Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Nikson, Laki-laki Langka itu Pergi Terlalu Cepat

Nikson, Laki-laki Langka itu Pergi Terlalu Cepat

Siapa yang akan lanjutkan kerja fondasi ini?

Sekelumit obituari untuk kawan kami, Nikson Kotouki.

Nikson Kotouki
Foto Nikson Kotouki saat sedang menjemur gabah kopi di greenhouse miliknya. (Dok. Yapkema)

“Nikson itu bagi saya manusia langka. Dia memang cenderung diam, tidak banyak berkata-kata, bicara hanya seperlunya. Tetapi pikirannya selalu berisik. Dia orang yang selalu siap bekerja, sangat hati-hati ketika bicara, dan selalu bisa menyeimbangkan apa yang dibicarakan dengan apa yang dilaksanakan.”

“Akiki kidaa Mapiya kaa, Degei agana kidii ‘mee? Akogei Nikson ki yukuma abata uwegi no kokee. Ito ini Owaapa yakai Petii urus yatete..”

Begitu suara Bapak Kotouki merespons dari balik telepon pada pagi itu, sekitar pukul 9, tanggal 5 September 2026. Suara yang saya kenal itu seperti strom yang menyengat tanpa permisi. Ia orang tua Nikson Kotouki, rekan kerja dan kawan kami yang mengatakan: “Ini kamu anak Degei yang dari Mapia kah? Temanmu, Nikson baru saja meninggal tadi pagi. Ini kami sedang urus mayatnya di rumah”.

Ah, ini tidak mungkin. Saya tidak percaya. Jadi saya tanyakan lagi untuk kedua kalinya, tetapi jawaban Bapak Kotouki tetap sama: Nikson Kotouki meninggal dunia.

Tuhan Yesus, ini benar kah?

HP saya terlepas dari genggaman. Napas sesak. Pikiran jadi kabur. Tidak tahu apakah saya menangis, tetapi air mata jatuh sendiri.

Tiba-tiba lintasan seluruh ingatan peristiwa bersama Nikson berdatangan, menyerbu. Sesaat hampir tak tahu beda antara ingatan, harapan dan realita hari itu. Bagaimana mungkin ini terjadi?

Ingatan pertama adalah sebuah pertemuan dengannya saat Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua menyelenggarakan Sekolah Lapangan Budidaya Kopi Konservasi (SekoLaB Kopi) pada tahun 2022. Kami bersama sebulan penuh sampai program itu selesai. Nikson kemudian memilih bergabung dengan YAPKEMA sebagai staf lapangan di Deiyai untuk menjalankan Program Owaadaa pada tahun 2023. Ia juga sempat menjadi Manajer Kesehatan di program itu, sebelum kembali ke posisi semula sebagai staf lapangan.

Praktek membuat rorak di kebun kopi percontohan bersama peserta SekolaB Kopi (2022), UPH Enauto Dogiyai (Dok. Yapkema)
Praktek membuat rorak di kebun kopi percontohan bersama peserta SekolaB Kopi (2022), UPH Enauto Dogiyai (Dok. Yapkema)

Sejak di SekoLaB Kopi itulah saya jadi sering bertemu Nikson. Saya sering ke rumah mereka di Motano, Kampung Bomou II, Deiyai untuk memantau keberlanjutan rencana tindak lanjut dari peserta sekolah kopi. Saat itu Nikson yang memperkenalkan saya ke orang tuanya. Sejak itu saya sering berkunjung, bahkan beberapa kali bermalam. Karena itu saya segera kenali suara Bapak Kotouki saat menjawab telpon mengabarkan berita duka itu.

Pemuda Petani Kopi yang Tekun dan Sabar

Sebetulnya saya menelepon untuk menginformasikan kabar baik bahwa 8 bungkus kopi bubuk Arabika 200 gram yang Nikson titipkan untuk kami jual sekaligus promosikan di Sorong sudah terjual habis di hari kedua. Saya juga mau mengirimkan uang hasil penjualan tersebut. Cerita tentang aktivitas Nikson menggagas pengembangan kopi Deiyai juga sudah terbagikan, karena selain produknya, YAPKEMA Papua membuatkan profil singkat tentang dirinya. Kami ingin kerja kerasnya itu menjadi cerita inspirasi dan diketahui orang lain.

