Saya sudah masak keripik dan sekarang saya sedang jual di Pasar Enarotali. Nanti bisa datang foto ka!” Kalimat sederhana dari telepon pagi Mama Helena Tekege ini menyiratkan kebanggaan yang luar biasa. Ia tak lagi sekadar menjual hasil kebun mentah, melainkan sukses mengolahnya.
Dulu ubi (nota) hanya dijual mentah di pasar. Melalui pendampingan Yapkema, kini Mama-mama petani di wilayah Meeuwodide berhasil mengolah hasil kebunnya menjadi donat dan keripik kemasan yang siap bersaing di pasar.
Kisah pendampingan Yapkema bersama Mama-mama Papua di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai mengolah ubi dan hasil kebun menjadi aneka makanan ringan bernilai jual.
Seorang perempuan paruh baya berdiri tegak di acara wisuda, bukan membawa bunga, melainkan ‘Ebai” (jaring ikan tradisional). Bagi Mama ini, Ebai bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu bagaimana ia membiayai anaknya dari SD hingga sarjana tanpa bantuan beasiswa, hanya dari hasil danau. Ini adalah kisah tentang cinta keras kepala seorang ibu dan kritik bagi kita yang sering lupa kacang akan kulitnya.