Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Dari Rasa Malu hingga Berani Bertanya: Catatan Kecil Pelatihan HIV/AIDS di Nabire

Dari Rasa Malu hingga Berani Bertanya: Catatan Kecil Pelatihan HIV/AIDS di Nabire

Maria Douw membagikan selebaran kuesioner kepada peserta pelatihan Tematik III (Dok. Yapkema)
Maria Douw membagikan selebaran kuesioner kepada peserta pelatihan Tematik III (Dok. Yapkema)

“Kalian adalah harapan orang tua. Mereka mengirim kalian ke sini untuk sekolah. Jangan sampai orang tua menangis dua kali—karena biaya dan karena kehilangan nyawa kalian.”

Siang itu, 26 September 2026, Pelatihan Tematik III YAPKEMA tentang Pencegahan HIV dan Hidup dengan HIV/AIDS dimulai. Empat anak muda menyapa kami yang sedang sibuk mempersiapkan ruangan. Tiga perempuan dan seorang laki-laki. Langkah mereka pelan, diiringi sapaan hangat khas suku Mee, “Kipo motii.”

Seorang dari mereka menyapa cukup berani, sementara tiga lainnya masih tampak enggan dan malu-malu. Dari cara mereka meminta izin dan bersikap, santunnya langsung terasa. Rasa penasaran mendorong saya untuk menghampiri dan duduk bersama mereka di sudut kanan aula Asrama Paniai, Kali Bobo, Nabire.

“Kakak, saya kira kakak orang Mee,” ujar salah seorang dari mereka saat kami mulai mengobrol.

Saya tertawa tipis. Peserta lain menimpali, “Kakak, saya juga pikir kakak dari pante.”

Saya menjelaskan bahwa ruang pergaulan saya memang dekat dengan saudara-saudara dari suku Mee, Moni, hingga wilayah pesisir. Bagi saya, pergaulan yang sehat hari ini menentukan siapa kita di masa depan.

Satu per satu mereka menyebutkan nama dan asal kampungnya. Semuanya generasi muda Mee dengan latar belakang beragam. Ada yang masih duduk di SMK Anigou. Dua di antaranya sempat menempuh pendidikan di Jawa Barat sebelum akhirnya kembali ke Papua karena masalah kesehatan dan kini melanjutkan kuliah di USWIM serta STIKES Persada. Sementara pemuda paling pemalu di antara mereka ternyata mahasiswa Teknologi Pertanian USWIM.

Satu di antara tiga perempuan itu mengaku ini kali ketiganya ikut kegiatan YAPKEMA. “Masih penasaran, Kak,” akunya jujur.

Peserta Penasaran, Kelas Dimulai

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIT. Maria Douw selaku moderator membuka acara dengan sapaan hangat dan mengajak seorang peserta memimpin doa.

Di dalam aula Asrama Putri Paniai, 24 peserta yang didominasi perempuan duduk teratur. Di meja, tersaji hidangan lokal: kopi Arabika Meeuwodide, jagung rebus, keladi, ubi, pisang, lengkap dengan sambal khas racikan kami sendiri. Sambil menikmati sajian dan mengisi lembar kuesioner awal, pandangan mereka tetap tertuju lurus ke depan.

Sebagai perwakilan YAPKEMA, saya menyampaikan sambutan singkat mengenai perjalanan program ini sejak 2025 di Nabire—mulai dari sekolah, kampus, hingga komunitas. Untuk tahun 2026, fokus intervensi kami arahkan ke titik-titik kumpul anak muda, khususnya Asrama Mahasiswa Putri Paniai dan Asrama Putra Puncak.

“Tujuan Pelatihan Tematik III ini jelas: agar kita tahu cara mencegah, mengatasi, dan hidup berdampingan dengan HIV/AIDS secara tepat,” tegas saya saat menutup sambutan.

Mengurai Mitos, Menghadap Fakta

Sesi materi dibuka dr. Daniel Wakei dengan pelemparan pemantik: “Menurut kalian, bagaimana HIV/AIDS menular dan lewat media apa saja?”

dr. Daniel Wakei sedang menyampaikan materi Penularan HIV/AIDS (Dok. Yapkema)
dr. Daniel Wakei sedang menyampaikan materi Penularan HIV/AIDS (Dok. Yapkema)

Ruangan sempat hening sebelum tiga peserta mengacungkan tangan. Jawabannya beragam—dan mencerminkan persepsi umum di lapangan. Ada yang menjawab lewat makan bersama dan ciuman, ada yang menyebut hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik, tetapi ada juga yang mengira gigitan nyamuk dan jabat tangan bisa menularkan virus tersebut.

Mendengar itu, dr. Daniel meluruskan secara perlahan. Beliau menjelaskan bahwa HIV hanya menular melalui cairan tubuh tertentu: darah, cairan seksual, dan air susu ibu (ASI), serta penggunaan alat tajam/suntik yang tercemar.

“Berciuman, makan bersama, gigitan nyamuk, atau tidur di ruangan yang sama tidak akan menularkan HIV. Itu keliru,” tegas dr. Daniel.

Ia melanjutkan penjelasannya mengenai langkah pencegahan teknis, termasuk penggunaan kondom yang benar saat berhubungan seksual, pentingnya menahan diri bagi yang belum menikah, serta perlunya pemeriksaan rutin. dr. Daniel juga menyinggung tantangan psikologis anak muda di lapangan: rasa takut dicap buruk atau malu saat mencoba mengakses alat kontrasepsi dan pelayanan kesehatan.

Baca Juga : Pelatihan Tematik di Asrama Puncak, Nabire Berlanjut: Dari Mengenal Alat Reproduksi ke Pencegahan PMS DAN HIV/AIDS

Proses Belajar dan Kesadaran Baru

Dinamika di dalam ruangan mulai terasa hidup. Keempat anak muda yang menyapa saya di awal acara tampak menyimak dengan tekun.

Melalui lembaran kuesioner, Elisabeth Makai—peserta yang sudah berulang kali ikut—menuliskan pengakuannya: “Ada perubahan besar dalam pemahaman saya. Dulu saya pikir HIV menular lewat makanan dan pelukan, dan saya pikir tidak ada obatnya.”

Di sudut lain, Samuel Makapa sibuk mencatat penjelasan dokter. Rasa penasarannya terjawab saat dokter memaparkan bahwa penderita HIV tetap bisa hidup sehat dengan terapi yang tepat. “Saya penasaran dari awal bagaimana orang dengan HIV bisa bertahan. Sekarang saya paham,” tulis Samuel, yang juga menyatakan kesediaannya untuk melakukan tes kesehatan.

Realitas Lapangan dan Tanggung Jawab Bersama

Sesi kedua dibawakan oleh Paula Pakage. Ia membuka materi dengan memutarkan video edukasi, dilanjutkan dengan penayangan visual yang menyentuh: foto orang tua yang berduka di pusara anak mereka.

“Kalian adalah harapan orang tua. Mereka mengirim kalian ke sini untuk sekolah. Jangan sampai orang tua menangis dua kali—karena biaya dan karena kehilangan nyawa kalian,” tutur Paula dengan nada membimbing.

Paula Pakage menyampaikan materi pelatihan pada sesi kedua (Dok. Yapkema)
Paula Pakage menyampaikan materi pelatihan pada sesi kedua (Dok. Yapkema)

Berbekal pengalamannya sebagai relawan HIV/AIDS sejak 2007, Paula memaparkan lonjakan angka kasus serta pola penyebarannya yang menyerupai jaring laba-laba. Ia menyoroti pentingnya edukasi aktif di tingkat akar rumput ketimbang sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Antusiasme peserta memuncak saat sesi tanya jawab dibuka. Natalia Tigi mengacungkan tangan, menanyakan detail cairan tubuh penyebar virus serta langkah perlindungan diri. dr. Daniel merespons dengan membedakan secara terperinci mana cairan yang berisiko dan menekankan pentingnya komitmen pada diri sendiri.

Sementara itu, Pince Madai menanyakan nasib bayi yang dikandung oleh ibu terinfeksi HIV. dr. Daniel menjelaskan bahwa dengan intervensi medis yang cepat dan konsumsi obat Antiretroviral (ARV) secara teratur, risiko penularan dari ibu ke anak dapat ditekan sehingga bayi bisa lahir sehat.

Paula menambahkan penekanan dari sisi sosial: “Kalau ada keluarga yang terinfeksi, tolong dan dampingi. Jangan didiskriminasi atau dijauhi. Dorong mereka minum obat ARV secara rutin agar bisa beraktivitas kembali dengan sehat.”

Pelatihan Tematik III HIV/AIDS
Sesi foto bersama peserta pelatihan Tematik III setelah selesai acara (Dok. Yapkema)

Pesan untuk Dibawa Pulang

Menjelang akhir sesi, dr. Daniel kembali mengingatkan pentingnya keberanian untuk memeriksakan diri secara dini demi memutus rantai penularan.

Sebagai penutup, Paula menyampaikan pesan yang membekas bagi seluruh peserta di ruangan:

“Sesuatu yang baik jangan disimpan sendiri, bagikan kepada teman dan keluarga. Berbagi informasi untuk menyelamatkan jiwa adalah pelayanan yang mulia.”(*)

Oleh : Mis Murib/Yapkema

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *