“Dulu, alam Meuwodide masih sangat asri; hutan terjaga dan sumber air belum terkontaminasi. Namun sekarang, situasi telah berubah total. Air minum yang ‘terlihat jernih’ bisa menjadi ancaman kimiawi dan biologis.”
NABIRE, Yapkema Papua – Kualitas kesehatan masyarakat pertama-tama ditentukan oleh asupan makanan dan minuman ke dalam tubuhnya. Dalam hal asupan minuman di wilayah Meuwodide kini berada di bawah bayang-bayang ancaman serius. Temuan Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua mengungkapkan sebuah realitas pahit: mayoritas masyarakat di Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai masih mengandalkan air mentah sebagai sumber konsumsi utama, sebuah kebiasaan yang menyimpan risiko kesehatan jangka panjang yang fatal.
Potret Kerentanan di Tiga Kabupaten
Berdasarkan survei yang dilakukan YAPKEMA pada medio Mei hingga Juni 2025, ditemukan bahwa hampir 7 dari 10 warga di Kabupaten Dogiyai, Deiyai dan Paniai, masih mengonsumsi air tanpa melalui proses pengolahan atau perebusan.
Data spesifik menunjukkan kondisi yang memprihatinkan:
- Di Kabupaten Dogiyai, sebanyak 74% responden masih mengonsumsi air mentah.
- Di Kabupaten Paniai, angka ini menyentuh 77%.
- Di Kabupaten Deiyai, tercatat sekitar 69% warga masih melakukan pola konsumsi serupa.
Manager Kesehatan YAPKEMA Papua, Agustina Doo, menegaskan bahwa air yang bersumber dari hujan, pipa, maupun mata air seringkali mengandung mikroorganisme patogen dan parasit. “Konsumsi air yang tidak diolah dapat memicu gangguan pencernaan akut hingga infeksi parasit yang merusak sistem imun. Dalam jangka panjang, ini adalah beban berat bagi ginjal dan hati,” jelasnya.
Paradoks Masa Lalu dan Realitas Perubahan Iklim
Direktur YAPKEMA Papua, Hanok Herison Pigai, memberikan analisis lebih dalam mengenai akar permasalahan ini. Menurutnya, terdapat persepsi keliru di masyarakat yang membandingkan kondisi alam saat ini dengan masa lalu.
“Dulu, alam Meuwodide masih sangat asri; hutan terjaga dan sumber air belum terkontaminasi. Namun sekarang, situasi telah berubah total,” ungkap Pigai. Perubahan iklim, penurunan kualitas udara, hingga penggunaan atap seng yang berkarat sebagai media penampung air hujan telah mengubah air yang ‘terlihat jernih’ menjadi ancaman kimiawi dan biologis.
Ia juga mengingatkan kembali pada memori kelam wilayah tersebut, seperti Tragedi Kolera 2008 di Dogiyai yang pernah merenggut 156 nyawa, serta wabah penyakit di Deiyai dan Paniai pada 2017. Semua peristiwa itu memiliki satu benang merah: rendahnya higienitas air konsumsi.
Baca Juga : Dari Ubi ke Mie Instan: Krisis Identitas di Tanah Meeuwodidee
Sinergi Lintas Sektor: Dari Edukasi hingga Infrastruktur
Menyikapi kondisi ini, YAPKEMA mendorong adanya pergeseran paradigma dari upaya kuratif (pengobatan) menuju preventif (pencegahan). Masalah air minum bukan hanya urusan teknis, melainkan masalah perilaku yang memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Peran Pemerintah dibutuhkan untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur air bersih, sumur bor, serta sistem filtrasi yang terstandarisasi. Lebih dari itu, pemerintah harus lebih kreatif dalam kampanye kesehatan publik melalui konten digital dan multimedia yang kontekstual.
Selain itu gereja dan lembaga keagamaan juga memiliki peran penting karena posisi strategisnya untuk menyuarakan bahwa menjaga kesehatan fisik melalui pola hidup bersih adalah bagian dari tanggung jawab iman.
Perubahan ini harus dimulai dari dapur setiap rumah tangga. Membiasakan diri menyaring dan merebus air hingga mendidih adalah langkah paling sederhana namun paling efektif untuk menyelamatkan generasi mendatang.
Menuju Perubahan Perilaku
Kondisi lapangan saat ini masih menunjukkan tantangan besar, mulai dari keterbatasan akses MCK hingga sanitasi lingkungan yang buruk akibat ternak yang dilepas liar. Namun, melalui pendekatan yang membumi—seperti promosi kesehatan berbasis video dan poster yang mudah dipahami—YAPKEMA optimis kesadaran kolektif dapat dibangun.
“Harapan kami, derajat kesehatan di wilayah Meuwodide meningkat bukan karena semakin banyak obat yang tersedia, melainkan karena masyarakat telah berdaya dan sadar untuk hidup lebih sehat,” tutup Hanok.(*)
Oleh: Tim Media YAPKEMA Papua, berdasarkan laporan dari Agustina Doo & Hanok Herison Pigai
