“Ada rasa bahwa kami tidak sendiri, ada sesuatu yang mengikat kami, dan Muspas Mee adalah momen untuk kami rekatkan ikatan itu.”
Sejak jauh hari sebelum kegiatan itu dimulai, saya sudah merasakan sentuhan rindu yang sulit saya jelaskan. Bagi saya, ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah momentum langka, ruang perjumpaan yang krusial. Sebuah peristiwa yang seharusnya disempatkan oleh setiap manusia MEE dan kerabat suku di sekitarnya, seperti Moni, Wolani, Ause, dan lainnya, karena di sanalah kami ‘kembali menyentuh akar diri kami’ sendiri.
Kegiatan yang saya rindukan itu adalah Musyawarah Pastoral Mee (Muspas-Mee) ke-VIII di Paroki Kristus Jaya Komopa, dalam wilayah Keuskupan Timika. Muspas Mee digelar pada tanggal 1–8 Februari 2026 lalu, dan saya menjadi bagian dari sekitar 10.600 lebih peserta yang menghadirinya.
Menyusup rasa bangga sekaligus terharu karena peserta bukan hanya dari suku Mee, tetapi juga saudara-saudari dari suku Migani, khususnya dari Dekenat Moni–Puncak Jaya serta Koordinator Wilayah Nabire dan Timika. Perjumpaan itu menghadirkan rasa persaudaraan yang begitu kuat. Kami datang dengan latar yang beragam, tetapi duduk bersama sebagai sesama peserta Muspas.
Muspas-Mee adalah agenda tiga tahunan yang telah berjalan sejak dua dekade lebih. Muspas I (2005) digelar di Paroki St. Yusuf Enagotadi; Muspas II (2008) digelar di Paroki Yohanes Pemandi Wakeitei; Muspas III (2011) digelar di Paroki Segala Orang Kudus Diyai; Muspas IV (2014) digelar di Paroki St. Fransiskus Obano; Muspas V (2017) digelar di Paroki Salib Suci Madi; Muspas VI (2020) digelar di Paroki Damabagata; Muspas VII (2023) digelar di Epouto; dan kini Muspas VIII (2026) kembali mempertemukan umat di Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah.
Baca Juga : Sudahkah Kita Menjadi Tuan Rumah di Tanah Sendiri? Sebuah Refleksi Pribadi Atas Muspas Mee VIII
Sejak gagasan awalnya muncul di Auyatadi, Obano, pada 2004, hingga pelaksanaannya setahun kemudian, delapan kali Muspas telah melahirkan berbagai rekomendasi strategis bagi kehidupan iman, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat Mee. Dan Muspas ke-VIII ini terasa istimewa karena menjadi yang terakhir dalam rangkaian panjang tersebut.
Iyaiya Akate (Saling Menghidupkan)
“Hak hidup” menjadi tema besar dalam Muspas-Mee terakhir di Paroki Komopa. Dalam bahasa Mee, tema itu disebut “iyaiya akate” (saling menguatkan, menghidupkan). Bukan sekadar istilah biasa, tapi seruan yang terasa sangat dekat dengan kenyataan hidup kami hari ini.
Pada Muspas-Mee ke-VIII itu, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika, Saul Wanimbo, diundang sebagai pembicara utama. Tema yang mengupas “hak hidup” bukan hanya dari sisi iman, tetapi juga secara konseptual dan hukum: dari hukum internasional, hukum nasional, sampai ajaran sosial Gereja seperti Laudato Si’ dan dokumen-dokumen penting lainnya. Semua itu tidak dibicarakan melayang di udara. Justru ditarik turun ke tanah, ke realitas kehidupan manusia dan tanah Papua hari ini.
SKP menegaskan bahwa hak hidup bukan hanya soal manusia tetap bernapas. Hak hidup juga menyangkut tanah, hutan, air, dan seluruh ruang yang menopang kehidupan. Ketika ruang hidup dirampas oleh kepentingan ekonomi-politik yang dikendalikan oligarki dan kapitalisme, maka yang hancur bukan hanya alam, tetapi juga martabat manusia. Papua dijadikan contoh konkret bagaimana hak hidup bisa terkikis (dikikis) perlahan-lahan.
Baku Dapat dan Saling Menguatkan
ada sesuatu yang mengikat kami dan ini momen untuk kami rekatkan ikatan itu.
Yang berbicara bukan hanya narasumber tamu. Umat dari paroki, dekenat, sampai koordinator wilayah ikut berbagi. Mereka menceritakan hasil perjuangan panjang sejak Muspas-Mee pertama sampai yang terakhir. Cerita-cerita itu bukan teori di awan-awan di atas puncak gunung Deiyai, tetapi itu hasil kerja nyata.
Dari bidang ekonomi, muncul kisah tentang Owaadaa, yaitu kerja ekonomi berbasis kekuatan sendiri dengan mengolah potensi yang ada di kita. Ada yang sudah mulai usaha kecil (edepede/bisnis), ada yang sedang berjalan, ada yang masih dalam proses. “Memang belum besar, tapi itu langkah mandiri. Kami belajar berdiri di atas kaki sendiri,” demikian yang terungkap, saya ingat.
Dari bidang kesehatan, ada cerita tentang “apotek hidup.” Tanaman-tanaman obat dirawat, pengetahuan lokal coba dihidupkan kembali. Bahkan ada tenaga non-medis yang dengan pengalaman dan ketekunan mampu membantu penyembuhan, termasuk masalah tulang. Semua itu lahir dari proses panjang. Bukan tiba-tiba.
Di bidang pendidikan, kisahnya juga membanggakan. Sekolah Tinggi Katolik Touye Papa, misalnya, adalah buah dari Muspas-Mee ke-4 di Diyai. Perguruan tinggi itu sudah melahirkan sarjana-sarjana dari Suku Mee dan juga dari suku-suku lain yang berkerabat. Selain pendidikan formal, banyak juga keluarga mulai menguatkan pendidikan nonformal dan informal di rumah. Mengajarkan nilai, adat, dan iman sejak dini.
Saya paham, bahwa semua cerita itu walaupun di tengah berbagai badai yang datang melalui arus, tetapi tetap terasa hidup karena lahir dari tungku api keluarga. Dari rahim Mama bumi yang menumbuhkan kehidupan. Untuk diri sendiri, komunitas basis, dan gereja secara luas. Bukan sekadar imajinasi, tetapi nyata dan bisa disentuh.
Kembali ke “Ani” (Saya)
Ada satu pesan yang sangat kuat dan terus diulang dalam momen-momen penting kegiatan itu yaitu “kembali ke Ani.” Dalam bahasa Mee, Ani berarti “saya”. Tapi di Muspas-Mee itu, “Ani” bukan sekadar kata ganti orang. Ia menjadi panggilan. Saya adalah subjek sekaligus objek dari seluruh pembahasan. Tidak ada jarak antara saya dan dunia yang saya hidupi. Kembali ke Ani berarti kembali menyadari siapa saya sebagai manusia Mee.
Ada dua pesan penting di dalamnya. Pertama, kembali ke Ani berarti menggali kembali sejarah leluhur. Menggumuli warisan yang sudah dititipkan turun-temurun sebagai dasar (Kabo) keberlangsungan hidup. Warisan itu bukan sekadar adat lama, tetapi justru menjadi fondasi keselamatan hidup. Di bumi dan setelah kehidupan di bumi.
Pesan ini seperti panggilan pulang. Memanggil setiap orang Mee yang mungkin sedang tersesat dalam arus zaman, merasa asing dengan jati dirinya sendiri. Lupa bahwa ia adalah aniko (saya perempuan) atau aniki (saya laki-laki) Mee, yang punya akar kuat dalam sejarah. Leluhur kami pernah hidup dalam bingkai kehidupan yang disebut: Mobu (kenyang), Bida (kuat dan sehat), dan Petii (bebas dari jeratan atau kurungan), Ayii (keselamatan kekal). Itu semua bukan mitos. Itu pengalaman hidup nyata sebelum dunia luar datang membawa perubahan besar.
Kedua, kembali ke Ani berarti “mendagingkan” masa lalu itu dalam kehidupan hari ini. Bukan sekadar nostalgia, tapi praktik nyata. Caranya? Dengan kembali setia menjalankan kehidupan seperti yang diwariskan leluhur: Ooda–Owadaa (membangun pagar dan lingkaran rumah), Emawa (rumah khas Mee), Taii (kebun), Piya (kayu), Edepede (bisnis), serta pendidikan dan kesehatan berbasis Owadaa (apotek hidup). Semua itulah yang membuat bumi terus berputar dan kehidupan berlanjut dengan tetap mengakar pada budaya.
Akhirnya, saya pergi ikut kegiatan Muspas-Mee dengan rasa rindu, pulang dengan kesadaran bahwa Hak Hidup dimulai dari Ani. Saya sendiri. Dari kesadaran siapa saya, dari bagaimana saya merawat tanah, keluarga, dan komunitas. Kalau saya kuat, komunitas kuat. Kalau komunitas kuat, hak hidup tidak akan muda dirampas.
Oleh : Wegobi Marselino Pigai/Yapkema