Nikson adalah sarjana pertanian muda Deiyai lulusan Universitas Ottow Geissler Papua (UOGP). Sepulang mengikuti pelatihan sekolah kopi Papua yang diselenggarakan YAPKEMA Papua, ia menghidupkan kembali kebun kopi lama milik bapaknya. Ia juga membuka lahan baru dan mulai menanam kopi arabika.

Profil singkat Nikson Kotouki, dan produknya "Kopi Arabika Deiyai" (Dok. Yapkema)
Profil singkat Nikson Kotouki, dan produknya "Kopi Arabika Deiyai" (Dok. Yapkema)

Dengan pendampingan YAPKEMA serta dukungan peralatan dari dinas terkait, Nikson bahkan mampu melakukan pengolahan kopi secara mandiri, mulai dari proses pascapanen, pengupasan, penyangraian, hingga menghasilkan roasted bean dan bubuk kopi yang siap dipasarkan.

Pada Giat PAPEDA SUMMIT 2026 yang digelar di Sorong, YAPKEMA diundang untuk ikut menjadi peserta. Di sana ada PAPEDA Expo, pameran yang menampilkan berbagai inisiatif, praktik baik, inovasi, dan produk yang dikembangkan oleh masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat dampingan LSM dari berbagai provinsi.

Pada kesempatan itu YAPKEMA membawa Kopi Arabika dari Modio, Kopi Moanemani, Kopi Paniai, keripik nota/petatas Dogiyai dari mama-mama dampingan ekonomi Owaadaa Dogiyai, serta buku cerita anak bergambar dua bahasa (Indonesia–Paniai). Secara khusus ikut membawa kopi Deiyai hasil produksi Nikson agar lebih dikenal luas karena kopi Deiyai masih belum dikenali pasar seperti kopi Moanemani – Dogiyai dan Paniai.

Perkenalan dan perkawanan saya dengan Nikson sejak sekolah kopi hingga menjadi tim kerja di Yapkema terus berlanjut hingga detik itu. Nikson adalah anak muda yang paling serius mengikuti seluruh rangkaian Pelatihan Sekolab Kopi Papua. Pelatihan Sekolab Kopi Papua bersifat sekolah lapangan (field school), dengan pola asrama, berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 3 Mei sampai 2 Juni 2022. Sekitar 80 persen kegiatan berupa praktik di kebun, sedangkan 20 persen pembelajaran dilakukan di kelas.

Bagian yang paling berkesan bagi Nikson yang selalu ia ceritakan adalah materi Sekolab Kopi Papua yang disusun secara bertahap, mulai dari pengantar dan pengenalan Sekolab, identitas serta kehidupan ekonomi Orang Mee, pembangunan karakter dan kemandirian pemuda, kemudian dilanjutkan dengan sejarah dan potensi kopi Arabika di wilayah Meeuwo, teknik budidaya kopi, pertanian organik, konservasi dan sistem agroforestri, hingga panen, pascapanen dan pengolahan hasil kopi.

Praktek penyemaian biji kopi saat SekolaB kopi. (Dok. Yapkema)
Praktek penyemaian biji kopi saat SekolaB kopi. (Dok. Yapkema)

Peserta juga diperkenalkan pada bagaimana hasil kebun, baik di pekarangan rumah maupun kebun, bisa dikembangkan menjadi sumber ekonomi, baik untuk Owabee, yaitu memenuhi kebutuhan sendiri, maupun Edepedee, yaitu memenuhi kebutuhan pasar. Ada juga sesi-sesi pemutaran dan diskusi film dokumenter yang berkaitan dengan pelatihan yang diselenggarakan.

Saat itu, saya dipercaya menjadi semacam kepala sekolah untuk pelatihan intensif itu. Kami menyusun semacam kurikulum yang dibagikan juga ke peserta. Suatu waktu di akhir pelatihan itu kami pernah berdiskusi dan Nikson pernah bilang:

“Adoh, saya tertarik sekali dengan kopi. Kopi ini emas hijau ini. Ternyata potensi ini bisa menghidupkan ekonomi keluarga, dan bagian dari upaya mempertahankan tanah adat yang kita punya. Saya mau serius kembangkan kebun kopi lama yang bapak punya di kampung, dan tanam lagi. Saya mau belajar budidaya dan perawatan kopi. Saya mau belajar pascapanen, sampai bisa buat bubuk sendiri, dan bikin kafe atau kedai sendiri. Kalau kita punya kaka-kaka seperti Bapak Hanok bisa bikin kafe Enauto di Nabire, yang di situ menjadi pusat oleh-oleh kopi Arabika dari Meewudidee seperti Paniai, Deiyai, Dogiyai bagian Lembah Kamuu dan kopi Modio, kenapa kita yang lain tidak bisa. Mau sampai kapan kita minum kapal api saja, dong punya produk saja, padahal potensi tanah di 3 kabupaten ini bisa dikelola untuk kembangkan kopi Arabika.”

Nikson orang yang tidak banyak bercerita, bicara seperlunya saja. Dia berbicara sangat hati-hati, seolah dia berbicara tetapi sambil memastikan apa yang dia bicarakan itu harus bisa dia imbangi dengan tindakan nyata.

Nikson bercerita dan menyatakan komitmen saat itu, “Kalau saya sudah ikut pelatihan di sini selama satu bulan, tetapi tidak kembangkan, itu akan sia-sia. Nanti pengetahuan dan semua keterampilan yang saya dapatkan tidak berguna. Karena itu, saya mau kembangkan itu.”

Niat Nikson itu menjadi “agak mulus” karena bapaknya juga, walaupun seorang guru di SMP YPPGI Bomou dan dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Walter Post Kampus VI Deiyai, punya kebun kopi dan memimpin sebuah kelompok usaha tani.

Belajar sortir kopi saat SekolaB kopi, 2022. (Dok. Yapkema)
Belajar sortir kopi saat SekolaB kopi, 2022. (Dok. Yapkema)

YAPKEMA pernah, kalau tidak salah pada tahun 2018 atau 2019, membuat greenhouse mini untuk tempat penjemuran biji kopi, karena iklim di daerah Meeuwo hujan tidak menentu turun dan sering dengan intensitas tinggi. Tempat pengering kopi itu sampai sekarang masih ada. Ada gudang kecil dan beberapa alat kopi yang pernah dibantu Pemda. Dengan bekal pengetahuan yang didapat itu Nikson mengoperasikan dan mengembangkan semua fasilitas itu. Tempat penjemuran juga dipakai Nikson untuk menjemur kopi.

Akhirnya di tahun 2022–2023 itu Nikson fokus merawat kebun yang ada dan membuat kebun kopi baru. Dia sempat memasok biji kopi Deiyai ke Enauto Coffee, usaha kafe dan kopi kemasan yang digagas oleh Direktur Yapkema, Bapak Hanok Herison Pigai. Ia bahkan juga membantu menjual kopi saset Enauto atau istilahnya menjadi agen kopi saset dalam kemasan yang lebih sederhana dengan harga yang terjangkau. Kopi saset 25 gram dijual dengan harga 15 ribu. Dari hasil penjualan itu, dia dapat 5 ribu dari setiap bungkus. Nikson melakukan semua itu dengan setia. Selain mendapatkan uang dari biji kopi hijau, ia juga bisa dapat tambahan dari menjual kopi sasetnya.

Biasanya dari Enauto akan produksi 100-300 bungkus dan kirim titip lewat mobil penumpang. Dari Deiyai, Nikson ambil dan jual. Dia memanfaatkan jaringan pertemanan, komunikasi secara langsung, dan juga promosi melalui media sosial seperti pakai story WA, Facebook, Instagram. Dia buat poster penjualan dan bagikan di media sosial, lalu promosi. Kopinya laris manis dan lancar terus. Banyak teman-temannya, kenalan yang datang beli, bukan hanya dari Deiyai, tetapi juga dari Paniai dan Dogiyai.

Awal 2025 itu dia pernah cerita ke saya, kebetulan ada dapat bantuan mesin penggoreng dari Pemda. Dia belajar secara otodidak di YouTube, pernah juga turun ke Nabire tanya-tanya ke Mas David di Kafe Enauto Bukit Meriam, soal bagaimana cara goreng kopi, dia punya tingkat pemanggangan kopi, sampai tingkat kehalusan kopi bubuk, cara penyimpanan dll, karena dia sudah pesan juga mesin grinder kopi.

Pelan-pelan dia mulai memproduksi sendiri kopi bubuk dari kebun mereka sendiri. Dan mulai 2026 sudah sering produksi di rumah. Hasilnya dijual dan juga diberikan untuk dirasa oleh kenalan atau teman, serta keluarga.

Foto Nikson dan temannya, waktu membeli kopi saset. 
(Dok. Yapkema)
Foto Nikson dan temannya, waktu membeli kopi saset. (Dok. Yapkema)

Nikson baru berumur 31 tahun Mei tahun ini. Ia anak pertama dari 6 bersaudara. Tiga adiknya sudah meninggal, hanya tersisa 3 orang. Tambah dia lagi sekarang, sisa 2. Yang masih hidup sekarang adalah 1 adik perempuan. Setamat SMA ia melanjutkan kuliah di Jayapura, namun pulang dan lanjut sekolah di Nabire. Dan satu laki-laki. Sementara adik laki-laki Nikson setamatnya SMA tahun 2024, lanjut kuliah tetapi mengalami sakit gangguan jiwa. Ia sempat berobat di rumah sakit jiwa Jayapura dan sekarang sedang di Deiyai.

Pada formasi CPNS 2024 itu Nikson lolos sebagai Penyuluh Pertanian Ahli Pertama kategori Orang Asli Papua (OAP). Tetapi itu tidak membuat dia meninggalkan kebun dan usaha kopi, sekaligus kerjanya bersama kami sebagai staf YAPKEMA Papua. Dia mencintai pekerjaannya bersama kami. Selalu senang setiap ada waktu berkumpul di dalam rapat, bertukar kabar cerita dan canda. Karena kami bertugas di divisi yang berbeda dan kota yang berbeda, tak selalu kami bisa bertemu.

Nikson sosok yang setia. Ia setia berkarya di Deiyai, ia setia mendampingi program kami di Deiyai. Kepada temannya, dia pernah bilang bahwa walaupun saya sudah jadi CPNS, saya tidak mau tinggalkan YAPKEMA karena waktu saya baru selesai kuliah itu, saya bergabung melalui sekolah kopi, jadi staf, dan saya dapat honor tiap bulan dari kerja mendampingi masyarakat melalui program Owaadaa di Deiyai itu dari YAPKEMA.

“Saya mulai terinspirasi untuk kembangkan kopi juga itu dari Direktur YAPKEMA Papua yang melalui divisi ekonomi mula-mula buat kafe kopi di Nabire. Siapa yang tidak tahu Kafe Enauto di Nabire, karena cukup terkenal,” katanya.

Nikson orang yang tidak banyak bicara, tetapi saya kira saya punya cara tersendiri untuk buat dia bisa bercerita dan kami berdiskusi. Nikson adalah juga pembaca buku, dekat dengan gereja, juga biasa duduk dengan orang tua di rumah maupun emaawaa. Sehingga wawasan dan pengetahuan dia cukup luas.

Di rumah, Nikson adalah pekerja keras yang pintar sekali bagi waktu. Di pekarangan rumahnya di Bomou 2 yang sudah berpagar itu, bersama bapak dan mama pelihara ternak ayam, bebek, babi, ada juga kolam ikan lele jumbo dan mujair, serta ikan mas. Ada beragam tanaman pangan, juga beberapa di antaranya tanaman herbal. Urus kebun kopi, kebun ubi dan sayur, bersama keluarga.

Foto bersama Alm. Nikson beserta Mama dan Bapaknya di rumah Nikson pada 2022. (Dok. Pribadi)
Foto bersama Alm. Nikson beserta Mama dan Bapaknya di rumah Nikson pada 2022. (Dok. Pribadi)

Saya ingat, pertama kali saya pergi ke rumah Nikson dan bermalam di sana, bapaknya bunuh dan potong ayam jantan kampung besar. Beli sagu di pasar, dan malam itu kami santap bersama. Katanya, “ini semacam perayaan”, karena hari ini temannya yang datang dari jauh bermalam di rumah Nikson.

Saya ingat malam itu suasana rumah hangat karena anak, bapak dan mama saling bekerja sama mempersiapkan makan. Karena ada dua tungku api di rumah Nikson saat itu, bapak dan mamanya berbagi tugas untuk makan malam secara simultan. Mama masak sayur dan nasi di tungku 1, bapak masak ayam kuah kuning dan papeda di kompor. Sementara saya bersihkan bumbu bersama Nikson dan kedua adiknya saat itu.

Sungguh sebuah kerja sama yang indah, semua ambil bagian secara setara dalam menyiapkan makanan di dapur. Tidak ada istilah dapur yang adalah ranah domestik adalah urusan perempuan saja. Saya amati, dan kemudian simpulkan Nikson tumbuh dari lingkungan keluarga yang terbuka dan egaliter.

Rasa memiliki Nikson dan rasa penyatuan dengan kebun, serta ternak piaraannya juga besar. Melekat dalam dirinya menjadi tradisi bahwa memberi makanan bagi ternak dan merawat tanaman yang ada di rumah maupun kebun adalah tanggung jawab dan kewajiban. Ia sering berkelakar bersama ayam-ayamnya juga kelinci. Oiya, waktu itu dihari akhir sekolah kopi semua peserta dibagikan bibit ternak kelinci, agar peserta memeliharanya dan menggunakan kotorannya untuk pupuk tanaman kopi. Nikson adalah satu-satunya peserta yang sukses mengembangbiakkan kelincinya. Saya rasa kunci suksesnya dia ada di kasih. Ia sangat mengasihi ternak-ternaknya. Bagi yang mengikuti status-status Nikson di no whatsappnya dulu, bisa ikut terhibur dialognya bersama ayam dan kelinci-kelincinya.

Nikson sedang memberi makan ternak kelincinya (Dok. Pribadi)
Nikson sedang memberi makan ternak kelincinya (Dok. Pribadi)

Nikson memang beda.

Hal itu juga misalnya terlihat dari Nikson yang tidak akan berlama-lama di Nabire. Kalau rapat staf YAPKEMA Nabire tanggal 9 dan 10, maka tanggal 8 dia turun dan tanggal 11 itu naik ke Deiyai. Tidak akan berlama-lama di Nabire ataupun di mana pun tanpa ada urusan yang pasti dan mendesak.

“Ah, saya tidak bisa berlama-lama di luar Deiyai, karena ada ternak dan kebun di atas (Deiyai),” kata Nikson saat suatu ketika saya tanya, kenapa macam tidak bisa tinggalkan Deiyai.

Suatu waktu Nikson pernah update story, sedang memegang sekop, sedang angkat bedengan untuk ditanami ubi/patatas di pekarangan rumah. Beberapa hari sebelumnya dia juga posting foto, beberapa bedengan ubi yang baru dibuat dan sudah ditanami di kebun pinggiran Danau Tigi.

Saya balas status WA-nya itu, “Luar biasa Pak Guru.” Beberapa menit kemudian dia balas:

“Hormat Pak Guru. Saya pikir kalau kita bicara Papua itu saya punya tanah, Papua bukan tanah kosong, tetapi di saat yang sama kita tidak bisa pegang sekop, parang, kapak, untuk kelola tanah, itu percuma. Kita dengan tanah kita sendiri tidak terhubung, dan orang lain bisa dengan gampang ambil kita punya tanah,” katanya melalui WA.

Biasanya Nikson bicara hanya seperlunya saja. Dia bicara atas tindakannya, dan saya tahu orangnya, dia akan terus seperti itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu lebih bermakna.

Tiba-tiba saya teringat kata-kata terkenal dari Che Guevara, revolusioner Marxis Argentina yang menjadi komandan gerilya Kuba, idola banyak anak muda, bahwa “Words that do not match deeds are not important”, artinya kata-kata yang tak sesuai tindakan itu tidak penting atau dengan kata lain tindakan nyata jauh lebih penting daripada sekadar janji atau bicara-bicara.

Nikson Kotouki saat sedang mengikuti rapat terakhir bersama Yapkema, 21 Agustus 2026 (Dok. Yapkema)
Nikson Kotouki saat sedang mengikuti rapat terakhir bersama Yapkema, 21 Agustus 2026 (Dok. Yapkema)

Bagi saya, apa yang dia sampaikan itu bukan sekadar kata-kata. Dia menjalankan apa yang dia pikirkan. Dia bicara tentang tanah, sambil tangannya juga bekerja di tanah. Dia pegang sekop, buat bedengan, tanam ubi, baik di pekarangan rumah maupun di kebun pinggiran Danau Tigi.

Karena di situlah hubungan kita dengan tanah tetap ada. Kalau kita hanya bilang punya tanah, tetapi tidak pernah mengelolanya, sama seperti kata Nikson, lama-lama kita sendiri akan jauh dari tanah itu secara fisik ataupun spiritual (alienasi dari tanah air). Mungkin itu yang selama ini dia pikirkan dan coba dia lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.

Tetapi Nikson kini sudah pergi…

Dari hasil cerita-cerita kami di Dogiyai pada 2022 itu, setelah pulang dia terus mengembangkan ilmu dan keterampilan yang didapat selama mengikuti pelatihan. Sekarang, di tahun 2026, Nikson sudah bisa memproduksi kopi bubuk sendiri, baik untuk konsumsi di rumah maupun untuk dijual.

Ini sesuai dengan materi yang dipelajari di Sekolab Kopi, bahwa kopi dari kebun bisa diolah sendiri sampai menjadi bubuk, kemudian dikonsumsi sendiri bersama keluarga sebagai bagian dari Owaabee, dan sebagian lagi dijual untuk mendapatkan pendapatan ekonomi bagi keluarga melalui Edepedee.

“Kalau sudah bisa buat kopi bubuk, sa mau bikin kedai kopi atau kafe seperti Kafe Enauto Kaka Hanok punya. Kaka Hanok sudah mulai dan buktikan bahwa anak Papua juga bisa, asal ada kemauan dan konsisten. Sa juga mau seperti itu. Walaupun sa ada dapat pekerjaan lain, kopi ini tetap sa mau kembangkan di Deiyai,” kata Nikson saat itu. Saya masih ingat betul kata-katanya.

Dan sekarang, dia sudah mendekati rencana itu. Dia sudah kumpul-kumpul uang dan mulai menjajal peluang untuk mewujudkan rencana tersebut.

Saya pernah ceritakan rencana Nikson itu kepada Pak Hanok Herison Pigai, sebelum kami membawa produk kopi milik Nikson ke Sorong beberapa minggu lalu. Pak Hanok senang sekali dan bangga dengar informasi itu. Ia bahkan mengatakan akan membantu sedikit modal untuk Nikson mewujudkan mimpinya itu, yang rencananya mulai dibangun pada 2027.

Apalagi, sesuai pembicaraan sebelumnya, Nikson sudah memiliki calon tempat di Wakeitei, pusat perkantoran dan kota Kabupaten Deiyai.

“Anak muda seperti Nikson itu kita tentu akan dukung. Dan Nikson sudah teruji dengan pengalaman. Tolong nanti Herman ingatkan saya yaa…” kata Pak Hanok saat itu.

Nikson sedang memberi makan ikan di kolam dalam pekarangan rumah, 2022. (Dok. Yapkema)
Nikson sedang memberi makan ikan di kolam dalam pekarangan rumah, 2022. (Dok. Yapkema)

Nikson itu bagi saya manusia langka. Dia memang cenderung diam, tidak banyak berkata-kata, bicara hanya seperlunya. Tetapi pikirannya selalu berisik. Dia orang yang selalu siap bekerja, sangat hati-hati ketika bicara, dan selalu bisa menyeimbangkan apa yang dibicarakan dengan apa yang dilaksanakan.

Di Papua, terutama di Deiyai, anak-anak muda yang paham soal Papua banyak. Anak-anak muda yang paham bahwa tanah yang diwariskan leluhur itu subur dan bisa dikelola untuk manfaat ekonomi sekaligus ekologis, misalnya dengan menanam kopi, juga banyak. Anak-anak muda yang paham situasi ketertindasan dan marginalisasi orang asli Deiyai dan Papua dari berbagai aspek, ekonomi, pendidikan, dan lainnya, juga banyak.

Tetapi yang tahu dan dengan kesadaran yang ada mau meresponsnya secara konsisten, saya sulit menyebut referensi orang lain selain orang seperti Nikson.

Dia fokus pada urusan dalam rumah, pekarangan rumah, kebun, ternak, dan pekerjaan lain yang dipercayakan kepadanya. Itulah dasar (orang Mee bilang, Kaboo). Dia bisa atur waktu. Tidak suka mobilitas yang tidak perlu, tetapi justru menyibukkan diri dengan kerja-kerja Oodaa Owaadaa, yaitu budaya kerja Orang Mee yang berangkat dari rumah, pekarangan, kebun, ternak, pangan, keluarga, dan kemandirian.

Nikson, yang sibuk mengurus kebun, ternak, pekarangan, pekerjaan dan mendampingi masyarakat, saya melihatnya sebagai orang yang sedang menghidupi nilai-nilai Oodaa Owaadaa itu sendiri.

Nikson di kebun kopinya. (Dok. Pribadi)
Nikson di kebun kopinya. (Dok. Pribadi)

Secara pengalaman, dia juga sudah teruji. Ada tawaran kerja ini, kerja itu, dia bisa memilah dan menolak yang tidak perlu. Dia tahu orientasi hidup yang berakar pada prinsip dan budaya. Dia punya skala prioritas.

Sekarang dia sudah menjadi pegawai, menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan memimpin tim kerja penyuluhan di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai. Tetapi pekerjaan itu tidak membuat dia lupa kebun, ternak, pekarangan, dan kerja-kerja LSM dalam mendampingi masyarakat adat (indigenous people) di Deiyai.

Bagi saya, di situlah letak perbedaan Nikson. Dia tidak banyak bicara tentang apa yang harus dilakukan. Dia memilih melakukannya.

Begitulah Nikson. Laki-laki langka. Bintang Kejora yang mati muda. Sial sekali.

Deiyai dan Papua secara umum kehilangan satu pemuda yang, meminjam kata-kata Bapak Benny Giyai, berpikir dan bertindak revolusioner. Revolusioner sejati. Nikson pergi meninggalkan kita semua dengan kematian yang tidak wajar, itu fakta.

Dan hingga detik ini, saya masih membayangkan bagaimana sekarang keadaan kebun warisan bapaknya. Bagaimana kebun kopi baru yang baru Nikson tanami itu? Bagaimana kondisi gudang kopi mini, tempat penjemuran, bagaimana ternak dan tanaman pekarangan, bagaimana kolam ikan di samping dan belakang rumah, bagaimana kopi bubuk yang sudah mulai dia produksi, bagaimana kelanjutan rencana bikin kedai kopi. Siapa orang seperti dia yang akan melanjutkan semua itu?

Sumpah. Terlalu cepat, Tuhan ambil dia dan itu rasanya tidak adil.

Kami kehilangan dan merindukanmu, Nikson, Pak Guru.

Doakan kami dari sana. (*)

Oleh : Herman Degei/Yapkema

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *