Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Beranda>Cerita Dari Lapangan>Dari Kebun Menjadi Makanan Ringan, Mama-mama Dampingan Yapkema Belajar Berproses Agar Ekonomi Papua Lebih Berwarna

Dari Kebun Menjadi Makanan Ringan, Mama-mama Dampingan Yapkema Belajar Berproses Agar Ekonomi Papua Lebih Berwarna

Pelatihan Mama-Mama dampingan
Foto bersama Mama-mama peserta pelatihan (Dok. Yapkema)

“Potensi-potensi yang dipunyai Mama-mama harus dikelola sehingga tetap ada kehidupan yang bertumbuh menghadapi perubahan dan perkembangan dunia. Mulai dari satu kebun ke kebun, dari satu pekarangan rumah ke lainnya.

Hari itu Rabu, 18 Maret 2026, saya kembali mengunjungi Mama-mama yang didampingi oleh Yapkema mengembangkan produk makanan ringan dari hasil kebunnya. Yapkema telah memberikan pelatihan pembuatan makanan ringan seperti donat nota (ubi), bakwan sayur, bolu kukus pisang, pisang coklat, dan bola-bola nota (ubi) kukus/goreng selama dua tahun terakhir.

Mama-mama dampingan kami ini berjualan di Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Mereka sebelumnya tidak pernah mencoba berjualan makanan ringan dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di kebunnya sendiri. Kebun-kebun mereka produktif dan hasil buminya digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan dijual. Belum pernah mereka menganekaragamkan sebagian produk hasil buminya menjadi makanan ringan. Sehingga pelatihan yang telah kami berikan dan aktivitas berjualan yang mereka lakukan selama ini telah memberikan nilai tambah bagi Mama-mama.

Tantangan yang dihadapi Mama-mama dalam membuat dan berjualan makanan ringan hingga berhadapan dengan persaingan di dunia konsumen bukanlah perkara yang sederhana. Tapi perkara itu tidak lantas membuat hati kecil. Ekonomi berjualan Mama-mama Papua tidak selalu cukup diukur lewat omzet. Bagi kami, mengelola kesadaran untuk tetap eksis, melihat apa yang ada dalam dirinya, lingkungan rumahnya dan warisan budaya kerja leluhurnya sebagai kekuatan. Itu semua kami lihat sebagai potensi yang dapat dikelola melalui model ekonomi Owadaa untuk ‘menghidupkan’ kehidupan di tengah perubahan dan perkembangan dunia kekinian.

Mendampingi sebagai sebuah proses saling menghidupan di tengah panas dunia

Setiap kali saya melakukan kunjungan, bertemu, bercakap-cakap dan menekuni aktivitas mereka, ada sesuatu yang selalu menggetarkan hati, entahlah apa sebutannya, tapi kobaran dalam diri saya begitu terasa. Kobaran itu muncul setiap cerita yang mereka sampaikan sebagai respon atas kedatangan saya. Isinya tentang kegiatan usaha kue olahan hasil kebun yang selama ini sudah dilakukan dan mendapatkan hasil.

Salah satu peserta pelatihan dengan produk hasil olahannya (Dok. Yapkema)
Salah satu peserta pelatihan dengan produk hasil olahannya (Dok. Yapkema)

Dari cerita ke cerita itulah lapis-lapis kesimpulan membentuk di pikiran saya. Lapisan kesimpulan pertama adalah waktu kerja untuk memproduksi makanan ringan bukanlah urusan yang gampang, karena Mama-mama juga yang mengerjakan kebun dan sudah mendapatkan hasil dari menjual langsung hasil buminya.

Lapisan kesimpulan kedua adalah kualitas produk, harga dan keuntungan yang bisa didapatkan Mama-mama. Selama ini produk yang lebih sering mereka buat dan jual adalah kue donat nota dan sesekali bakwan. Donat banyak peminatnya. Mama-mama menjualnya dengan harga satuan seribu rupiah saja. Biasanya bila waktu ada, baik untuk berproduksi maupun untuk duduk berjualan, mereka bisa menjual donat antara 100 hingga 150 buah dan mengantongi hasil penjualan sekitar 100.000 sampai 150.000.

