“Saya sudah masak keripik dan sekarang saya sedang jual di Pasar Enarotali. Nanti bisa datang foto ka!” ujar Mama Helena kepada saya sambil meminta kawan staf lapangan Yapkema di Paniai, Yoni Degei untuk mengunjunginya.”
Senin lalu, 4 Mei 2026 sekitar pukul 8 pagi waktu Papua, saya menerima telpon dari nomor baru yang tidak ada di daftar kontak. Telpon saya angkat. Mula-mula saya diam untuk memahami suara dari nomor telepon itu. Sejenak bisu. Lalu muncul suara seorang perempuan yang saya kira dari vibrasi suaranya ada di usia yang tidak muda lagi. Suara itu bernada yang rasanya tidak asing di telinga saya. Tapi siapa persisnya, saya belum ingat.
Saya menjawab suara itu, “Halo?”. Dia menjawab, “Wae ma anino,” kata Mama itu yang artinya “ini saya!”. Sontak saya teringat, Mama itu ternyata Helena Tekege salah satu peserta dampingan ekonomi owadaa Yapkema. Entah kenapa pagi-pagi itu dia menelpon. Spontan kalimat bertanya dalam benak saya.
“Sedang dimana sekarang?” Dia bertanya. “Saya di Nabire,” jawa saya. Mama Helena lanjut menceritakan aktivitasnya saat ini. “Saya sudah masak keripik dan sekarang saya sedang jual di Pasar Enarotali. Nanti bisa datang foto ka!” ujar Mama Helena kepada saya sambil meminta kawan staf lapangan Yapkema di Paniai, Yoni Degei untuk mengunjunginya. “Baik Mama saya akan sampaikan sekarang juga,” jawab saya.
Mama Helena sudah terbiasa memproduksi kue. Awalnya ia belum berpengalaman memproduksi keripik dan kue donat dari bahan baku nota (ubi jalar). Dia lebih sering berjualan roti. Baginya berjualan keripik ini adalah cerita baru yang terukir dalam kegiatan berjualan produk-produk kue di pasar itu. Dan cerita baru ini ingin dia bagikan pada teman-teman.
Helena Tekege adalah seorang Mama yang sudah hidup menyendiri. Dia bukan berasal dari seputaran lingkungan kota Enarotali atau Madi yang mungkin secara jarak bisa ditempuh dengan segera. Helena adalah salah satu peserta yang menelusuri jalan panjang untuk ikut berpartisipasi dalam pelatihan. Biasanya ia memulai dan melewati perjalanan melintasi bukit Kobouye Dimi, melintasi Sungai Yawei untuk membawa jualan hasil keringat di tungku apinya.
Baca Juga : Donat dan Keripik Nota Mama-Mama Meeuwodide
Kejadian seperti ini, terjadi juga di wilayah dampingan kami di Deiyai. Kawan staf lapangan Yapkema di Deiyai kerapkali menceritakan bagaimana Mama-mama mengelola dan berjualan dihadapan kami. Mereka mengajak kami untuk menyaksikan dan mengabadikan momen itu agar menjadi memori peristiwa di dalam dokumentasi foto-foto kami. Dari koleksi foto-foto itu memperlihatkan ada aktivitas memasak di lingkaran tungku apinya.
Selain Mama-mama yang menghubungi kami secara langsung, kerap kali staf lapangan rutin mengunjungi dan mendampingi kegiatan ekonomi Owadaa. Hasil produksi Mama-mama ini lebih banyak dijual dipinggiran jalan Trans Nabire-Ilaga. Mereka menjual tidak saja untuk menjawab kebutuhan konsumen di lingkungan sekitarnya tapi juga untuk masyarakat lain yang berlalu lalang di jalan lintas.
Terakhir dalam perjalanan di lintasan itu, saya bersama staf lapangan Deiyai menjumpai dua Mama yang menjual olahan hasil kebun berupa keripik nota dan donat nota. Salah satunya Mama Marike Madai, ia menjual keripik nota dan Mama Yeimo menjual donat nota. Sebelum senja hari donat Mama Madai dan keripik Mama Yeimo sudah habis terjual.
Ini adalah bagian dari proses yang bersama-sama kami harapkan dapat bertumbuh kembang menjadi potret ekonomi yang berwarna di sepanjang perlintasan Nabire-Ilaga. Bagi kami ini bukan sekedar dokumentasi, tetapi tentang konstruksi cerita unik yang menjadi milik Mama-mama sendiri. Ada pesan cerita dibalik upaya dokumentasi ini, bahwa kita bisa menciptakan peluang penghasilan dari potensi-potensi yang kita punya; bahwa ada panggilan kembali dan hidup dari hasil olah tanah sendiri.
Di sisi lainnya dokumentasi juga mengandung bukti eksistensi keberadaan dan perjuangan ekonomi Mama-mama yang sederhana dan nyaris terlupakan dari sentuhan program dan kebijakan yang mengangkat dan mendorong mereka. Kami berharap dokumentasi bisa menjadi alat akselerasi informasi yang menjembatani pemerintah dan rakyat.
Bagi kami upaya Mama Tekege, Madai dan Yeimo mesti diapresiasi. Bahwa dalam perubahan dan perkembangan dunia yang kerapkali menentang keberadaan, menggilas keunikan, masih ada yang memperlihatkan dirinya apa adanya, berupaya bertahan dan menghadapi. Tidak terbawa dalam arus itu tetapi setidaknya ada tangan yang masih bercokol dan menampilkan kehidupan dari mengolah tanah dan hasilnya dikembangkan menjadi produk lainnya.
Apreasiasi yang baik bukan sekedar narasi atau wacana. Ia harus bisa terpantau, terlihat dan mendapatkan sentuhan berupa fasilitas atau dukungan lainnya yang berpotensi mendorong dan mengembangkan kegiatan ekonomi Owadaa yang sedang dikerjakannya. Ini adalah harapan yang masih menggantung, menantikan sentuhan niat baik pemerintah setempat.
Oleh : Pigai Wegobi
