksi kopi di Papua Tengah masih relatif kecil. Untuk wilayah Dogiyai, misalnya, produksi kopi di Lembah Kamu atau kawasan Moanemani diperkirakan sekitar lima ton per tahun. Sementara itu, kawasan Pegunungan Mapia menghasilkan sekitar tiga ton per tahun.
Untuk Kabupaten Deiyai, produksi kopi diperkirakan masih kurang dari satu ton per tahun. Kabupaten Paniai sekitar 1,8 ton per tahun. Sementara itu, produksi kopi Robusta di Kabupaten Mimika juga belum mencapai empat ton per tahun.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa produksi kopi di Papua Tengah masih perlu ditingkatkan apabila ingin memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Hanok memberikan contoh kebutuhan kopi di Nabire yang selama ini ditangani Enauto Coffee. Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di Nabire saja diperlukan sekitar 100 kilogram biji kopi setiap bulan. Kebutuhan tersebut belum termasuk permintaan dari jaringan kedai kopi yang terhubung dengan Enauto Coffee di daerah lain, termasuk Maluku dan Jakarta.
Ia menyebutkan, kebutuhan dari jaringan usaha Enauto Coffee dapat mencapai sekitar 10 ton per tahun. Namun, jumlah tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan pasokan biji kopi dari petani.
“Potensi pasarnya cukup luar biasa menjanjikan. Tetapi, jangankan berbicara pasar internasional, untuk memenuhi kebutuhan di Nabire saja kita masih kesulitan,” ungkap Hanok.
Enauto Coffee dan upaya membuka akses pasar petani
Hanok menjelaskan, keberadaan Enauto Coffee tidak terlepas dari upaya Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) dalam mendampingi masyarakat, khususnya petani kopi di Papua.
YAPKEMA berdiri pada 1999 dan menjalankan sejumlah program, antara lain pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Dalam bidang ekonomi, salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah pembinaan petani kopi.
Melalui berbagai pembinaan dan pelatihan yang dilakukan, muncul kebutuhan untuk menyediakan akses pasar bagi petani. Sebab, pendampingan dan peningkatan kapasitas petani perlu diikuti dengan kepastian bahwa hasil produksi mereka dapat dipasarkan.
Dari kebutuhan tersebut, YAPKEMA menginisiasi pengembangan usaha kopi melalui Enauto Coffee. Kehadirannya diharapkan dapat membantu memasarkan biji kopi yang dihasilkan oleh petani binaan.
Dengan demikian, Enauto Coffee tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan dan penyajian minuman kopi, tetapi juga menjadi penghubung antara petani dengan pasar.
Hanok menjelaskan, jaringan Enauto Coffee terhubung dengan sejumlah kedai kopi di Nabire. Kedai-kedai yang membutuhkan biji kopi dapat memperoleh pasokan melalui jaringan tersebut. Selain itu, Enauto Coffee juga membangun hubungan dengan pelaku usaha kedai kopi di Maluku.
Menurutnya, akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha perkebunan kopi. Petani tidak cukup hanya mendapatkan pelatihan budidaya, tetapi juga harus memiliki jalur pemasaran yang jelas agar hasil kebun memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.
Kopi Arabika Tipika memiliki karakter cita rasa khas
Selain berbicara tentang pasar, Hanok juga menjelaskan karakter kopi Arabika yang dihasilkan petani di wilayah pegunungan Papua Tengah.
Sebagian besar biji kopi yang dipasarkan dan dikonsumsi di Nabire merupakan kopi Arabika. Salah satu varietas yang menjadi perhatian adalah Tipika atau Typica.
Menurut Hanok, Tipika merupakan varietas kopi yang saat ini semakin sulit ditemukan karena keberadaannya semakin terbatas. Padahal, varietas tersebut memiliki karakter cita rasa yang baik dan mampu bersaing dalam kegiatan kompetisi kopi.
Ia menyebutkan, berdasarkan catatan cita rasa kopi dari wilayah Lembah Kamu, varietas Tipika memiliki karakter floral atau aroma menyerupai bunga, fruity atau karakter rasa buah, serta body yang kuat.
Karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan kopi Arabika Papua yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Hanok menilai, kekhasan kopi Papua tidak hanya terletak pada nama daerah asalnya, tetapi juga pada kualitas biji, varietas, proses pengolahan, dan karakter cita rasa yang dihasilkan.
Di sisi lain, ia melihat kebiasaan konsumsi kopi masyarakat di Nabire masih didominasi kopi susu. Sementara itu, kopi yang disajikan melalui metode manual brew, seperti V60 dan Americano, belum banyak diminati.
Di Enauto Coffee sendiri, salah satu menu yang banyak diminati pelanggan adalah kopi susu gula aren, termasuk menu andalan yang dikenal dengan nama Kopi Joni.
Menurutnya, perkembangan kebiasaan masyarakat dalam menikmati kopi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan selera konsumen tanpa meninggalkan kualitas biji kopi lokal.
Kopi Papua pernah menembus pasar internasional
Hanok juga mengingatkan bahwa kopi Papua bukan komoditas baru dalam perdagangan kopi. Menurutnya, kopi dari Papua pernah menjangkau pasar internasional, termasuk Eropa, Amerika, dan Jepang.
Ia menyebutkan, kopi Papua pernah dikirim ke sejumlah negara pada masa sebelumnya. Karena itu, menurutnya, sejarah tersebut perlu menjadi motivasi untuk mengembalikan kejayaan kopi Papua.
Hanok menilai, persoalan utama saat ini bukan sekadar bagaimana memperkenalkan kembali nama kopi Papua kepada dunia, melainkan bagaimana memastikan kualitas dan jumlah produksi mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Nama besar kopi Papua sudah ada, tetapi kualitas juga harus besar. Itu yang penting. Jangan hanya nama besarnya yang dikenal, tetapi kualitas kopinya juga harus kita tingkatkan,” katanya.
Ia menegaskan, upaya mengembalikan kejayaan kopi Papua membutuhkan kerja bersama. Petani, pemerintah, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dunia pendidikan, dan media memiliki peran masing-masing dalam mendorong perkembangan komoditas tersebut.
Pemerintah perlu menyusun perencanaan berbasis data
Dalam dialog tersebut, Hanok secara khusus meminta pemerintah daerah agar lebih serius menyusun perencanaan pengembangan kopi dan kakao di Papua Tengah. Munculnya berbagai merk kopi lokal kemasan yang baru belakangan ini tidak serta merta mencerminkan bahwa kopi kita berkembang. Kemasan gampang dibuat, nama kopi gampang dirancang, tapi produksi berkelanjutan, akses pasar yang pasti, dan jaminan keterlacakan biji kopi hingga ke petaninya adalah aspek pengembangan yang jauh lebih penting.
Menurutnya, perencanaan pembangunan perkebunan tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan atau gagasan umum. Pemerintah perlu memiliki data yang jelas mengenai potensi petani, luas kebun, jumlah produksi, kelompok pendamping, hingga kebutuhan pasar.
Ia mengusulkan agar pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten mulai mendata petani yang masih mempertahankan kebun kopi di wilayah masing-masing.
Selain itu, pemerintah juga perlu mendata yayasan, organisasi, dan koperasi yang selama ini bekerja dalam pengembangan kopi. Beberapa organisasi yang disebutnya antara lain YAPKEMA, Yayasan P5, dll.
Organisasi-organisasi tersebut, menurut Hanok, perlu dilibatkan dalam penyusunan rencana bersama. Dengan begitu, program pemerintah dapat berjalan searah dengan kegiatan pendampingan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak.
Ia juga mengingatkan bahwa dukungan anggaran pembangunan perlu diikuti dengan perencanaan yang tepat dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kita harus mulai dari basis data. Kalau kita hanya berbicara sesuatu yang masih di awang-awang, itu tidak akan pernah tercapai,” ujarnya.
Hanok berharap Gubernur Papua Tengah bersama para bupati dapat membangun koordinasi dan mengajak seluruh pihak untuk menyusun strategi pengembangan kopi secara bersama-sama.
Baginya, pengembangan kopi dan kakao perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat. Kedua komoditas tersebut memiliki peluang pasar yang lebih luas dan dapat disimpan dalam jangka waktu relatif lama setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
Regenerasi petani kopi menjadi tantangan
Persoalan lain yang menjadi perhatian Hanok adalah keterlibatan generasi muda dalam perkebunan kopi.
Ia melihat, dalam sejumlah kegiatan pengembangan kopi, peserta yang hadir masih didominasi orang tua. Sementara itu, keterlibatan anak muda untuk kembali menanam dan mengembangkan kebun kopi masih perlu diperkuat.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah dan seluruh pihak yang bergerak dalam pengembangan kopi di Papua Tengah.
Hanok mengapresiasi keterlibatan sejumlah anak muda yang selama ini telah didorong untuk mengembangkan perkebunan kopi melalui pendampingan YAPKEMA dan pihak lainnya.
Ia menyebut beberapa nama anak muda yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut, antara lain Agustinus Kadepa di Paniai yang sekarang bahkan sudah punya kedai sendiri di Enarotali Paniai, Naftali Pigai, Nikson Kotouki di Deiyai yang baru-baru ini meninggal, serta sejumlah anak muda lainnya di Dogiyai.
Baca Juga : Nikson, Laki-laki Langka itu Pergi Terlalu Cepat
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani dapat dilakukan apabila anak muda mendapatkan kesempatan, pendampingan, pengetahuan, dan dukungan yang memadai.
Karena itu, Hanok berharap pemerintah daerah dapat membangun sebuah gerakan atau platform bersama yang mampu mengajak lebih banyak anak muda untuk terlibat dalam perkebunan kopi.
Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah petani, tetapi juga menyiapkan generasi baru yang memahami budidaya kopi, pengolahan pascapanen, hingga peluang usaha di sektor hilir.
Sekolah kopi di Dogiyai menjadi ruang pembelajaran anak muda
Salah satu upaya yang menurut Hanok perlu mendapat perhatian adalah keberadaan SeKoLaB Kopi Papua (Sekolah Lapangan Kebun Kopi) adalah program pelatihan intensif untuk pemuda-pemudi di wilayah Meeuwodide (Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai) yang diselenggarakan oleh Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) yang beralamat di kampung Idakotu, distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai.
Hanok menjelaskan, sekolah kopi tersebut telah menyelenggarakan satu angkatan pelatihan dan direncanakan berlangsung setiap tahun. Keberadaannya diharapkan menjadi tempat pembelajaran sekaligus ruang pembinaan bagi anak-anak muda yang ingin mengembangkan keterampilan di bidang kopi.
Fasilitas yang tersedia meliputi kebun percontohan atau plot praktik, tempat untuk menampung peserta binaan, serta sarana pembelajaran proses pascapanen.
Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat belajar langsung mulai dari memetik buah kopi hingga mengolahnya menjadi biji kopi siap dipasarkan.
Beberapa metode pengolahan pascapanen yang diperkenalkan antara lain full wash, semi wash, natural process, honey process, dan wine process.
Menurut Hanok, pembelajaran langsung seperti ini penting agar anak muda memahami bahwa pengembangan kopi tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Ada pengetahuan dan keterampilan lain yang perlu dikuasai untuk menghasilkan kopi berkualitas.
Ia berharap sekolah kopi di Dogiyai dapat memperoleh perhatian lebih luas, termasuk melalui peliputan media dan dukungan pemerintah daerah.
Dengan adanya sekolah tersebut, anak-anak muda diharapkan memiliki kesempatan untuk belajar, berlatih, dan kemudian mengembangkan usaha sendiri di sektor perkebunan maupun pengolahan kopi.
Mengajak masyarakat kembali menanam kopi
Pada bagian akhir dialog, Hanok menyampaikan ajakan kepada masyarakat Papua Tengah untuk kembali mengembangkan perkebunan kopi.
Ia menilai kopi memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena dapat disimpan dalam jangka waktu relatif lama dan memiliki pasar yang luas. Dalam dialog tersebut, ia juga menyebut harga kopi berada pada kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000, meskipun jenis, bentuk produk, dan satuan harga yang dimaksud perlu diperjelas.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mulai membangun perencanaan pengembangan kopi dan kakao dengan melibatkan petani, yayasan, koperasi, organisasi masyarakat, pelaku usaha, serta generasi muda.
Hanok juga menyatakan kesiapannya untuk terlibat apabila pemerintah daerah membutuhkan dukungan pemikiran dan pengalaman dalam penyusunan grand design atau rencana besar pengembangan kopi Papua Tengah.
Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data mengenai potensi yang sudah ada, kemudian menyusun strategi pengembangan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Dengan perencanaan yang baik, pendampingan petani, peningkatan kualitas, regenerasi, dan perluasan akses pasar, ia berharap kejayaan kopi Papua dapat kembali dibangun.
“Ke depan, saya pikir kita harus membuat rencana bersama. Apa yang kita lakukan hari ini harus menjadi dasar untuk mengembalikan kejayaan kopi di Tanah Papua, khususnya Papua Tengah,” tutup Hanok.***
Oleh: Manfred Kudiai
Sumber : Hanok Herison Pigai: Potensi Pasar Kopi Papua Besar, Produksi dan Regenerasi Petani Kuncinya