Baca Juga : Mama-Mama Kelola Kebun: Tradisi Yang Melekat Hidup

Angka itu memang tidak besar, apalagi kami belum menghitung berapa modal yang dihabiskan setidaknya untuk membeli terigu dan minyak goreng. Namun perubahan yang ditargetkan pada periode ini adalah setidaknya Mama-mama sudah memahami dan bisa mengelola potensi ekonomi baru dengan berjualan makanan ringan. Proses selanjutnya adalah meningkatkan kualitas produknya. Tentu harus disesuaikan dengan pasar yang ada saat ini terlebih dahulu. Misalnya, donat nota polos yang dijual Mama-mama selalu habis, artinya pasar setempat menyukainya. Donat yang diberikan toping macam-macam belum tentu diminati di pasar itu.

Jadi kami menyesuaikan dengan pembawaan pasar yang ada, disesuaikan juga dengan kapasitas dan kemauan Mama-mama dampingan. Untuk itulah kami terus saling menumbuhkembangkan, dengan mempelajari hal-hal baru dalam tantangan pengembangan ekonomi mereka sekaligus mendapatkan pengetahuan baru untuk mewarnai kegiatan ekonominya. 

Minggu ini kami akan melakukan pelatihan lanjutan khusus untuk memperbaiki kualitas produk dan pelatihan satu produk makanan ringan yang lain seperti keripik. Semuanya masih berbahan baku nota dari kebun mereka sendiri.

Mama-mama menunjukkan hasil olahan yang dibuat   saat pelatihan ekonomi (Dok. Yapkema)
Mama-mama menunjukkan hasil olahan yang dibuat saat pelatihan ekonomi (Dok. Yapkema)

*

Tak terasa sinar matahari sudah tembus, belum ada awan di atas kepala. Panasnya membakar namun langkah kaki harus terus dilanjutkan. Meski begitu terik, masih ada desiran angin yang bukan sekedar hamparan butiran-butiran oksigen nihil, perlahan merayap, masih menyapa dan menyejukkan setiap derap langkah yang berlalu. 

Dalam langkah kaki mengunjungi dan mengudang Mama-mama untuk hadir dalam pelatihan lanjutan di minggu ini saya dapat rasakan nafas (kehidupan) yang masih bersemayam dalam bungkusan dunia yang meminggirkan kami ini. Ia berusaha menyapa, dengan bahasanya, bahwa sisa-sisa kehidupan leluhur masih ada. Disini, kami hanyalah menantikan cinta yang besar untuk membongkar kepanasan yang sedang memenjarakan, yang setiap waktu berjalan terus mengiringi membakar keberadaannya. 

Dalam situasi genting itu, dia tidak menantikan manusia dari seberang dunia datang menyelamatkan. Kami memulai saja dari apa yang ada, menyentuh dan mengumpulkannya. Meski bukan pekerjaan luar biasa layaknya pemerintah yang serba berkepunyaan, Yapkema Papua tetap melanjutkan insiatif ini dengan sabar agar setidaknya bisa tumbuh benih kehidupan yang akan dapat bertumbuh kembang. 

Untuk itulah, potensi-potensi yang dipunyai Mama-mama harus dikelola sehingga tetap ada kehidupan yang bertumbuh menghadapi perubahan dan perkembangan dunia. Mulai dari satu kebun ke kebun, dari satu pekarangan rumah ke lainnya. Para penggarapnya, Mama-mama, kemudian dikumpulkan dan menyatu dalam pengetahuan, konsep, dan kesadaran untuk merawat benih kehidupan dari tangan mereka sendiri.(*)

Oleh : Pigai Wegobi/Yapkema

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *